Sungkeman, Melestarikan Bahasa Jawa

Editor: Ivan Aditya

TRADISI sungkeman yang masih berurat berakar di lingkungan masyarakat Indonesia, khususnya yang berlatar belakang etnis Jawa. Kegiatan ini melengkapi tradisi lain saat perayaan Idul Fitri, seperti bersalam-salaman sambil saling memaafkan dan halal bihalal.

Sungkeman sendiri berasal dari kata sungkem yang berarti bersimpuh atau duduk berjongkok sambil mencium tangan orang yang disungkemi. Biasanya sungkeman dilakukan oleh orang muda kepada orang yang lebih tua. Misalnya, oleh seorang anak kepada orangtua mereka.

Sungkeman dilakukan pada acara-acara seperti perkawinan, perpisahan, dan Lebaran. Terkadang ada juga yang melakukan di luar waktu-waktu itu tujuannya untuk meminta maaf atas perilaku kurang menyenangkan yang dilakukan dan juga untuk mengharapkan doa dari orang yang disungkemi.

Saat Lebaran, sungkeman dilakukan banyak orang saat bersilaturahmi, khususnya kepada keluarga yang berusia lebih tua. Dalam praktiknya, pihak yang melakukan sungkem – biasanya yang dituakan atau dijadikan ketua rombongan silaturahmi – tidak mesti harus duduk bersimpuh di depan orang yang disungkemi. Cukup duduk sejajar, menghadap dan berdekatan dengan orang yang disungkemi. Dan sesuatu hal yang pasti, pihak yang melakukan sungkem mengucapkan kalimat-kalimat tertentu, yang sudah relatif baku, guna menyatakan keperluannya. Dan pihak yang disungkemi, memberikan jawaban dengan kalimat-kalimat yang sudah relatif baku pula. Orang Jawa yang masih paham Budaya Jawa cukup hapal dengan ucapan-ucapan yang disampaikan saat sungkeman. Sungkeman Lebaran agak berbeda dengan sungkeman saat pernikahan dan perpisahan. Sungkeman saat Lebaran ditujukan untuk meminta maaf atas segala kesalahan yang telah diperbuat oleh pihak yang melakukan sungkem, serta untuk memohon doa restu agar dikaruniai keselamatan dan dilancarkan rejekinya. Sedangkan sungkeman saat pernikahan ataupun perpisahan, khusus untuk memohon doa restu, agar dikaruniai keselamatan dan dilancarkan segala sesuatunya.

Sejarah

Tradisi sungkeman yang dilaksanakan saat Lebaran memiliki sejarah tersendiri. Sedangkan sungkeman di luar Lebaran, sudah merupakan tradisi turun-temurun, sejak masyarakat dan kebudayaan Jawa itu ada.

Sungkeman saat Lebaran merupakan bagian dari tradisi halal bihalal, atau silaturahmi untuk saling memaafkan saat Lebaran, yang pada mulanya dikembangkan kraton-kraton Jawa. Konon tradisi sungkeman saat Lebaran bermula dari Solo. Tradisi ini berawal dari Kasunanan Surakarta dan Pura Mangkunegaran.

Sungkeman massal pertama dilakukan di era KGPAA Mangkunegara I. Saat itu Mangkunegara I beserta seluruh abdidalem berkumpul dan saling bermaafan setelah melakukan salat Ied. Pada tahap pertama yang melakukan sungkem para istri dan putra dalem. Pada tahap kedua baru para sentana dan abdi dalem.

Pada waktu yang hampir bersamaan, tradisi sungkeman juga dilaksanakan di lingkungan Kasunanan Surakarta dan kraton-kraton Jawa lainnya. Bentuk dan pelaksanaannya relatif baku. Semua yang terlibat mengenakan pakaian Jawa resmi. Antre secara tertib. Raja duduk di singgasana, dan yang melakukan sungkem duduk bersimpuh, melakukan sembah dan mengucapkan kalimat-kalimat tertentu yang sudah baku.

Di era republik, presiden-presiden, juga kepala-kepala daerah, yang berlatar belakang etnis Jawa, yang masih memiliki orangtua, juga melestarikan tradisi sungkeman saat Lebaran. Presiden beserta istri, anak menantu dan cucunya, sungkem kepada orang tuanya atau nenek dan kakeknya. Sungkeman ala pembesar ini biasanya dipublikasikan melalui media massa, seperti sungkeman Lebaran di kraton-kraton Jawa.

Bahasa Jawa

Suatu hal yang juga baku, pelaksanaan sungkeman ala Jawa, baik yang dilaksanakan para pembesar maupun warga masyarakat kebanyakan, umumnya sampai sekarang masih menggunakan Bahasa Jawa, yakni bahasa Jawa halus (krama inggil). Sungkeman akan dirasa kurang afdol kalau menggunakan bahasa selain Jawa.

Fenomena masih digunakannya Bahasa Jawa halus dalam pelaksanaan sungkeman saat Lebaran, di mana-mana, menunjukkan sesuatu yang positif, khususnya bagi upaya pelestarian dan pengembangan bahasa Jawa. Melalui tradisi tersebut, generasi yang mulai melupakan bahasa dan budaya Jawa, dapat mempelajari kembali Bahasa Jawa, paling tidak yang digunakan dalam sungkeman. Sementara itu, kalau mereka tidak menguasainya, biasanya mempercayakan kepada salah satu anggota kelompok yang dianggap menguasai.

(Sarworo Soeprapto. Peminat masalah sosial dan kebudayaan. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Jumat 24 Juni 2017)

BERITA REKOMENDASI