Salam Literasi

Editor: Ivan Aditya

DI INDONESIA, bulan Oktober identik dengan bulan bahasa dan sastra. Meski akhir-akhir ini bulan bahasa dan sastra semakin berkurang gaungnya. Meski pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sedang menggencarkan gerakan budaya literasi. Perlu sinergi bulan bahasa dan sastra dengan gerakan budaya literasi.

Salah satu keragaman etnik dan budaya Indonesia ialah bahasa dan sastra. Keragaman bahasa dan sastra menjadi kekayaan yang tidak ternilai harganya. Data Badan Pusat Statistik (2010), terdapat 1.340 suku bangsa dengan 1.211 bahasa. Bertolak dari keragaman itu, Bangsa Indonesia menjadi lebih paham akan arti persatuan. Meskipun beragam latar bahasanya, Bangsa Indonesia terhubung melalui bahasa persatuan, yaitu Bahasa Indonesia.

Pada konteks yang berbeda, kemajuan suatu bangsa dapat diukur dari kemampuan setiap warganya dalam hal literasi. Dalam pengertian sederhana literasi adalah keberaksaraan, yaitu kemampuan menulis dan membaca. Dalam hal inilah peran dan eksistensi bahasa dan sastra diperlukan. Literasi dimaksudkan untuk melakukan kebiasaan berfikir disertai membaca, menulis, dan menghasilkan karya kreatif.

Peringkat Indeks

Pemerintah menggerakkan budaya literasi bukan tanpa alasan. Menurut UNESCO, ratarata penduduk Indonesia hanya membaca kurang dari 4 judul buku setahun dan masih jauh dari standar yang ditetapkan yaitu 7 judul buku. Peringkat indeks membaca Indonesia juga masih sangat rendah, berada di peringkat 60 dari 65 negara.

Indonesia memiliki sejarah bagus dalam budaya literasi. Dalam catatan Taufiq Ismail, pada zaman Hindia Belanda sastra diajarkan di sekolah setara dengan negara-negara di Eropa dan Amerika. Selama tiga tahun belajar, tiap murid AMS (setara SMA) wajib membaca 25 judul buku sastra. Jumlah itu tidak lebih buruk dengan di Belanda, siswanya diwajibkan membaca 30 judul buku sastra, Amerika 30 buku, dan Jepang 15 buku. Selain itu, tiap minggu para siswa diwajibkan menulis artikel. Hasilnya, lahir satu lapisan generasi yang luar biasa. Mereka adalah Soekarno, Mohammad Hatta, Ki Hadjar Dewantara, Mohammad Natsir, Safruddin Prawiranegara, Ali Sastroamidjojo, Soemitro Djojohadikusumo, Adam Malik, dan seterusnya.

Lantas, sekarang berapa buku yang dibaca siswa SMA selama tiga tahun? Sekalipun misalnya ada, mereka sebatas membaca buku ringkasan, bukan buku sastra. Misalnya ‘Salah Asuhan’, yang ditanya dalam ujian nanti siapa pengarangnya, siapa tokoh utamanya. Itu saja yang dihafal siswa.

Demikian juga soal mengarang. Umumnya, siswa hanya diwajibkan membuat satu karangan saat ujian kenaikan kelas. Bahkan ketika bentuk ujian hanya pilihan ganda, maka tidak ada lagi mengarang. Hilangnya budaya mengarang berarti hilang pula sisi literasi kreatif. Seseorang cakap mengarang karena banyak membaca. Semakin banyak yang dibaca, semakin baik karangan yang dihasilkannya.

Perlu Ditumbuhkan

Budaya membaca, menulis, dan menghasilkan karya literasi kreatif perlu ditumbuhkan. Cara-cara sederhana dapat dilakukan. Misalnya, kebiasaan memberi hadiah berupa buku, berkunjung ke toko buku. Juga menyisihkan sedikit pengeluaran untuk membeli buku, mendirikan komunitas membaca di masyarakat, terbiasa berkunjung ke perpustakaan dan taman bacaan. Dan yang tidak kalah pentingnya keteladanan para pemimpin, orangtua, dan mereka yang dituakan untuk membaca, menulis, dan menghasilkan karya literasi kreatif. Jangan berharap guru mampu menggerakkan anak didiknya membaca, menulis, dan menghasilkan karya literasi kreatif jika tidak menghasilkan satupun karya literasi kreatif.

Di lingkungan sekolah, gerakan membaca buku lima belas menit sebelum pelajaran dimulai perlu dilanjutkan dan diintensifkan. Sudutsudut baca, papan-papan majalah dinding perlu dihidupkan lagi. Majalah atau buletin sekolah, dari anak didik untuk anak didik, perlu difasilitasi sekolah. Dengan demikian, sekolah juga harus menyelenggarakan kegiatan ekstra kurikuler jurnalistik.

Dalam upaya memasyaratkan budaya literasi, cara paling sederhana dan sangat mudah, dengan salam Salam L. Salam L adalah salam literasi. Acungkan tangan kanan kedepan, tekuk jari kelingking, jari manis, dan jari tengah. Biarkan ibu jari dan jari telunjuk dalam posisi terbuka dan usahakan bentuknya menyerupai huruf L. Itulah salam literasi. Senyampang demam swa-foto masih mewabah, tampaknya salam literasi menjadi pilihan bergaya.

(Ki Sugeng Subagya. Pamong Tamansiswa. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Senin 23 Oktober 2017)

BERITA REKOMENDASI