Sewindu UUK, Seniman Beraksi

Editor: Ivan Aditya

PERINGATAN sewindu (8 tahun) terbitnya Undang-Undang No 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan DIY (UUK) akan digelar di Grhatama Pustaka Yogyakarta mulai 31 Agustus. Perhelatan selama sebulan penuh itu bakal dimotori para seniman. Mereka berpameran patung, relief, dan lukis.

Untuk pameran patung dan relief dimotori oleh Yusman. Pematung asal Pasaman Sumatera Barat ini sudah banyak berkarya di tingkat nasional dan internasional. Sudah 17 kali karyanya diresmikan presiden-presiden RI. Patungnya juga dipajang di Meksiko, Sslah satu karya spektakulernya adalah relief perjuangan di Pacitan sepanjang 400-an meter, diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan tercatat dalam rekor MURI.

Kepeloporan Yusman dalam peringatan sewindu UUK ini menggerakkan para seniman lain untuk ikut terlibat. Pada perhelatan pameran nanti ada puluhan seniman dari berbagai komunitas seperti Sanggar Bambu, Sakato, Ikaiso, Dewata, IPI, Sedulur Nyeni, dan lain-lain ikut berpartisipasi. Masih ada pula para penyair, penyanyi, penari, penggubah lagu dan gendhing. Peringatan sewindu UUK DIY menjadi sebuah gerakan seni yang terbuka bagi siapa pun pecinta dan pegiat seni untuk berkiprah dan berkarya bersama.

Seniman Pejuang

Tampilnya para seniman di garda depan sejatinya meneguhkan sejarah perjuangan UUK DIY. Sebab, keberhasilan Yogya mendapatkan UUK pada 2012 tidak lepas dari perjuangan para seniman. Ketika itu pembahasan RUUK berlarut-larut dan pemerintah pusat tidak bersegera mendukung Keistimewaan DIY. Para seniman lantas melakukan beragam aksi. Banyak komunitas seniman bergerak seperti Paseban (Paguyuban Seniman Bantul), Sanggar Seni Sila, dan Paguyuban Sastrawam Mataram.

Para seniman beraksi mendesak agar RUUK waktu itu segera disahkan. Pada 2007, rombongan seniman Bantul sebanyak 20 bus bertandang ke Jakarta untuk berdemo. Pada Januari 2011 digelar gerakan ‘100 Penyair Membaca Jogja’ dipelopori penyair Sigit Sugito, Iman Budi Santoso dan lainnya. Bahkan hadir dari dari Semarang. Surabaya, Tegal, dan Jakarta. Dari situ berkembang gerakan aksi berkala ‘Panggung Sastra Malioboro’.

Berlarut-larutnya pembahasan RUUK dan kekurangberpihakan pemerintah pusat pada Keistimewaan DIY kala itu benar-benar membuat rakyat Yogya bergolak, Namun aspirasi dan protes rakyat yang diserukan para seniman melalui aksi-aksi kultural itu justeru menyejukkan dan indah. Seni meredam amarah dan anarkisme. Tepat seperti kata Sosrokartono (kakak RA Kartini) kepada Bung Karno pada 1932 : “Jangan sekali-sekali meninggalkan seni sebab seni itu pelunak rasa benci!”

Konsolisasi Keistimewaan

Dalam peringatan sewindu UUK DIY, para seniman jangan hanya bernostalgi tetapi berkonsolidasi. Sumber daya seniman Yogya memiliki kekuatan dahsyat untuk membarui peradaban. Pameran seni dalam peringatan sewindu UUK ini diharapkan menjadi model tentang bagaimana para seniman berkarakter, bersinergi, berkarya, untuk berdampak bagi Indonesia dan dunia.

Kekompakan para seniman di masa perjuangan RUUK (2007- 2012) harus direvitalisasi. Sebab, pascaUUK disahkan dan terutama sejak dikucurkannya Dana Keistimewaan (Danais), kekompakan antarseniman berpotensi tercabik akibat persaingan tak sehat. Sementara itu gelombang komodifikasi dan kapitalisasi memang terus merggempur kebersamaan antarseniman. Dunia seni yang semestinya idealis menjadi pragmatis. Belum lagi politisasi membuat dunia seni tidak harmonis dan selalu gaduh.

Tampilnya para seniman dalam peringatan ini diharapkan mempercantik karakter wong Ngayogya. Seni menghaluskan rasa, menjernihkan jiwa, mempertajam budi pekerti. Perikehidupan Yogya menjadi merdu, syahdu, indah, namun juga kreatif. Perbedaan pendapat, adu argumen, dan kompetisi dalam berbagai urusan dan kepentingan dalam Keistimewaan Yogya menjadi lebih sehat. Yogya semakin bermoral, bernalar, berakhlak, tenteram dan damai berkat sentuhan seni.

Tazbir SH MHum.
Ketua Panitia Peringatan Sewindu UUK DIY.

Dr Haryadi Baskoro MA MHum.
Pakar Keistimewaan Yogya.

BERITA REKOMENDASI