Strategi Menaikkan Lama Tinggal Wisatawan Di Borobudur Magelang

Editor: Agus Sigit

Keluhan utama Pemda Magelang terhadap destinasi wisata Adi luhung Candi Borobudur adalah wisatawan yang datang tidak mau menginap di Magelang. Mereka rata rata datang hanya untuk melihat candi Borobudur dengan tidak ada keinginan untuk melihat destinasi elok lain maupun untuk menjajakan uangnya untuk membeli produk produk cendera mata ataupun makaanan dari Magelang.

Lama tinggal ( length Of Stay) dari wisatawan yang mengunjungi Borobudur sangat rendah. Dari Data Kunjungan sebelum pademi, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Candi Borobudur, Jawa Tengah hampir mencapai empat juta orang sepanjang 2019, yakni 3,7 orang dari dalam negeri dan 242,1 ribu orang dari luar negeri. Angka itu meningkat sekitar 3,5% dibandingkan tahun sebelumnya.

Data ini mencerminkan kunjungan ke Borobudur saja, padahal Pemda Magelang berusaha untuk mengajak wisatawan yang berkunjung ke Borobudur untuk berkunjung pula ke destinasi wisata lain di Magelang dan sekitarnya. Seperti Kyai Langgeng, Nepal Van Jawa, Desa Wisata Karang Rejo, Candi Pawon dll.

Melihat banyaknya tempat wisata di Magelang, pertanyaannya, kenapa wisatawan yang ke Borobudur sampai saat ini tidak mau berlama lama berwisata dan menginap menikmati berbagai obyek wisata di Magelang?

Wisatawan yang berkunjung ke Borobudur justru cenderung lebih suka menginap di Yogyakarta. Mereka merasa bahwa rekreasi di Yogyakarta lebih asyik dan lebih membanggakan bagi mereka, mereka dengan bangga mengapload berbagai kegiatan selama di Yogyakarta dengan berbagai foto berlatar belakang kunjungan mereka di Yogyakarta.

Dilihat dari kualitasnya , destinasi wisata di Magelang tampaknya tidak kalah menarik dengan yang ada di Yogyakarta. Magelang mempunyai Candi Borobudur yang merupakan bangunan bersejarah kelas dunia. Wisata Alam yang menarik seperti Kopeng, Ketep. Desa Wisata yang sudah mendapat penghargaan dll.

Oleh karena itu sebenarnya tidak ada yang salah dengan destinasi yang dipunyai Magelang. Namun yang membedakan antara Yogyakarta dan Magelang adalah tidak adanya kuliner malam yang membawa keasyikan untuk nongkrong di malam hari.

Sementara suasana di Yogyakarta orang menjadi terkenang akan Yogyakarta dengan berbagai derap Kehidupan malamnya. Lagu “Yogyakarta” yang diciptakan oleh KLA Projec merupakan suatu gambaran akan kenangan wisatawan yang berwisata ke Yogyakarta. Mereka melihat hiruk pikuk Yogyakarta dengan Kekhasannya seperti keberdaan Pengamen, makan di kaki lima, serta banyaknya pedagang yang menawarkan berbagai dagangan telah menjadikan kenangan indah bagi wisatawan. Kenangan ini muncul karena kekhasan seperti itu tidak ada di tempat asal mereka. Suasana romantic seperti ini menyebabkan wisatawan rela berlama lama tinggal dan menghabiskan waktunya di yogyakarta.

Rekreasi malam di Yogyakarta secara kreatif membuat berbagai atraksi malam dengan kulineranya di tengah kota sebagai tempat nongkrong anak muda seperti di alun alun Utara, pembuatan bola bola dari batu sebagai Tempat duduk di depan gedung Agung dan pembuatan tempat duduk yang diletakkan di sepanjang jalan Malioboro disertai beberapa spot WIFI dihadirkan secara gratis di tempat kumpul; sehingga Yogyakarta menjadi kota yang hidup di malam hari..

Strategi Mendatangkan Wisatawan Ke Magelang

Membangun tempat Kuliner Malam dengan Pertunjukan yang khas

Magelang sampai saat ini belum memiliki kehidupan malam sekelas Yogyakarta. Namun demikian tidak sesuatu yang mustahil untuk diadakan, berkaca bagi Kabupaten Magelang, tidak ada yang sulit untuk menghadirkan atraksi atraksi tersebut, Berbagai kuliner khas magelang dihadirkan dengan nuansa yang khas sehingga akan menimbulkan kenangan bagi wisatawan untuk hadir di tempat tersebut.

