Sampah Pangan

Editor: Ivan Aditya

BADAN Pangan dan Pertanian (FAO) PBB melaporkan bahwa kehilangan pangan dunia karena pola konsumsi yang tidak baik ternyata mencapai 1,3 miliar ton, sehingga menjadi sampah pangan dunia. Jumlah ini senilai 1 triliun dolar AS setiap tahun, dan setara dengan sepertiga jumlah pangan yang diproduksi dunia secara susah payah.

Pangan sereal dunia hilang 30%, dengan kehilangan di negara maju sebanyak 286 juta ton. Produk susu hilang 20%, dengan kontribusi Eropa yang membuang 29 juta ton setiap tahun. Produk ikan terbuang 35%, buah dan sayuran 45%-nya tak termanfaatkan, 22% kacang-kacangan menjadi sampah, dan 45% umbi-umbian tak termanfaatkan dengan baik.

Sebanyak 263 juta ton daging dunia atau setara dengan 20% produk daging dunia telah terbuang percuma menjadi sampah tanpa bisa dikonsumsi lagi. Kehilangan pangan di negara berkembang tercatat lebih tinggi.

Kehilangan pangan sia-sia di sektor produksi dan distribusi juga dilaporkan sangat besar. Menurut FAO, kehilangan dalam rantai produksi pangan mencapai 30-40% sebelum mencapai pasar. Padahal, FAO juga melaporkan bahwa saat ini setidaknya sebanyak 870 juta orang atau sekitar 12% penduduk bumi ternyata mengalami kelaparan.

Program tangguh pangan harus mampu mengelola sistem dan rantai pangan sejak dari hulu sampai hilir. Melalui manajemen produksi, konsumsi dan distribusi secara terpadu, menyeluruh dan sinergis oleh seluruh pemangku kepentingan.

Pemerintah Indonesia telah bertekad untuk menjadi lumbung pangan dunia. Dengan iklim tropika bagai jamrut katulistiwa yang mempunyai curah hujan, temperatur, kelembaban dan intensitas sinar matahari yang optimal sepanjang tahun, maka produksi pangan di Indonesia bisa digenjot memenuhi target program tangguh pangan.

Upaya strategis menuju kedaulatan pangan Indonesia berdasarkan Nawacita sudah cukup baik. Melalui penciptaan daya tarik pertanian bagi tenaga kerja muda, rehabilitasi 3 juta ha jaringan irigasi rusak dan 25 bendungan, pengurangan laju konversi, pemanfaatan lahan eks pertambangan, distribusi 9 juta ha lahan ke petani, pemulihan kualitas kesuburan lahan yang airnya tercemar, perluasan sawah baru 1 juta ha maupun lahan pertanian kering 1 juta ha di luar Jawa-Bali.

Didukung juga pengembangan pembentukan Badan Otorita Pangan, technopark dan science park, Sistem Inovasi Nasional, 1.000 desa berdaulat benih, 1.000 desa pertanian organik, maupun bank khusus untuk pertanianUKM-Koperasi. Data produksi pangan Indonesia dilaporkan meningkat dibanding sebelumnya, namun para ahli agak meragukan akurasinya karena masih ada kelemahan dalam sistem perhitungan, konversi, kehilangan, dampak perubahan iklim, bencana alam dan keterpaduannya.

Kita semua perlu mengkampanyekan ‘selamatkan pangan’ untuk efisiensi pemanfaatan pangan dan mengurangi kehilangan pangan. Pola konsumsi pangan harus diperbaiki, sampah pangan yang merupakan limbah organik juga dapat diolah menjadi pangan olahan, pakan, pupuk organik, energi serta pendukung lingkungan dan kehidupan yang lebih bermartabat dan berkelanjutan.

Ledakan penduduk masa kini dan masa depan membutuhkan loncatan besar untuk menyediakan kecukupan pangan yang mutlak dibutuhkan untuk melangsungkan kehidupan makhluk hidup di bumi. Badan Kependudukan PBB memperkirakan penduduk dunia saat ini mencapai 7,2 miliar dan akan meningkat menjadi 8,5 miliar pada tahun 2025.

Jumlah penduduk Indonesia saat ini adalah 255 juta, diperkirakan pada tahun 2035 meningkat menjadi 305,6 juta jiwa. Diperlukan pola produksi, distribusi dan konsumsi yang optimal dan sinergis agar tangguh pangan nasional bisa terbentuk berkelanjutan.

Program tangguh pangan harus mampu memberdayakan siklus energi, siklus bahan organik dan karbon, siklus air, siklus hara, siklus produksi, siklus tanaman, siklus material dan siklus uang secara terpadu dan berkelanjutan. Dengan didukung pola 9R (reuse, reduce, recycle, refill, replace, repair, replant, rebuild, reward) yang mempunyai nilai ekonomi, lingkungan, sosial budaya dan kesehatan.

Inovasi pertanian terpadu harus mampu menghasilkan produk dengan 3K (kuantitas, kualitas dan kontinuitas) yang memadai, sehingga menjadikan komoditas pangan sebagai sumber kehidupan dan lingkungan yang memadai. Dengan demikian diharapkan akan tercapai masyarakat sejahtera yang mempunyai ciri 9W (wareg, waras, wasis, waskito, wismo, wusono, wibowo, waluyo, wicaksono).

(Prof Dr Cahyono Agus. Guru Besar UGM Yogyakarta.  Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Rabu 7 Desember 2016)

BERITA REKOMENDASI