Tantangan Guru ‘Digital Immigrant’ Saat Pandemi Covid-19

Editor: KRjogja/Gus

Tantangan Guru ‘Digital Immigrant’ Saat Pandemi Covid-19

Oleh: Isniatun Munawaroh

Pandemi virus corona atau covid-19 di seluruh dunia telah merubah tatanan kehidupan peradaban manusia. Semua lini kehidupan manusia terimbas keberadaan virus yang disebut paling mudah menular dan telah menjangkit lebih dari 6 juta penduduk bumi.

Disektor pendidikan, siswa dan guru harus dipisahkan yang berdampak sisa pembelajaran disemester ini harus dilakukan secara daring. Semua jenjang pendidikan-pun harus mematuhi kebijakan belajar dari rumah.

Pembelajaran dengan pola baru ini mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya terutama bagi para guru. Dalam jangka waktu lebih dari 3 bulan sistem belajar baru ini berjalan dengan segala problematikanya yang terus berkembang.

Selain sisi negatif yang muncul dari keberadaan virus ini, jika direnungkan covid-19 menjadi media belajar bagi semua praktisi pendidikan untuk mereset ulang praktik pendidikan. Virus corona seolah ingin menguji kesiapan para guru apakah sudah siap dan mampu mengajar dengan mengintegrasikan teknologi digital di era ilmu pengetahuan saat ini. Karena terbukti covid-19 mentransformasi praktik pendidikan tradisional menjadi cyber pedagogy.

Hasil survei UNESCO terkait sistem pendidikan selama pandemi di 59 negara dunia termasuk Indonesia menunjukkan bahwa terdapat kesenjangan kemampuan guru dalam menggunakan ICT. Hal ini menunjukkan para guru masih mengalami kesulitan dalam mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran, karena kebanyakan para guru di Indonesia masuk kedalam kriteria sebagai digital immigrant.

Digital Immigrant vs Digital Native

Digital immigrant adalah generasi yang lahir dan tumbuh sebelum era internet muncul dan dalam posisi menyesuaikan diri dan belajar dengan aspek teknologi digital terbaru (Prensky, 2001). Sementara para siswa yang duduk dibangku sekolah saat ini adalah generasi yang masuk kedalam digital native. Golongan ini sejak lahir sudah bersinggungan dengan materi digital dalam kehidupannya seperti smartphone, komputer, videogame, dan lainnya. Mereka sangat fasih menggunakan dan menterjemahkan bahasa digital disekeliling mereka, (Prensky, 2001) sehingga kecepatan adaptasi dengan teknologi digital melampaui generasi sebelumnya.

Dalam dunia pendidikan, pandemi virus corona secara tidak langsung telah menunjukkan sekat pemisah dari kedua golongan ini khususnya selama pembelajaran daring berlangsung. Masalah dalam pembelajaran seperti metode mengajar yang membosankan, banyaknya tugas dari setiap guru menunjukkan siswa tidak ‘happy’ belajar selama pandemi ini.

Siswa masa kini yang mewakili digital native lebih suka belajar mandiri dengan melihat video interaktif, game, project dan lainnya. Dengan kata lain kebutuhan mengolah informasi secara digital siswa modern saat ini tidak bisa terpenuhi dengan metode penyampaian dan kemasan materi yang tradisional.

Berubah atau Pasrah?

Harus diakui kesenjangan antara digital native dan digital immigrant dalam sektor pendidikan sudah menjadi kenyataan yang sudah terjadi dan tidak bisa dihindarkan. Pandemi yang belum berakhir ini telah menunjukkan seberapa besar kesenjangan itu telah terjadi.

Keterbukaan pikiran khususnya bagi para golongan digital immigrant untuk menerima perubahan yang terjadi di era digital menjadi kunci memperbaiki kesenjangan yang terjadi. Guru modern bukan lagi sebagai sumber belajar namun menjadi fasilitator untuk menumbuhkan ketrampilan berpikir kritis dan kemampuan problem solving bagi siswa.

Ketrampilan mengajar yang dimiliki guru belum cukup dan harus ditambah dengan kemampuan mendesain materi pelajaran yang menyenangkan bagi siswa. Dalam bahasa familiar saat ini, guru harus menjadi content creator yang menarik.

Menyambut era new normal adalah saat yang tepat untuk meng’upgrade’ kemampuan dan kreatifitas guru dan sekolah sebagai digital immigrant. Belajar dari fenomena pandemi, peran LPTK juga penting ini untuk menyiapkan guru-guru masa depan pengawal generasi digital native.

Pilihan yang terjadi apakah siswa masa kini sebagai digital native harus ‘set back’ menyesuaikan kemampuan dan kemauan guru dalam belajar atau justru sebaliknya kaum digital immigrant harus tergilas karena pasrah dengan keadaan ?

Isniatun Munawaroh
Dosen Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan,
Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta

BERITA REKOMENDASI