Trumpnomic

Editor: Ivan Aditya

TERPILIHNYA kandidat Partai Republik, Donald Trump sebagai Presiden ke-45 Amerika Serikat berdasarkan hasil Pemilihan Umum di Amerika Serikat 8 November 2016 lalu, diprakirakan akan mengubah konstelasi politik dan ekonomi dunia. Perubahan konstelasi politik dan ekonomi tersebut disebabkan lebih kepada bagaimana upaya Amerika Serikat melindungi dirinya dari berbagai ancaman, gangguan, hambatan, dan tantangan dari siapapun, sehingga kebijakan politik dan ekonomi Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump nantinya akan bersifat proteksionis. Artinya, perubahan konstelasi politik dan ekonomi dunia, disebabkan karena kebijakan politik dan ekonomi Amerika Serikat yang mengarah untuk melindungi kepentingan Amerika Serikat.

Kebijakan ekonomi yang dicanangkan Donald Trump tampak pada waktu kampanye calon presiden, yaitu ingin menciptakan 25 juta pekerjaan, pembangunan infrastruktur dengan belanja negara sebagai salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi, penurunan pajak, penekanan impor, dan peningkatan ekspor. Donald Trump ingin membuat Amerika Serikat berjaya lagi dengan melakukan get things done, yaitu mengatasi semua kelemahan politik dan ekonomi Amerika Serikat.

Secara teori, pembangunan infrastruktur yang dibiayai dengan belanja negara tetapi di sisi lain menurunkan pajak perusahaan dan individu hanya akan terjadi apabila Amerika Serikat mempunyai sumber pendapatan lain, yaitu peningkatan ekspor yang dibarengi penekanan impor. Inilah hakikat Trumpnomics sebagai bentuk kebijakan ekonomi Donald Trump.

Bagaimana dampak Trumpnomics bagi ekonomi Indonesia? Berdasar nilai ekspor ke negara tujuan ekspor selama tahun 2016 (sampai Oktober), Amerika Serikat menjadi tujuan ekspor utama Indonesia dengan nilai ekspor 12.889,1 juta dolar AS, Tiongkok (11.387,1 dolar AS), dan Jepang (10.673,7 dolar AS). Berdasar nilai impor dari negara asal impor selama 2016 (sampai Oktober), Tiongkok menjadi asal impor utama Indonesia dengan nilai impor 24.475 dolar AS, Jepang (10.639,1 dolar AS), Thailand (7.299,4 dolar AS), dan Amerika Serikat (5.953,9 dolar AS). Nampak dari data ekspor tersebut, Amerika Serikat merupakan negara tujuan ekspor utama Indonesia.

Karena itu, apabila Amerika Serikat di bawah Donald Trump akan menekan impor, berarti ekspor Indonesia ke Amerika Serikat akan menurun sehingga akan mengurangi perolehan devisa ekspor. Pada sisi lain, upaya Donald Trump meningkatkan ekspor Amerika Serikat, berarti akan menambah transaksi impor Indonesia dari Amerika Serikat sehingga akan menambah pengeluaran devisa. Berdasar penjelasan ini tampak Trumpnomics akan berdampak bagi penurunan cadangan devisa Indonesia di masa mendatang yang dapat menimbulkan depresiasi rupiah terhadap dolar AS.

Apabila dirinci produk ekspor Indonesia ke Amerika Serikat yang kemungkinannya akan turun karena kebijakan proteksionis perdagangan Amerika Serikat, ternyata tekstil, karet dan produk karet, alas kaki, udang, kakao, dan kopi merupakan produk ekspor utama Indonesia ke Amerika Serikat. Artinya, produk-produk ekspor tersebut merupakan produk yang banyak menyerap tenaga kerja di Indonesia sehingga dengan kebijakan proteksionis Donald Trump akan berdampak terhadap peningkatan angka pengangguran di Indonesia.

Trumpnomics dan dampaknya bagi ekonomi Indonesia harus direspons segera melalui berbagai kebijakan ekonomi yang selama ini sudah dilakukan tetapi dengan penekanan diversifikasi produk ekspor dan negara tujuan ekspor. Di samping itu, Pemerintah Indonesia harus lebih protektif lagi terhadap produk-produk lokal Indonesia yang sebenarnya Indonesia mampu bersaing dengan produk-produk impor. Hal itu dapat dilakukan melalui tahapan kesadaran (awareness) yang menyadarkan permasalahan masa depan penggiat kegiatan ekonomi, sehingga berdasarkan kesadarannya tersebut akan menyelesaikan permasalahan masa depannya melalui keterlibatannya (involvement) dalam penanganan masalah tersebut. Keterlibatan dalam penanganan masalah akan menghasilkan suatu komitmen (committment) untuk selalu berpartisipasi (participation) dalam memahami permasalahan ekonomi Indonesia.

(Dr Rudy Badrudin MSi. Dosen Tetap STIE YKPN Yogyakarta, Pengurus ISEI Cabang Yogyakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Sabtu 26 November 2016)

BERITA REKOMENDASI