SST, Penjaga Kewarasan

Editor: Ivan Aditya

KEDAULATAN Rakyat bungah lan sumringah di usia genap sudah umurnya 71 tahun. . Daun kalender menunjuk angka 27 September 1945, orok KR kali pertama bersemuka dengan publik berbekal 16 halaman. Laiknya bayi abang yang baru saja mbrojol dari rahim simboknya, penampilan KR begitu polos dan belum bisa berdandan menor. Hari bersalin minggu, bulan berganti tahun, KR tiada lelah mempercantik diri dan menggarap serius rubrikasi untuk dihidangkan ke meja pembaca.

Berani sumpah, ada kolom mungil berada di sudut kanan bawah yang senantiasa mengajak pembaca tak ingin cepat-cepat menaruhnya kembali di atas meja. Kendati kalimatnya ringkas, ia selalu dinantikan. Selain enak untuk disantap bak sepiring gudeg Wijilan, ia juga menerbitkan tawa maupun mengetuk rasa kamanungsan. Kolom ini bernama SungguhSungguh Terjadi (SST).

Selama puluhan tahun rubrik tersebut sukses meringkus hati pembaca. Dalam perspektif dapur redaksi, mempertahankan SST setengah abad lebih jangan dipandang sebagai tindakan konyol. Justru kehadirannya laksana dokter yang penuh welas asih memberi hiburan murah (tapi bukan murahan) serta wejangan supaya tetap waras. Di sanalah dijumpai kepingan kata lawas yang dirindukan, kesegaran informasi, banyolan yang tak garing, kelucuan memaknai hidup, dan para tokoh yang baru.

Contoh

Saya comotkan contoh teranyar yang tampil pekan lalu. Haryanto dari Prawirotaman (Yogyakarta) menjereng cerita tentang rombongan turis asing saat di Parangtritis didatangi wanita tua yang menawarkan jualannya berupa peyek undur-undur. Salah seorang turis tanya: ‘What this name?’ Pemandunya menjawab, ‘this name is payek back-back.’Turisnya cuma mengangguk sambil tersenyum, sebab tidak mengerti maksud back-back.

Contoh berikutnya, Slamet Arbani dari Kauman Gombong menenun kisah seorang pemuda menyanyi tanpa henti di dekat Jembatan Kauman Gombong. Kebanyakan orang yang lewat jembatan mengira ia pengamen yang tengah mengais uang receh. Tak kala ada orang yang merasa iba dan memberi uang, ditolak seraya bilang : ‘Saya cuma lagi menghapal lagu. Bukan sedang mengamen’.

Kalimat yang tersaji di SST di atas mengundang senyum. Ia termasuk kategori humor. Secara konseptual, humor merupakan satu rangsangan verbal atau visual yang secara spontan sanggup memancing senyum dan tawa orang yang mendengar, membaca, atau melihatnya. Humor bisa berujud ujaran yang didengar, tulisan atau gambar yang dibaca, dan berupa gerak-gerik fisik yang dapat ditatap bola mata. Bukan hanya di panggung, humor juga diumumkan oleh media cetak direalisasikan dalam bentuk kartun disertai teks dialog maupun dalam bentuk narasi singkat macam SST.

Di samping sebagai ‘terminal’ para penulis lintas daerah, SST merupakan penjaga kewarasan segenap pembaca yang belakangan disuguhi drama politik yang menjemukan dan tayangan televisi yang membelok dari spirit edukasi. Apa yang dikemukakan dalam SST adalah ekspresi rakyat yang jujur, jeli membidik kondisi di sekitarnya, orisinil, dan lucu. Dalam konteks ini, penulis menjelma menjadi pelawak karena berhasil mengabarkan sesuatu yang lucu, tanpa harus misuh-misuh dan menyinggung hal yang beraroma porno.

Menyitir pernyataan budayawan Umar Kayam (2008), lucu adalah pengenalan kembali hal-hal yang sesungguhnya pernah lewat dalam kehidupan sehari-hari kita, namun luput dicatat sebagai fenomena yang istimewa. Pelawak menunjukkan ke kita akan keistimewaan fenomena itu dengan cara yang khas.

Mutiara

Mengapa kita butuh hal ‘lucu’ dalam kehidupan kita? Barangkali lantaran kehidupan kian rutin kita lalui. Kehidupan telah kita sekat-sekat dalam ritme yang ajeg, membosankan, sehingga kian banyak fenomena ulah manusia yang menarik lolos dari perhatian kita. Kolom SST dengan karakternya tepat kiranya menyediakan ruang kepada penulis dan pembaca untuk mendeteksi cuwilan fenomena kehidupan yang tersuruk dalam keranjang sampah rutinitas kita. Dan SST tidak melulu kelucuan, acapkali juga menampilkan mutiara kecil kehidupan.

Saya melihat SST, sebagai rubrik yang kental dengan nilai-nilai humanis dan telah teruji puluhan tahun. Dia bolehlah disebut sebagai ëanak emas’ yang harus dirawat KR sepanjang zaman. Asam garam kehidupan penulis dan pembaca yang terekam dalam SST merupakan pelajaran berharga untuk senantiasa didekap dan dihayati.

(Heri Priyatmoko SS MA. Dosen Sejarah, Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Kamis 29 September 2016)

BERITA REKOMENDASI