TNI dan Tantangan Rakyat

Editor: Ivan Aditya

SAMPAI saat ini, Bangsa Indonesia masih terus menghadapi ancaman disintegrasi. Dalam sebuah negara, seperti Indonesia, yang terdiri dari puluhan ribu pulau, ratusan suku bangsa, dan mungkin ribuan dialek, masalah integrasi dan disintegrasi yang terkandung di dalamnya merupakan tuntutan dan kemestian yang tiada hentinya.

Sementara itu dalam upaya menuju masyarakat yang adil dan makmur, diwarnai oleh perjuangan pribadi atau kelompok politik yang masing-masing berjuang atas nama rakyat dan menyatakan diri sebagai penyelamat reformasi. Sehingga menjadi tidak mengherankan kalau rakyat menilai banyak pemimpin di negeri ini bukan lagi negarawan tetapi benar-benar hanya berjuang untuk kepentingan sendiri atau kelompoknya.

Di sisi lain, perkembangan situasi tatanan kehidupan masyarakat Indonesia akhir-akhir ini berubah sangat cepat sehingga mudah mengendorkan rasa persatuan dan kesatuan. Masalahmasalah yang berkaitan dengan keutuhan bangsa, terutama sekali yang bersumber pada masalah regionalisme, provinsialisme, sentrifugalisme, kolektivisme atau nasionalisme etnik, sejak reformasi digelar dapat dikatakan masih menggejala. Kondisi ini menyebabkan sensitifnya sikap-sikap terhadap kelangsungan hidup bangsa. Ironisnya, memang ada kelompokkelompok yang ingin memaksakan kehendaknya asal idealismenya tercapai, walau harus membuat orang lain menderita.

Satu Lembaga

Di tengah-tengah menderasnya arus disintegrasi saat ini, ternyata masih ada satu lembaga yang masih tetap utuh menopang NKRI, yakni Tentara Nasional Indonesia (TNI). Lahirnya TNI guna memenuhi panggilan sejarah dan revolusi kemerdekaan di tahun 1945. TNI lahir dari rakyat, oleh rakyat, hidup di tengah-tengah rakyat dan untuk membela kepentingan rakyat. TNI lahir untuk membela dan mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Karena itu, TNI memang benar-benar milik masyarakat. Apa yang menjadi tantangan rakyat, juga berarti menjadi tantangan TNI.

TNI mempunyai peran utama dalam menjaga kelangsungan Negara Proklamasi, dan wawasan kebangsaan. Sedangkan embrio TNI berupa Badan Keamanan Rakyat dan laskar-laskar rakyat. Tampilnya laskar-laskar rakyat ini jelas tanpa persenjataan lengkap dan tanpa pakaian seragam sempurna. Pada waktu itu tidak dituntut adanya profesionalisme, melainkan yang lebih diutamakan adalah tekad dan semangat juang yang bersemayam di dalam dada setiap anggota laskar rakyat. Tekad dan semangat untuk tetap merdeka, dan rela berkorban demi tetap tegaknya kemerdekaan serta kedaulatan Negara Republik Indonesia.

Begitu efektifnya TNI, sehingga membuat banyak pihak tertarik atau sebaliknya mencurigai peran TNI tersebut. Sebagai alat negara, TNI digunakan pemerintah untuk menjaga kedaulatan negara dari segala ancaman dan gangguan, TNI menjadi kekuatan yang paling dominan dalam mengatasi berbagai konflik yang muncul di masyarakat, dari politik sampai ekonomi.

Sampai saat ini sikap tanggap selalu diperlihatkan TNI. Mengingat sistem demokrasi sudah semakin mapan di negeri ini, TNI makin menyadari bahwa medan juang TNI bagaimanapun tidak sama lagi dengan generasi pendahulu. TNI saat ini sudah menyadari posisi dan fungsinya yang sejati. Karena posisi dan fungsinya itu, maka TNI bukan lagi alat penguasa tetapi sebagai alat negara. Dengan demikian TNI merupakan institusi yang bisa menjadi pemersatu bangsa.

Ancaman

Di sisi lain, kita harus sadar adanya ancaman perpecahan negeri ini. Walaupun perdamaian sudah dipancangkan, tetapi di lapangan masih sering muncul letupan-letupan. Gejala-gejala itu perlu diwaspadai. Indonesia harus sadar bahwa negeri ini banyak yang meminatinya.

Dalam konteks inilah rasa was-was terus menghantui kita. Akankah negeri ini dapat terus utuh, atau pada akhirnya kita harus memasrahkannya lepas satu demi satu.? Untunglah TNI selalu tanggap, terhadap ancaman bangsa. Keresahan yang dilakukan para preman, misalnya, telah menggoda TNI untuk membabat habis musuh rakyat itu.

Mudah-mudahan kondisi negeri ini jangan terus-menerus menggoda TNI untuk bertindak. Namun, apabila demokrasi hanya menghasilkan pemimpin yang korup, degradasi moral, dan hukum yang bisa dilelang, maka tidak mustahil akan menggoda TNI untuk bertindak.

(Drs A Kardiyat Wiharyanto MM. Dosen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Jumat 6 Oktober 2017)

BERITA REKOMENDASI