Sekolah Tanpa Pekerjaan Rumah

Editor: Ivan Aditya

BUPATI Purwakarta Dedi Mulyadi resmi memberlakukan pelarangan pemberian pekerjaan rumah (PR) akademis untuk tingkat sekolah dasar sampai sekolah menengah atas di daerahnya. Larangan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Bupati Nomor 421.7/2016/Disdikpora tentang Pemberian Tugas Kreatif Produktif Pengganti Pekerjaan Rumah dan Larangan Karya Wisata (edukasi.kompas.com). Surat yang ditandatangani 1 September 2016 ini langsung disosialisasikan kepada guru dan kepala sekolah.

Di depan ratusan para guru, Dedi Mulyadi menjelaskan, PR yang harus diberikan kepada siswa adalah PR yang aplikatif. Misalnya, pada pelajaran Bahasa Indonesia dapat diberi tugas membuat cerpen tentang sang gembala, mulai dari pengalaman hingga penghayatannya. Pada pelajaran Biologi atau Kimia, siswa dapat diberi tugas membuat pupuk organik. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mendukung kebijakan Pemerintah Kabupaten Purwakarta, supaya guru tidak memberikan pekerjaan rumah akademis untuk siswanya (KR, 9/9/2016).

Manfaat PR

PR merupakan kegiatan atau tugas yang diberikan guru kepada siswa untuk dikerjakan di rumah. Selama ini PR sudah melekat di kalangan para pelajar, mulai dari jenjang sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Jika diberikan dengan ‘dosis’ tepat, pemberian PR pada anak akan memiliki sejumlah manfaat.

Pertama, PR membantu orangtua dalam mendidik anak dalam belajar. Mengerjakan PR dapat digunakan sebagai sarana latihan untuk membiasakan anak belajar secara rutin. Kedua, melatih keterampilan anak. Untuk memahami pelajaran kelompok matematika dan sains, anak perlu berlatih mengerjakan soal-soal latihan secara intensif. Guru tidak cukup waktu apabila latihan soal-soal dilakukan di kelas. Latihan soalsoal matematika, kimia, dan fisika dengan tingkat kesulitan berjenjang, dari mudah ke sukar, terbukti mampu meningkatkan kemampuan akademik anak. Sebagai pendidik, penulis meyakini bahwa PR berupa latihan mengerjakan soal-soal mampu meningkatkan kemampuan kognitif anak.

Ketiga, PR dapat melatih rasa tanggung jawab. Ketika anak mengerjakan PR, ia berusaha mencari jawaban dan bertanggung jawab atas jawabannya itu. Keempat, PR dapat membangun kepercayaan diri anak. Anak akan merasa bangga apabila mampu mengerjakan PR dengan benar. Untuk menumbuhkan rasa bangga, guru perlu memberi apresiasi kepada anak yang mampu mengerjakan PR dengan benar.

Guru perlu menyadari bahwa pemberian PR harus memberi manfaat pada anak. Karenanya, guru perlu memikirkan kemampuan anak dan durasi waktu yang diperlukan untuk mengerjakan PR. Pemberian PR yang terlalu banyak menyebabkan siswa cenderung malas. Guru matematika sekolah dasar yang memberi PR sebanyak 50 butir soal tentu membuat anak stres. Supaya PR bermanfaat, guru harus memberi umpan-balik atas PR yang sudah dibuat anak-anak.

Saran

Berapakah jumlah PR yang harus diberikan supaya bermanfaat bagi anak? Harris Cooper, Ketua Departemen Psikologi dan Neurosains di Duke University sekaligus pengarang buku The Battle Over Homework, memberikan sejumlah saran supaya PR yang diberikan bermanfaat untuk meningkatkan prestasi anak (nytimes.com). Cooper dan kawan-kawan telah melakukan sejumlah penelitian terkait dengan pemberian PR. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berapa durasi waktu ideal untuk mengerjakan PR supaya bermanfaat bagi anak.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa PR dapat bermanfaat bagi anak apabila ukurannya sesuai dengan usia anak dan tingkat perkembangan kognitifnya. Untuk anak-anak sekolah dasar, sebaiknya PR tidak terlalu banyak. PR untuk anak-anak sekolah dasar sekadar untuk membangun kebiasaan belajar dan meningkatkan keterampilan dalam berlatih soal-soal. Selanjutnya Cooper menyarankan, siswa SMP sebaiknya mengerjakan PR tidak lebih dari 1,5 jam permalam. Untuk siswa SMA sebaiknya mengerjakan PR antara 1,5 jam ñ 2,5 jam permalam. PR yang terlalu banyak akan membuat anak stres dan tidak dapat meningkatkan prestasi.

Hasil studi Cooper menunjukkan bahwa memberikan PR dengan ‘dosis’yang tepat mampu meningkatkan prestasi anak. Salah satu tugas guru adalah meningkatkan prestasi anak didik. Oleh karena itu, sebagaimana diungkapkan Ketua Dewan Pendidikan DIY, PR tetap bisa diberikan dengan beban yang rasional.

(Drs Bambang Ruwanto MSi. Dosen Prodi Pendidikan Fisika Fakultas MIPA Universitas Negeri Yogyakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Sabtu 17 September 2016)

BERITA REKOMENDASI