Surga-Neraka Superstar TV

Editor: Ivan Aditya

SEORANG motivator yang kemashyurannya melegenda di seluruh pelosok negeri memberikan seminar tentang cinta transformasional bukan transaksional. Seminar yang diselenggarakan di auditorium hotel berbintang 5 dihadiri 300-an peserta. Motivator kondang itu membuka acara dengan ucapan yang sangat memukau. ‘Tahun-tahun terbaik dalam hidupku, aku habiskan bersama seorang perempuan yang bukan istriku.’Mendadak suasana ruangan seminar menjadi senyap. Sang motivator bisa mengendalikan dan membalik keadaan dengan berujar : ‘Perempuan itu adalah ibu saya’.

Seorang suami muda sangat terkesan. Lelaki ini punya masalah relasi dengan istrinya. Ia lelaki yang tak berdaya menghadapi dominasi istri. Pulang seminar dia langsung mencari istrinya. Di belakang istri yang sedang memasak di dapur, lelaki itu menirukan katakata motivator. ‘Tahun-tahun terbaik dalam hidupku, aku habiskan bersama seorang perempuan yang bukan istriku.’Lelaki itu tibatiba tercekat bingung, lupa kalimat berikutnya. Saat teringat ia sudah terrbaring di ranjang rumah sakit. Lelaki itu mengalami luka bakar serius karena disiram kuah sop panas oleh istrinya.

***

Anekdot di atas hanyalah joke perihal hidup tak seindah mantra motivator. Pelbagai saluran TV dan media sosial, mulai pekan lalu, heboh memberitakan sekaligus menggosipkan perilaku motivator kelas wahid. Sang motivator mashyur sedang dipermasalahkan seorang lelaki dewasa yang mengaku sebagai anaknya. Sang motivator menceraikan istrinya 17 tahun lalu. Si anak tidak boleh menemui bapaknya bahkan sekadar buat meminta beaya kuliah.

Seorang Dai dengan intonasinya teduh dari Bandung, beberapa tahun sebelumnya, juga ditinggal penggemar. Fans yang kebanyakan ibu-ibu, kecewa berat. Dai yang getol memromosikan nilai kesetiaan ketahuan menikah siri dengan sekretarisnya.

Lebih parah lagi skandal mubalig yang sedang melesat namanya, yang memimpin pesantren di Bantul. Pesantren ini menjadi langganan artis ibu kota buat ngadhem kala tertekan. Oase damai ini tiba-tiba diserbu massa. Mubalig dilaporkan ke polisi karena menghamili santri muda. Perusahaan penerbitan di Yogyakarta kena getahnya. Penerbit ini telanjur mencetak tiga jilid buku karya mubalig. Ribuan buku batal diedarkan. TV dan media sosial heboh membahasnya.

***

Di Amerika, sejak dekade 1980-an, banyak televangelist (penginjil tv), merosot kebintangannya. Umumnya karena skandal seks dan masalah keuangan. Tanpa TV para super star, menurut Rhenald Kasali dalam Camera Branding (2013), is just a name not a branded name. Reputasi mereka lahir, tumbuh, dibesarkan, dan diluluhlantakkan peradaban sosial TV. TV butuh selebriti. Mereka pandai menciptakan sekaligus menghempaskannya. Para motivator, sebagaimana umumnya selebriti, bisa mendapatkan sekaligus kehilangan camera branding. Camera Branding dibentuk prinsip-prinsip: keterlibatan, dialog, umpan balik seketika, komunitas, dan story telling.

Prinsip-prinsip itulah yang menentukan apakah selebriti akan menurun ke ‘tangga neraka’ atau menapaki ‘tangga surga’. Mereka jatuh ke neraka bila inkonsisten, tidak otentik, tidak bisa dipercaya, dan tidak loyal. Mereka diangkat ke surga bila konsisten, kredibel, loyal, dan bisa dipercaya.

Camera branding dibangun berdasarkan dua pondasi cameragenic dan auragenic. Cameragenic bisa dilatih terus menerus. Auragenic hanya bisa dibangun dengan self awareness. Stasiun TV hanya tertarik pada kepribadian cameragenic dan auragenic. Sedap dipandang, enak didengar, gestur elegan, dan kredibel. Kepribadian itulah yang bisa menimbulkan dampak penularan kebaikan yang luar biasa sebagaimana program Oprah Winfrey atau Kick Andy Show.

Media sosial memiliki kecepatan mencengangkan dalam melambungkan seseorang sekaligus menenggelamkannya. Perilaku pesohor, tanpa kecuali motivator, yang terbiasa tayang di TV mesti walk the talk. Tindak-tanduk selebritis kudu sejalan dengan ucapannya. Bila menyimpang pasti jadi bulan-bulanan netizen.

Menjadi super star TV dengan jutaan penggemar sungguh tidak mudah. Popularitas selangit dan kekayaan segalaksi butuh moralitas setebal tembok besar China buat bertahan. Semua motivator punya kekurangan. Masalah kepantasan dan integritaslah yang membuat khalayak tidak membukanya secara vulgar. Penyanjung juga ikut andil dalam menjerumuskan superstar.

Instrinsic good feeling seharusnya diperoleh dengan laku batin (asketisme) genuine. Tapi masyarakat era medsos lebih doyan meraih ekstrinsic good felling dengan kecanduan miras, narkoba, reality show, dan mendewakan idola.

(J Sumardianta. Guru SMA Kolese De Britto Yogyakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Sabtu 17 September 2016)

BERITA REKOMENDASI