Kuliner seperti Kupat Tahu yang sudah melegenda perlu dikemas lebih menarik, gethuk Magelang yang juga sudah melegenda perlu dikemas agar wisatawan merasa perlu membawa oleh oleh tersebut. Perlu dibuat tempat yang nyaman untuk menikmatinya.

Lokasi yang unik perlu diangkat sebagai tempat menarik menikmati kota magelang di waktu malam seperti Gunung Tidar yang terletak di tengah kota Magelang dapat dimanfaatkan sebagai ambitheater sebagai tempat pertunjukan sekaligus menjajakan kuliner.

Pengadaan tempat makan yang nyaman dan di hibur dengan atraksi kesenian akan menimbulkan kenangan yang mengasyikan bagi wisatawan.

Memasukkan Agenda Atraksi di Magelang ke dalam Calender of Even Nasional.

Atraksi malam yang diperlukan di Magelang adalah seperti pagelaran Seni Ramayana di Yogyakarta, Di Magelang Acara seperti ini harus dianggkat untuk pertunjukan di Candi Borobudur dan masuk dalam calender of even. seperti cerita pewayangan yang bercerita tentang asal usul kota Magelang, Atau sendratari yang diadakan pada malam saat bulan Purnama.

Pembuatan Storytelling harus dipersiapkan dengan matang sehingga kegiatan ini akan membuat penasaran bagi para wisatawan untuk menyaksikan. Promosi Pemasaran pertunjukan tersebut harus dikaitkan dengan paket wisata (travel Pattern), hal ini menyebabkan para turis menjadi terikat dalam perjalanan wisata mereka. Dengan obyek utama Candi Borobudur yang merupakan warisan budaya dunia harus mampu dimanfaatkan sebagai daya tarik wisatawan dalam agenda tersebut.

Membuat Kesenian Kreatif di Desa Wisata

Tren Desa Wisata sekarang ini semakin banyak di daerah Magelang dan Jawa Tengah, bahkan desa wisata Momentum ini perlu dimanfaatkan dan di Promosikan sedemikan rupa sehingga orang yang ke Magelang akan mencari Desa Wisata yang sudah baik pelayannya, seperti desa wisata Candirejo Borobudur dan Karang rejao Borobudur yang menerima penghargaan desa wisata berkelanjutan.

Dalam memasarkan desa wisata ini juga harus dibuat paket paket kegiatan seperrti pelatihan pmbuatan barang menchandise ataupun barang barang yang mampu diproduksi sebagai oleh oleh untuk diapakai sebagai kenangan selama mereka tinggal di Magelang. Ataupun paket hiburan untuk pengalaman dapat diadakan sebagai wisata tematik seperti membajak sawah, menanam padi, memberi makan kambing dan lain lain.

Memasang Hot Spot Gratis di Tempat tempat destinasi di kota

Hot Spot ini perlu diadakan karena Wifi ini sebagai magnet bagi generasi muda untuk berkarta, maupun mencari hiburan. Generasi mileneal rela tidak mempunyai uang daripada tidak mempunyai pulsa. Keberadaan Wifi ini akan menarik generasi muda untuk berkumpul, Perlu kita ketahui kaum mileneal ini banyak yang bekerja di waktu malam dengan berkumpul untuk membuat berbagai karya, seperti pembuatan desain, rapat koordinasi dengan teman2 nya dll. Oleh karena itu Hot Spot Wifi ini sangat diperlukan untuk menarik wisatawan dalam menarik derap kehidupan malam mereka.

Dari pembahasan ini yang tak kalah pentingnya adalah Pemda harus mampu memanfatkan orang orang kreatif yang dapat membentuk produk produk yang mempu menarik wisatawan.

Strategi untuk menambah masa tinggal wisatawan, perlu segera mendapatkan perhatian, konsep Pariwisata berkesinambuangan yang berarti keberadaan Pariwisata harus selalu menambah sebanyak mungkin kesejahteraan bagi Masyarakat. Disamping itu perlu orang orang yang secara kreatif memviralkan berbagai kegiatan yang sudah dilakukan di Borobudur dan Magelang.

Oleh:

Y. Sigit Widiyanto
JF Ahli Madya Adyatama Parekraf
Badan Pelaksana Otorita Borobudur

 

 

BERITA REKOMENDASI