Tertib Lalin dan ‘Booming’ Sepeda di Yogya

Editor: Ivan Aditya

AKIBAT dampak pandemi Covid-19, kini fenomena olahraga bersepeda melanda dunia. Masyarakat kembali ‘belajar’ mengendarai sepeda. Pemandangan pesepeda berlalu lalang di jalan mulai ramai. Penjualan sepeda pun naik tajam. Tak terkecuali di Indonesia. Bahkan di berbagai belahan dunia, selain digunakan untuk olahraga, sepeda juga menjadi moda transportasi untuk aktivitas bekerja dan lainnya. Di beberapa negara, menggunakan sepeda sebagai alat transportasi sehari-hari hal biasa. Lajur sepeda pun tertata dengan baik. Seperti di Amsterdam, New York, Berlin, Brussels, Seattle, Lima, Mexico City, Vancouver, Budapest, dan Dublin.

Bagaimana dengan Indonesia. Dampak virus corona, industri sepeda kini sedang naik daun. Pelaku industri sepeda mengakui situasi pandemi menjadi pemicu minat masyarakat untuk bersepeda atau gowes sangat tinggi. Demam gowes melanda dimana-mana. Tak jarang, pegowes pemula kurang bisa menjaga perilaku saat sedang berada dalam rombongan, sehingga tanpa sadar memenuhi jalan. Kelalaian seperti ini berakibat menyerobot hak pengguna jalan lainnya. Ini yang harus disadari para pegowes.

Disisi lain, memang dari segi kesehatan manfaat bersepeda cukup bagus. Antara lain, bisa mengendalikan atau menurunkan berat badan, mengurangi risiko penyakit jantung dan pembuluh darah, mengurangi risiko kanker, dan mengurangi risiko diabetes. Di Yogyakarta, ‘booming’ bersepeda sebetulnya sudah sejak lama, sebelum pandemi ini ada. Komunitas onthel atau yang disebut ‘onthelis’ tersebar di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Mereka rutin melakukan kegiatan gowes. Ini tidak terlepas dari julukan Yogya sebagai kota sepeda. Tahun 1949, kota Yogyakarta pernah menjadi Ibukota Republik Indonesia. Untuk mengenang itu dihadirkan satu wadah pecinta dan penggiat sepeda tua, bernama Jogja Republik Onthel (JRO). Komunitas ini ingin mewujudkan kembali Kota Yogya sebagai ikon kota sepeda.

Maraknya masyarakat bergowes sudah saatnya dipikirkan lajur khusus pesepeda, khususnya untuk Yogyakarta. Jangan sampai tumpang tindih menyatu dengan jalur kendaraan bermotor. Pemerintah perlu segera memikirkan hal ini. Pembuatan lajur sepeda ini perlu demi menjamin keteraturan dan keselamatan semua pengguna jalan. Apalagi kini gairah bersepeda muncul kembali. Pembuatan lajur sepeda harus terintegrasi dengan moda transportasi lain. Kita semua mestinya prihatin, setelah pemerintah mengizinkan sejumlah daerah untuk menerapkan new normal atau tatanan kehidupan baru, ternyata keputusan ini disalahartikan sebagian masyarakat.

Muncullah euforia yang diekspresikan dengan merasa bebas melakukan dan bertindak apapun dengan mengabaikan protokol kesehatan. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah mengeluarkan protokol kesehatan saat beraktivitas di fasilitas umum. Di antaranya mencakup panduan menjaga jarak saat berolahraga. Antara lain, selain mengharuskan tetap pakai masker, juga untuk saling jaga jarak. Jarak aman olahraga bersepeda kurang lebih 20 meter.

Ditengah pandemi Covid-19, kecelakaan lalu lintas masih menjadi masalah yang cukup pelik untuk diatasi. Berbagai cara telah dilakukan dengan terus menerus melakukan edukasi kepada masyarakat perlunya kesadaran berlalu lintas agar angka kecelakaan bisa turun. Di masa kenormalan baru ini, berdasarkan analisa dan evaluasi Ditlantas Polda DIY, euforia masyarakat bergowes cukup memprihatinkan. Keselamatan berlalu lintas diabaikan sehingga menimbulkan kecelakaan yang berakibat fatal.

Dari hasil evaluasi Ditlantas Polda DIY, selama pandemi Covid-19, secara keseluruhan di bulan Maret jumlah kecelakaan lalu lintas (laka lantas) 479, khusus untuk pesepeda 20 laka. Dari total kejadian laka 4 persen melibatkan pesepeda. Dari laka tersebut secara keseluruhan jumlah korban meninggal 41 dan khusus pesepeda 1 orang. Dari total korban meninggal dunia 2 persen melibatkan pesepeda.

Untuk bulan April, jumlah laka 273, khusus pesepeda 16 laka. Dengan demikian laka yang melibatkan pesepeda 6 persen. Secara keseluruhan jumlah korban meninggal di bulan April 22 orang, satu diantaranya pesepeda. Dari total korban meninggal dunia 5 persen menimpa pesepeda. Untuk bulan Mei, jumlah kejadian laka 281, dan khusus pesepeda 12 laka. Dari total kejadian laka 4 persen dialami pesepeda. Jumlah korban meninggal dunia 24, dua diantaranya pesepeda. Total korban meninggal dunia pesepeda mencapai 8 persen.

Untuk mencegah laka lantas lebih fatal, setiap pesepeda sebaiknya agar tetap melengkapi diri dengan alat pelindung. Itu wajib. Diantaranya memakai helm dan pakaian tertutup. Disisi lain, untuk memberi rasa aman dan nyaman bagi pesepeda, Ditlantas Polda DIY menerapkan jenis penindakan pelanggaran berupa teguran lisan bila menjumpai pelanggaran lalu lintas. Langkah lainnya, melakukan kegiatan sosialisasi bagi pesepeda sebelum ada jalur khusus untuk selalu menggunakan jalur aman.

Kombes Pol I Made Agus Prasatya SIK MHum
Direktur Lalu Lintas Polda DIY

BERITA REKOMENDASI