Tak Lagi Pusing Belajar Daring Memikirkan Kuota Internet

Tak Lagi Pusing Belajar Daring Memikirkan Kuota Internet

Oleh Anang Ristanto

Pranata Humas Ahli Madya Kemendikbud

CERITA pilu siswa dan mahasiswa yang mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau belajar daring / online sering kita dengar, tonton dan baca di berbagai macam media. Ada yang mengalami kendala sinyal sehingga harus naik ke atas pohon, ke puncak gunung, ke pinggir jalan, numpang di rumah orang dan sebagainya. Ada juga yang mengirim tugas hingga dini hari tidak terkirim-kirim dan setelah dicek kuota internetnya habis. Ada pula yang terjaga hingga dini hari demi mengerjakan tugas agar bisa mengakses kuota Internet malam.

Jadi belajar daring benar-benar membuat pening karena masalah kuota internet, terbatasnya jaringan internet, hingga tiadanya sarana komputer, smartphone/komputer tablet. Hal ini diperkuat oleh survei Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terhadap 1.700 siswa yang jadi responden survei. Hasilnya keluhan soal kuota internet tercatat paling tinggi yakni sebanyak 43 persen dan tidak punya smartphone/computer tablet itu 29 persen (Kompas, 8/8/2020).

Karena itu, agar proses belajar mengajar selama masa Pandemi Covid-19 dapat berjalan dengan baik, khususnya pada pembelajaran jarak jauh, maka harus dicarikan solusinya. Sehingga akan mengurangi beban yang semakin berat akibat belajar online, seperti pening, stress, jenuh, bosan, dan sebagainya, yang jika dibiarkan maka mengakibatkan tidak maksimalnya belajar daring.

Melihat kondisi dan kendala yang dihadapai dalam belajar daring tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberikan subsidi kuota internet yang dialokasikan selama empat bulan yaitu dari bulan September hingga Desember 2020. Dalam Peraturan Sekretaris Jenderal Kemendikbud Nomor 14 Tahun 2020 tentang Petunjuk Teknis Bantuan Kuota Data Internet Tahun 2020, Bantuan kuota data internet dibagi atas: Pertama, Kuota Umum, yaitu kuota yang dapat digunakan untuk mengakses seluruh laman dan aplikasi.

Kedua, Kuota Belajar, yaitu kuota yang hanya dapat digunakan untuk mengakses laman dan aplikasi pembelajaran, dengan daftar yang tercantum pada http://kuota-belajar.kemdikbud.go.id/. Dalam link tersebut dapat dilihat Daftar Laman dan aplikasi pembelajaran yang dapat diakses menggunakan kuota belajar adalah ; 19 Aplikasi, 5 Video Conference, 22 Website, dan 401 website kampus.

Melalui adanya pembagian kuota umum dan kuota belajar serta kejelasan daftar laman dan aplikasi pembelajaran yang dapat diakses menggunakan kuota belajar tersebut, diharapkan tidak ada penyalahgunaan penggunaan kuota data internet. Disamping itu, dalam daftar tersebut juga memuat banyak laman serta aplikasi dan video conference yang utama dan banyak digunakan dalam PJJ sehingga diyakini memadai untuk pemenuhan kebutuhan PJJ. Adapun anggaran yang disediakan sekitar Rp 7,2 triliun yang akan dialokasikan dari bulan September hingga Desember 2020.

Untuk memperlancar pemberian subsidi kuota bagi siswa, mahasiswa, guru dan dosen, tahapan penyaluran bantuan kuota data internet tersebut akan dilaksanakan selama dua tahap setiap bulan. Tahap pertama dilaksanakan setiap bulan di tanggal 22 sampai 24, sedangkan untuk tahap II dilaksanakan setiap tanggal 28 sampai tanggal 30. Skema ini akan terus berlangsung hingga bulan Desember mendatang.

Secara teknis, tahap pertama penyaluran bulan September 2020 telah selesai dilaksanakan pada tanggal 22-24 September 2020 kepada 27.305.495 nomor telepon selular pendidik dan peserta didik di seluruh Indonesia. Khusus untuk penyaluran di bulan November dan Desember 2020, akan disalurkan sekaligus di bulan November. Dengan demikian, melalui penyaluran subsidi kuota internet tersebut, maka proses belajar mengajar secara daring / online dapat berjalan lancar.

Adapun target penerima bantuan kuota data internet Kemendikbud sebanyak 50,7 juta peserta didik dan 3,4 juta pendidik, serta sebanyak 5,1 juta mahasiswa dan 257.217 dosen di seluruh Indonesia. Sedangakn jenis bantuan yang tersebar yakni untuk siswa pada jenjang Pendidikan PAUD, SD, SMP, SMA, SMK, Kesetaraan, SLB, mahasiswa vokasi, mahasiswa akademi, guru, serta dosen.

Walaupun tentu saja masih ada kendala yang dihadapi. Misalnya ketepatan sasaran penerima subsidi kuota, penggunaan subsidi kuota sesuai maksud dan tujuannya sehingga tidak disalahkan gunakan, jaringan internet yang masih lemah khususnya di daerah terpencil dan terluar di wilayah Indonesia. Karena itu, diperlukan adanya sinergi dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan dalam mendukung suksesnya proses belajar mengajar pada saat wabah Covid-19 seperti sekarang.

Karena itu, proses verifikasi, validasi dan pemutakhiran data bagi penerima subsidi kuota terus menerus dilakukan. Sehingga diharapkan tidak ada laporan atau berita tentang tidak tepatnya sasaran penerima subsidi kuota dari masyarakat. Jika hal itu terjadi, maka Kemendikbud perlu mengevaluasi dan menyusun kebijakan kembali tentang penyaluran subsidi kuota internet, agar tidak berdampak buruk pada gagalnya penyaluran subsidi kuota pulsa internet.

Melalui kebijakan subsidi kuota internet bagi pendidik dan anak didik di semua jenjang Pendidikan, menjadi bukti komitmen pemerintah untuk tetap melaksanakan tugas konstitusi dengan tetap mencerdaskan kehidupan bangsa dan mewujudkan kesejahteraan umum bagi seluruh rakyat Indonesia, sekalipun disaat pandemi Covid-19.

Harapannya, pendidik dan peserta didik tak lagi pening belajar daring memikirkan kuota internet yang habis. Sehingga imunitas tubuh terjaga dan makin kuat, keselamatan dan keamanan tetap terjamin serta terhindar dari wabah Covid-19. Semoga.  (*)

 

BERITA REKOMENDASI