Trump dan Masa Depan Timur Tengah

Editor: Ivan Aditya

KEMENANGAN Donald Trump (Partai Republik) atas Hillary Clinton (Partai Demokrat) sangat mengejutkan. Hillary yang memiliki pengalaman panjang dalam dunia politik dan pemerintahan, harus mengakui kekalahannya atas Trump. Pada pemilu yang digelar 8 November lalu, Trump mengumpulkan 276 suara elektoral, sementara Hillary hanya memperoleh 218 suara. Dalam konteks politik Amerika Serikat (AS), kandidat harus memperoleh angka minimal yakni 270 suara elektoral untuk bisa menjadi Presiden AS. Kemenangan Trump banyak ditentukan di lima negara bagian yang secara tradisional menjadi rebutan Partai Republik dan Partai Demokrat : Pennsylvania, Wisconsin, Ohio, Florida dan Iowa.

Kemenangan Trump tidak bisa dilepaskan dari pesan sederhananya kepada publik AS. Dengan canggih menawarkan optimisme make America great again. Pesan inilah diyakini mampu mengubah peta politik khususnya di lima negara bagian tersebut. Pesan singkat Trump tersebut merupakan upaya restorasi yang ingin mengembalikan kejayaan AS di era tahun 1950 dan pada tahun 1980.

Pesan ini juga tidak bisa dilepaskan bagaimana Trump ingin meniru gaya Ronald Reagan yang membawa AS meraih era keemasannya. Slogan Trump ini tentu lebih bisa diterima oleh publik AS daripada slogan kampanye Hillary yang terkesan bernuansa proposal dan tidak menjawab kebutuhan masyarakat AS.

Timur Tengah

Terpilihnya Trump menjadi Presiden AS yang ke-45 akan memberikan nuansa baru dalam panggung politik internasional khususnya di Timur Tengah. Wilayah Timur Tengah bisa dikatakan menjadi isu yang sangat panas dalam konteks pertarungan politik antarkandidat calon presiden AS. Hal ini bisa kita lihat dalam tiga kali debat presiden AS, persoalan Timur Tengah selalu menjadi sorotan publik AS untuk menjatuhkan pilihannya kepada salah satu kandidat. Dalam konteks ini, Trump dianggap lebih bisa memberikan rasa aman ke publik AS terkait dengan masalah Timur Tengah.

Kebijakan Trump di Timur Tengah bisa diprediksikan akan sangat keras khususnya terkait dengan pengungsi Suriah. Dalam kampanye, Trump eksplisit mengatakan AS akan menutup pintu rapat-rapat terkait pengungsi Suriah. Dalam konteks lebih luas, Trump bisa dikatakan akan menjalin persahabatan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menyelesaikan krisis politik di Suriah. Trump akan menggandeng Rusia untuk mendukung pemerintahan Bashar al- Assad. Dalam hal ini, kepentingan AS adalah bagaimana menggunakan rezim Assad untuk war on terror.

Persoalan lain yang menjadi perhatian Trump di Timur Tengah adalah persoalan nuklir Iran. Kesepakatan nuklir Iran antara Iran dan AS di era Barack Obama merupakan hal yang tidak disenangi Trump. Hal ini terungkap dalam sesi debat presiden. Saat itu Trump sangat mengecam kebijakan Obama yang sangat lemah atas nuklir Iran. Maka dalam konteks ini, hal yang sangat terbuka sekali jika Trump akan memposisikan Iran sebagai musuh bersama di Timur Tengah.

Segitiga Suni

Strategi Trump yang sangat mungkin adalah membangun apa yang disebut sebagai segitiga Suni. Negara-negara yang memiliki potensi yang bisa dilibatkan adalah Arab Saudi, Turki dan Mesir. Ketiga negara ini secara historis memiliki bibit-bibit konflik dengan Iran khususnya Arab Saudi. Hubungan Iran dan Arab Saudi bisa dikatakan sangat kritis di tingkat regional Timur Tengah. Keduanya ingin menampilkan diri sebagai penguasa sekaligus sebagai pihak yang paling berpengaruh di Timur Tengah. Krisis yang melanda Yaman dan Suriah saat ini adalah bagian dari perang regional antara Iran dan Arab Saudi. Maka tidak mengherankan jika kemudian Trump akan menggunakan kartu Arab Saudi dan aliansinya di Timur Tengah untuk menghadapi Iran.

Bisa disimpulkan, terpilihnya Trump sebagai Presiden AS mendatang akan mengubah peta politik di Timur Tengah khususnya terkait dengan persoalan Suriah dan Iran.

(Fatkurrohman SIP MSi. Akademisi UGM, Peneliti di Pusat Studi Sosial Asia Tenggara. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Jumat 11 November 2016)

BERITA REKOMENDASI