Ruang Kelas Itu Bernama Keluarga

Editor: Ivan Aditya

PERSERIKATAN Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Sustainable Development Goals (SDGs) mengajak tiap negara untuk menjamin pendidikan yang inklusif, berkeadilan, dan mendorong kesempatan belajar seumur hidup bagi semua orang. SDGs merupakan program pembangunan berkelanjutan yang memuat 17 tujuan dan 169 target dengan tenggat waktu terukur. Program dunia ini disepakati 193 negara dan ditetapkan pada 21 Oktober 2015 menggantikan Millenium Development Goals (MDGs) sebagai tujuan bersama sampai tahun 2030. Cita-cita mewujudkan habitus tersebut tidak bisa lepas dari cara pendekatan terhadap keluarga, pendidikan, dan kesejahteraan.

Keluarga dan Pendidikan

Miller dalam bukunya For Your Own Good: Hidden Cruelty in Child-Rearing and Roots of Violence menuliskan bahwa kekejaman Adolf Hitler, megalomaniak pembunuh 35 juta orang, berakar dari pola asuh keluarga. Masa kecilnya terbiasa dengan siksaan dan cambukan ikat pinggang. Dia bercerita dengan bangga kepada ibunya ketika mampu menahan tangis setelah menerima 30 cambukan sang ayah.

Memang banyak penelitian membuktikan bahwa perkembangan fisik, sosial, kognitif, dan emosial anak secara pesat terjadi sampai usia sekitar 8 tahun dan akan menjadi dasar perkembangan diri sepanjang hayat. Pada fase inilah stimulasi dan interaksi awal anak dengan keluarga sangat penting. Kohesivitas, stabilitas, dan suportif keluarga akan menjamin kesejahteraan emosional anak yang berdampak baik pada tumbuh kembangnya.

Orangtua selayaknya menyadari bahwa merekalah pendidik pertama dan utama bagi anak. Sekolah hanyalah rumah keduanya. Kesadaran ini memunculkan tuntutan bahwa pola pengasuhan dalam keluarga menjadi sangat penting. Masih ada kakek, nenek, dan saudara, yang selama ini sebagai generasi terlewatkan, turut mewarnai pola asuh keluarga. Apalagi jika orangtua mengalami migrasi eksternal karena pekerjaan yang berakibat pada pengalihan asuh kepada kakek dan nenek. Dalam situasi ini ragam tingkat pendidikan dan lompatan generasi dalam keluarga akan memengaruhi pola asuh sehingga pengembangan kompetensi asuh harus selalu dilakukan. Sekolah, pemerintah, dan lembaga/ perusahaan tempat kerja orangtua bisa memfasilitasi kegiatan tersebut.

Lembaga tempat kerja bisa mengambil peran lebih dengan mendorong tanggung jawabnya guna membangun lingkungan kerja yang ramah keluarga. Perhatian terhadap jaminan kesejahteraan keluarga, waktu kerja yang terukur, libur pegawai tanpa diganggu acara lembaga, dan fasilitas kegiatan bersama keluarga menjadi sarana keberpihakan lembaga terhadap pegawainya. Manajemen lembaga dapat diatur agar terjadi interaksi positif antara pegawai remaja dengan pegawai yang telah lama maupun baru membangun keluarga. Dengan tercukupinya ranah kasih sayang dalam keluarga niscaya akan mampu meningkatkan produktivitas kerja.

Kesejahteraan Penelitian

Leoschut terhadap 4.409 orang berusia 12-22 tahun yang berasal dari keluarga miskin di sembilan provinsi di Afrika Selatan menunjukkan bahwa mereka cenderung merasa tidak percaya diri saat pergi ke sekolah. Akibatnya mereka enggan untuk mengungkapkan pendapat di kelas, kurang memiliki motivasi belajar, dan kesulitan menentukan tujuan hidup. Hasil tersebut dikuatkan penelitian Humble dan Dixon (2017) terhadap 1857 anak dari keluarga miskin yang tinggal di Kinondoni, Tanzania. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa prestasi anak sangat tergantung kualitas kehidupan rumahtangga dan waktu yang dihabiskan orangtua dengan anak-anak mereka.

Ada tiga hal yang menyebabkan kemiskinan berpengaruh terhadap perkembangan anak, yaitu kurangnya sumber daya finansial yang mendukung kebutuhan anak, orangtua lebih mengutamakan menangani masalah kelangsungan hidup dasar sehari-hari, dan kurangnya waktu untuk mendampingi belajar anak. Kemiskinan berpengaruh pada pola asuh keluarga, motivasi, dan pendidikan anak. Berbagai program pengentasan kemiskinan dari pemerintah sudah baik. Pemerintah bisa menyempurnakannya dengan menggandeng dan merumuskan pola asuh sekolah.

Uang memang diperlukan, tetapi anak-anak mereka juga perlu didukung untuk menumbuhkan motivasi dan percaya diri yang selama ini terbelenggu. Guru berkesempatan membantu murid dengan mengubah cara pandang yang sering mendemotivasi melalui stigma pasti tidak mampu, pasti malas, dan pasti nakal kepada mereka. Melalui rasa percaya diri yang kuat, mereka akan mampu melepaskan diri dari keterkungkungan budaya kemiskinan keluarga.

(R Arifin Nugroho SSi MPd. Guru SMA Kolese De Britto Yogyakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Selasa 6 Juni 2017)

BERITA REKOMENDASI