Sekolah Ramah Anak

Editor: Ivan Aditya

SEKOLAH adalah rumah kedua bagi anak. Sekolah semestinya menjadi taman indah, tempat paling subur untuk menyemai benih kasih sayang dan rasa saling memiliki bagi penghuninya. Tidak ada lagi rasa bosan, jengah, bahkan kekerasan di dalamnya. Nasihat dan keteladanan mulia selalu tumbuh dan mengalir.

Seandainya sekolah adalah rumah bagi anak, maka tidak akan ada lagi kasus kekerasan di sekolah, kriminalisasi guru, maupun konflik orangtua – guru. Semua berjalan selaras dalam harmonisasi yang mulia yaitu mencerdaskan anak bangsa dengan setulus hati layaknya kasih sayang orangtua kepada anak-anak mereka.

Ironis ketika tindak kekerasan kembali mewarnai dunia pendidikan. Kali ini, guru di salah satu SMK memukul siswanya dan diviralkan di media sosial. Dalam video tersebut, guru terlebih dahulu mengelus-ngelus siswanya lalu ditampar dan menimbulkan suara keras.

Resolusi Konflik

Kekerasan ini menambah panjang rentetan kasus di dunia pendidikan yang melibatkan guru, peserta didik, dan wali murid. Kendati sudah dilakukan berbagai penyelesaian, segitiga kekerasan ini tidak mudah diurai. Artinya, harus ada penyelesaian sesegera mungkin di dunia pendidikan untuk menekan banalitas kekerasan. Jika kekerasan yang selama ini menjadi benalu di tubuh pendidikan belum bisa dimusnahkan lalu bagaimana lagi agar kita dapat mewujudkan sekolah ibarat rumah bagi anak?

Sungguh tragis, banyak guru yang harus berurusan dengan hukum lantaran membentak anak didiknya. Bahkan, mereka harus mengalami hukuman dan kriminalisasi karena dianggap melakukan pembelajaran dengan tindak kekerasan. Namun munculnya ‘guru bengis’ yang tega menganiaya murid tentu tidak bisa ditoleransi. Realita ini juga membuat guru tidak lagi dianggap sebagai sosok yang harus dihormati. Akibatnya, sekolah tak lagi ramah dan tidak menjadi rumah bagi peserta didik.

Dibutuhkan model resolusi konflik untuk menjembatani agar tidak terjadi kekerasan di sekolah. Baik yang dilakukan oleh guru ke murid, orangtua ke guru, sesama murid bahkan mungkin juga dari murid ke guru. Bukankah yang terakhir ini juga sudah terjadi? Kasus Sampang beberapa waktu lalu, menjadi bukti.

Pertama, guru dan orangtua harus menekankan pendidikan humanis, kedamaian, dan kedisiplinan tinggi. Dalam model ini, seorang guru tidak ringan tangan melakukan tindakan kekerasan hanya gara-gara persoalan sepele. Jika memungkinkan, komunikasi harus dilakukan dari guru terhadap orangtua apabila anak didiknya melampaui batas normal di sekolah. Hal ini dilakukan agar peserta didik juga tidak mudah ringan tangan kepada guru maupun sesama peserta didik lainnya.

Penengah

Kedua, orangtua tidak boleh melakukan tindakan kekerasan dalam bentuk apapun kepada guru hanya gara-gara aduan anaknya. Artinya, ketika anaknya mengadu kepada orangtua terkait dengan sikap gurunya, orangtua harus memposisikan diri sebagai penengah. Dalam konteks inilah, orangtua harus berkomunikasi terlebih dahulu dengan guru tanpa mendahulukan sikap agresif, yang akhirnya menyulut tindakan kekerasan dan kriminalisasi terhadap guru.

Sungguh memrihatinkan. Kasus kriminalisasi terhadap guru kian sering terjadi karena orangtua tidak melakukan komunikasi dengan guru. Sehingga kini menjadi pemandangan biasa, guru terkesan membiarkan anak didiknya. Tragisnya, ketika anak tersebut nakal bahkan melakukan tindak kriminal, guru dan sekolah yang disalahkan.

Sekolah harus menciptakan metode pendidikan yang damai, menghargai perbedaan, plural, toleran, dan menjunjung tinggi perbedaan. Jika diamati selama ini, penyulut kekerasan terjadi karena adanya sikap tidak hormat terhadap perbedaan yang ada. Karena itu, metode pendidikan pluralis dan toleransi menjadi penting untuk mengikis budaya kekerasan. Dengan jalan seperti inilah sekolah ramah anak dan menjadi rumah kedua bagi anak akan terwujud.

(Tri Pujiati MPdI. Dosen di IAIN Kudus dan Alumnus Pendidikan Islam Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Rabu 2 Mei 2018)

BERITA REKOMENDASI