Ujian Nasional (tidak) Kian Sulit

BANYAKNYA siswa SMA yang mengungkapkan kesulitan menjawab soal Ujian Nasional (UN) telah membuat heboh kalangan orang tua dan siswa tingkat SMP. Muncul kekhawatiran siswa SMP akan merasakan kesulitan yang sama saat mengerjakan soal UN nantinya. Apalagi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyatakan soal-soal UN dari tahun ke tahun akan bertambah tingkat kesulitannya.

Kekhawatiran lainnya muncul sebagai akibat meningkatnya kesulitan soal tersebut, yakni turunnya nilai UN dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Padahal nilai tersebut dibutuhkan untuk seleksi ke jenjang berikutnya, yakni SMA. Seperti diketahui, untuk Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMA dan SMK di DIY, meski menerapkan zonasi, tetap mempertimbangkan seleksi nilai hasil UN untuk memperebutkan kursi yang tersedia di zona.

Sebetulnya sulit dan tidaknya soal, tidak akan menjadi persoalan serius ketika dalam menjawab soal, jika siswa mendapat ilmu yang memadai dan mengalami tahapan proses yang matang sehingga mereka memperoleh pemahaman yang baik. Karena itu, ketika muncul soal-soal yang dalam tingkatan sulit, manakala siswa memiliki pemahaman dan konsep yang bagus, maka tidak sulit untuk menjawabnya.

Siswa memasuki tahapan proses dimaksud yakni ketika siswa dalam mempelajari ilmu, tidak semata-mata menghapal atau mengingat-ingat teori atau ilmu yang didapat, tetapi mengetahui kenapa ilmu atau teori itu muncul. Persoalan apa dibalik munculnya teori dan manfaat apa yang diperoleh dari teori atau ilmu yang ditemukan tersebut.

Dengan metoda mengajak siswa mengetahui proses dimaksud, maka secara tidak langsung siswa akan muncul kemampuan memecahkan masalah. Sama halnya ketika siswa diberikan soal-soal yang terkait dengan ilmu yang dipelajarinya. Maka siswa tidak sulit untuk memecahkan atau menjawab soal tersebut.

Sama halnya dengan matematika yang kerap menjadi momok peserta ujian dengan tingkat kesulitannya. Jika anak memahami proses pembelajaran matematika dengan baik, maka lika-liku soal matematika bisa dilewati dengan baik.

Untuk mengajak siswa memahami proses pembelajaran matematika, siswa tidak semata-mata diajarkan bagaimana mengetahui angka dari proses penambahan, perkalian, pembagian. Sebagai contoh,  2 + 4  = …?, yang hasilnya 6. Tetapi juga siswa diajarkan bagaimana cara memperoleh angka 6.  Untuk memperoleh angka tersebut, banyak langkah atau caranya. 6 = 2 + 4, atau 6 = 1 + 5, atau 6 = 2 x 3, atau 6 = 12 : 2. Dalam kontek ini siswa dijarkan berfikir alternatif, sehingga mereka dalam memecahkan atau mengahdapi persoalan tidak hanya melihat dari satu sisi saja, tetapi dari begai sudut pandang yang berbeda-beda.  

Inti dari penjelasan tersebut, siswa ketika menuntut ilmu, tidak hanya belajar dari kenapa ilmu itu muncul (epistimologi), tetapi juga mengandung manfaat apa (ontologi), dan juga punya tujuan apa (aksiologi) dari ilmu tersebut. Konsep seperti ini sebetulnya menjadi bagian dari Kurikulum 2013 (K-13). Untuk mencapai kemampuan memahami proses, maka dibutuhkan banyak referensi dan juga diskusi, termasuk belajar bersama. Di sini guru dalam proses belajar mengajar tidak lagi dituntut untuk mengajar tentang definisi/pengertian tentang sesuatu misalnya apa itu matematika, tetapi bagai mana guru mengajarkan kepada siswa untuk memecahkan persoalan yang ada dalam kehidupan dengan mengunakan logika matematika. Pada tahap ini guru diharapkan dapat menggugah daya kritis dan menajamkan pisau analisis dari siswa dalam memecahkan persoalan, yang pada puncaknya pada diri siswa mempunyai kemampuan meta kognisi yang sangat bagus.

Abdurrahman SPd MSi, Guru SMPN 5 Yogyakarta.

 

 

BERITA REKOMENDASI