Tugu Sebagai Episentrum Media Cetak

Editor: Ivan Aditya

TUGU yang saya maksudkan adalah bentang jalan Margo Utomo dari Tugu Pal Putih hingga Malioboro (kantor Gubernur dan/atau DPRD). Jalan sepanjang lebih kurang 1 kilometer ini adalah saksi hidup tradisi pers di Yogyakarta.

Betapa tidak? Hampir semua cerita kejayaan dan kejatuhan pers Yogya berada di jalan pendek yang membentang lurus dari utara ke selatan. Artinya, ini melengkapi betapa tugu itu jantung banyak hal. Selain sebagai jantung ekonomi dan pariwisata, jantung transportasi, dan jantung kebudayaan.

Tentu saja, Kedaulatan Rakyat atau KR mesti kita sebut mula-mula sebagai simbol ‘Tugu Informasi Yogya’. Di Indonesia, inilah koran tertua yang saat ini masih hidup.

Nyaris semua pers dengan usia sudah melampau setengah abad per bulan ini hidup di kawasan berjuluk ‘Kota Pelajar’ ini. Untuk majalah, ada Suara Muhammadiyah (terbit sejak 1915). Untuk jurnal, ada Basis (terbit sejak 1951). Untuk koran mingguan, Minggu Pagi (1948). Dan, untuk harian, ada Bernas (1946) dan KR yang terbit pertama kali pada 27 September 1945.

Semua media itu masih hidup. Dan, Tugu penyumbang besar hadirnya banyak koran atau majalah. Tentu saja, Tugu identik dengan KR karena ia memang tugunya koran Yogya. Namun, Tugu bukan hanya soal KR, melainkan juga bagaimana majalah musik pertama di Indonesia hadir. Majalah kembar ini bernama duo disko, yakni Diskoria dan Diskorina.

Apa isinya? Astrologi, teka-teki silang, dan lirik lagu dari biduan/biduanita Indonesia seperti Elly Kasim, Lilis Surjani, 3 Dara Sitompul. Juga, lirik lagu. Majalah musik dari Tugu ini kemudian jadi model majalah musik serupa yang muncul di Magelang, Semarang, Surabaya, dan Bandung sebelum era Aktuil datang membawa kebaruan.

Adaptasi

Jika Suara Muhammadiyah tumbuh berbarengan pasangnya pergerakan nasional, Kedaulatan Rakyat hadir di kancah revolusi sedang membadai. Bersamaan dengan dimulainya Indonesia sebagai sebuah negara merdeka. Artinya, KR tumbuh dalam satu tarikan napas dengan Indonesia. Walaupun berdomisili di Yogya, ia saksi pencatat dari dekat sekali bagaimana Indonesia mengukir peradabannya dari revolusi ke pembangunan, hingga ke reformasi.

Dari jalan panjang itu, KR bertahan pada posisinya, ajeg terbit setiap pagi. Koran tua yang tidak ingin tumbang oleh deru zaman yang terus-menerus berubah. Apa kuncinya?

Adaptasi. Kemampuan adaptasi KR mula-mula di sektor politik. KR konsisten berada di lajur ‘politik negara’. Apa garis politik negara, di situ KR berpijak. Ia bukan tipe koran penggebrak meja untuk kekuasaan. Juga, bukan pelayan. Ia adaptif dengan politik anutan negara.

Saat haluan negara adalah memenangkan revolusi, headline halaman depan KR berisi pengobar semangat patriotisme. Sebulan jelang meletusnya Pertempuran Surabaya, KR membobardir halaman depannya dengan persiapan umat Islam di Yogya.

Bacalah judul-judul kabar yang dimuat KR edisi 15 Oktober 1945 di halaman depan: ‘Kaoem Moeslimin Indonesia Angkat Sendjata’, ‘Makloemat Repoeblik Indonesia’. ‘Kami Protes’, dan ‘Pemoeda Lawan NICA’.

Adakah KR koran Sukarnois garis keras? Atau, pendukung PKI? Bukan. KR hanya hidup beradaptasi dengan haluan politik negara. Ia tidak berkonfrontasi langsung dengan kekuasaan, sebagaimana Pedoman maupun Indonesia Raya.

KR tampaknya sadar bahwa rezim berganti. Pastilah, berganti pula haluan politiknya. Ketika Suharto tidak lagi memberikan tempat apa pun yang ada di masa Sukarno, haluan redaksi KR/Minggu Pagi juga turut mengikutinya.

Kekuatan adaptasi politik redaksi – dan, tentu saja manajemen perusahaan yang baik – seperti inilah yang membuat KR/Minggu Pagi tetap ada dan menjadi bacaan pagi warga Yogyakarta sampai hari ini. Dan telah melewati bentang waktu 75 tahun.

Muhidin M Dahlan.
Pengelola Warung Arsip, tinggal di Bantul.

BERITA REKOMENDASI