Sejarah Aksi Massa di Yogya

Editor: Ivan Aditya

GELAR Aksi Bhinneka Tunggal Ika Nusantara Bersatu yang dipusatkan di Monumen SO 1 Maret Yogya (Rabu, 30/11) lalu, cukup signifikan. Meski belum sedahsyat aksi ‘Pisowanan Ageng’ pada momen Reformasi 1998 yang legendaris itu. Aksi kemarin sungguh meneguhkan karakteristik Keistimewaan Yogya dalam hal pengerahan massa untuk aksi-aksi kebangsaan (nasionalisme).

Setelah aksi massa besar-besaran di Jakarta pada 4 November 2016 silam, kegairahan untuk beraksi massa seolah bangkit kembali. Rencanarencana aksi massa berikutnya pun mulai diwacanakan, dirancang, dan dikoordinasikan. Meskipun aksi massa di Yogya kemarin tidak dimaksudkan untuk merespons rencana aksi massa di Jakarta pada 2 Desember 2016, kemunculannya menjadi salah satu indikator bangkitnya kembali budaya aksi massa di republik ini.

Di Yogya

Aksi massa itu sendiri berpotensi positif dan negatif. Negatifnya sudah jelas, yaitu potensi terjadinya anarkisme, chaos, dan terorisme. Positifnya, terutama aksi-aksi massa bernuansa kebangsaan menjadi ajang (1) penguatan kohesi kebangsaan, (2) penyaluran aspirasi kebangsaan, (3) pengerahan partisipasi warga dalam hidup berbangsa, (4) penguatan visi dan jiwa kebangsaan (nasionalisme).

Menurut perspektif Anthony D Smith (2003), nasionalisme merupakan sebuah ‘agama politik’. Adapun sosiolog Emile Durkheim dalam buku monumentalnya berjudul ‘Les Formes Elementaires de la vie Religieuse’ (1912) menyimpulkan bahwa emosi keagamaan tumbuh dan menguat karena adanya sentimen kemasyarakatan. Itulah sebabnya, komunitas keagamaan rutin melakukan kontraksi sosial dalam bentuk pertemuan-pertemuan akbar. Kegiatan massa seperti itulah yang menjadi pangkal tumbuhnya emosi keagamaan. Demikian juga ‘emosi kebangsaan’ akan tumbuh dan menguat melalui aksi-aksi massa yang intensif.

Yang perlu dicatat, sejarah aksi-aksi massa di Yogya ternyata sangat signifikan dalam penguatan Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI. Beberapa yang paling monumental adalah, pertama, Kongres Pemuda I (10-11 November 1945). Ribuan pemuda bergabung dalam rapat raksasa di Alun-alun Utara Yogya, termasuk utusan dari luar Yogya: Jawa (400 orang), Kalimantan (11 orang), Sulawesi (9 orang), Maluku (25 orang), Sunda Kecil (18 orang), dan Sumatera (166 orang).

Kedua, Kongres Pemuda II di Yogya (9 Juni 1946). Perhelatan akbar ini mendapat respons besar sekali dari berbagai organisasi kepemudaan di tanah air. Semua yang hadir secara spontan mengumpulkan uang sampai Rp 15.000 – jumlah yang besar untuk saat itu – yang kemudian ditetapkan sebagai ‘Pinjaman Nasional’untuk mendukung Revolusi Kemerdekaan RI.

Ketiga, Pertemuan Besar Pemuda Berbagai Bangsa dan Golongan (3-6 Oktober 1946), diikuti banyak pemuda yang mewakili berbagai etnis di Indonesia termasuk etnis Arab dan Tionghoa. Ada pula utusan pemuda dari India, Malaysia, dan Filipina. Tonny Wea yang mewakili etnis Tionghoa menyatakan bahwa pemuda-pemuda Tionghoa di Indonesia siap menjunjung tinggi perjuangan Bangsa Indonesia. Wakil dari etnis Arab di Indonesia, Hadi, juga menegaskan pentingnya persatuan pemuda Indonesia yang heterogen.

Keempat, Seminar Pancasila I di Yogya, diikuti 1.250 peserta (16-20 Februari 1959), sebuah momen kebangsaan yang memotivasi Bung Karno menyatakan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 (kembali ke UUD 1945). Rupanya api gerakan kebangsaan tak berhenti sampai pada seminar itu saja. Di tengah guyuran hujan deras, pada 21 Februari 1959 sore diadakan rapat raksasa di Alun-alun Utara Yogya. Para pembicara – Prof Mr HM Yamin, H Roeslan Abdulgani, Chaerul Saleh – menyerukan tekad nasional untuk kembali kepada UUD 1945.

Kelima, Rapat Raksasa Tri Komando Rakyat di Alun-alun Utara Yogya (19 Desember 1961). Dalam pertemuan akbar itu, Presiden Soekarno menyerukan perjuangan untuk merebut Irian Barat bagi NKRI dan mencanangkan Trikora tersebut.

Energi Kebangsaan

Meski punya sisi potensi negatif, bangkitnya kembali budaya aksi massa di sisi lain juga memberi energi kebangsaan. Aksi-aksi massa bertema kebangsaan menjadi alternatif yang harus dikembangkan. Sejarah Keistimewaan Yogya sudah membuktikan efektivitas dampaknya.

Aksi kebangsaan akan menjadi signifikan jika menyentuh nurani hingga membakar emosi kebangsaan itu sendiri. Sejarah mencatat bagaimana orasi-orasi Bung Karno dan Bung Tomo yang menyentuh nurani mampu menggelorakan jiwa nasionalisme rakyat. Karena itu revolusi mental kebangsaan menjadi lebih penting daripada pengerahan massa itu sendiri. Aksi-aksi kebangsaan membutuhkan ‘aktor-aktor kebangsaan’ yang secara pro-aktif melakukan ‘provokasi-provokasi kebangsaan’ yang menyentuh nurani.

(Dr Haryadi Baskoro. Pakar Keistimewaan Yogya. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Jumat 2 Desember 2016)

BERITA REKOMENDASI