Tri-Pusat Pendidikan Milenial

Ki Prof Dr Cahyono Agus
Penulis adalah Ketua Umum Pengurus Pusat Perkumpulan Keluarga Besar Tamansiswa (PP PKBTS) – Guru Besar UGM Yogyakarta – Anggota Dewan Pendidikan DIY

WABAH Covid-19, mengakibatkan bencana kemanusiaan dan kehidupan yang meluas dan tragis. Pemerintah Indonesia juga menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) pada berbagai daerah zona merah pandemi. Kegiatan bisnis, pendidikan, ibadah, pertunjukan, seni, perjalanan, olah raga, ditangguhkan, dan dikerjakan dari rumah (Work from Home/WfH).

Kehidupan virtual masyarakat 5.0 berbasis teknologi informasi modern online jarak jauh, dipaksa dapat diterapkan saat ini juga. Program sekolah dari rumah (School from Home/ SfH) juga harus dilaksanakan seluruh insan pendidikan dari berbagai jenjang di seluruh daerah. Rumah menjadi pusat peradaban baru saat pandemi Covid-19 dan masyarakat 5.0 yang berbasis teknologi tinggi. Untuk belajar, bekerja dan beribadah di rumah.

Sangat Terbatas

Konsep Pendidikan 4.0, sebagaimana mengikuti perkembangan teknologi inovasi 4.0, harus memanfaatkan teknologi canggih. Dicirikan dengan penggunaan kecerdasan buatan, data terpadu, jarak jauh, mobile, games, cocok untuk generasi milenial, emas, futuristik. Namun demikian menjadikan impersonal, ego-sentris, kurang interaktif, kurang berbudaya, kehilangan empati, kehilangan nilai sosial kemanusiaan. Namun demikian, fasilitas, infrastruktur, intrastruktur, suprastruktur teknologi maupun jaringan pendukung dalam pelaksanaan SfH di Indonesia masih sangat terbatas.

Di kota besar saja masih kurang baik, apalagi di daerah-daerah terpencil yang sama sekali belum terjangkau. Program SfH jelas sulit diterapkan secara seksama dan sungguh-sungguh. Pendidikan mestinya bukan hanya tanggung jawab sekolah semata. Ki Hadjar Dewantara (KHD) menerapkan ‘Tri Pusat Pendidikan’ di sekolah, keluarga, dan masyarakat sekaligus.

Pendidikan formal, nonformal dan informal perlu dilakukan sepanjang hayat dan dimanapun secara sinergis dan seimbang. Konsep internasional terkini, Education of Sustainable Development (ESD), dan Sustainable Development Goals (SDGs) sebenarnya telah tercirikan dalam ajaran KHD. KHD mengembangkan pendidikan nasional berbasis budaya lokal sendiri dengan proses akulturasi seni permainan (Frˆbel), panca indera & kemerdekaan (Montessori), wirama (Stiener), seni musik & tari (Dalcroze) dan seni & alam lingkungan (Tagore).

KHD mendirikan Perguruan Tamansiswa 3 Juli 1922, dinobatkan sebagai Bapak Pendidikan Nasional, dan hari lahirnya diperingati sebagai Hardiknas. KHD mengembangkan sistem momong, among dan ngemong berdasarkan pola asah, asih dan asuh. Kita perlu mengadopsi kembali konsep ”Trisakti Jiwa”, dengan mendidik cipta, rasa, dan karsa dengan wiraga, wirama, wirasa.

Mendidik manusia seutuhnya agar mempunyai karakter unggul, etika, akhlak mulia dan tanggung jawab individu, serta menghormati hak-hak orang lain, alam dan diversitas. Mempunyai wawasan yang cerdas, luas, mendalam dan futuristik untuk berkontribusi nyata pada pembangunan seutuhnya pada masa sekarang dan mendatang.

Setiap anak mempunyai bakat, kelebihan dan keunggulan diri spesifik sendiri, berbeda antar anak dan relatif tidak sama. Menyamaratakan proses pendidikan dogmatis, matematis, hafalan, dan ujian negara, membuat anak semakin stress, tertekan dan ketakutan.

Falsafah Jawa

Ajaran KHD tercermin dalam konsep ‘Ikigai’ dari Jepang dan falsafah Jawa untuk menjadi jalma kang utama. Bahwa pendidikan harus menajamkan potensi anak didik sesuai kodrat alam, kehendak jiwa, bakat, hobi, talenta dan merdeka.

Selanjutnya bisa berkarya di masyarakat sesuai dengan peran dan fungsinya. ‘Taman pengetahuan milenial 4.0’ bagi anak-anak generasi milenial maupun Z pada era pandemi dan masa mendatang nampaknya menjadi media yang sesuai. Belajar, bekerja dan beribadah secara bersama pada TriPusat Pendidikan terpadu secara sinergis dan harmonis.

Restorasi sistem pendidikan milenial harus berakar kuat pada budaya luhur bangsa sendiri, guna mempersiapkan peradaban baru Indonesia Emas. Juga harus berani mengembangkan konsep out of the box, within the system. (Artikel ini dimuat Opini KR, Rabu 13 Mei 2020)

BERITA REKOMENDASI