Usia Panjang Ketoprak Radio

Editor: Ivan Aditya

SEBAGAI bagian utama dari wilayah kultural Mataram, Yogyakarta (baca: DIY) berperan besar dalam menancapkan kehadiran produk budaya berupa kesenian tradisional kerakyatan ketoprak. Suatu kesenian rakyat yang bersebaran luas, menembus lintas-lapis vertikal-horizontal dalam masyarakat, dan beruratberakar sampai saat ini. Lepas dari segala kelebihan dan kekurangannya, dari semua pasang surut dinamika perkembangannya, keragaman bentukisi format saji dan pengelolaannya, ketoprak dapat menjadi salah satu penanda dan penyangga identitas budaya Yogyakarta.

Sejumlah sumber menyebut, seni rakyat ini lahir di pedesaan DIY sekitar 1890, dikembangkan di Solo (1900) untuk kemudian menyebar subur di Yogyakarta sejak 1925 hingga meluas ke seantero wilayah budaya Jawa dalam berbagai ragam dan jenisnya. Salah satu ragam ketoprak yang sangat penting dan berpengaruh, adalah ketoprak radio yang lahir sejak awal pertumbuhan ketoprak dan berkembangnya teknologi siaran.

Berkait dengan Peringatan Hari Radio Nasional, 11 September, mata siaran ketoprak layak dikenang. Dunia seni ketoprak tidak dapat dilepaskan dari jasa besar dan panjang keberadaan siaran radio, khususnya Radio Republik Indonesia (RRI) Yogyakarta sejak kelahirannya (1945) sampai saat ini. RRI Yogyakarta terus tanpa putus menyiarkan kesenian ketoprak, baik langsung dari studio, siaran tunda, siaran koleksi rekaman, maupun siaran langsung dari panggung pertunjukan. Dalam hal pelestarian, pengembangan, dan pewarisan seni ketoprak, jasa dan pengabdian RRI Yogyakarta patut dicatat dengan tinta emas secara kebudayaan. Demikian pula stasiun radioradio siaran sampai saat ini masih banyak yang memiliki program seni ketoprak.

Pengamat dunia penyiaran, ADarmanto menyebut siaran program ketoprak di radio (auditif) merupakan program siaran terpanjang usianya, lebih dari 80 tahun terus mengudara. Amat jarang mata siaran yang bertahan sepanjang itu, apalagi mata acara seni tradisional. Banyak sumber mencatat Ketoprak Radio pertama kali disiarkan tahun 1935 oleh Radio MAVRO (Mataramsche Vereniging voor Radio Omroep) di Yogyakarta. Diteruskan pada radio di zaman pendudukan Jepang dan sejak awal kelahirannya, 1945, RRI Yogyakarta memasukkan ketoprak sebagai salah satu mata acara siarannya. Bahkan Ketoprak Mataram RRI Yogyakarta tidak saja menjadi ikonik-aksentuatif atas keberadaan RRI Yogyakarta, tetapi juga menjadi salah satu kekayaan identitas karya seni berkejogjaan masyarakat DIY.

Ketoprak Mataram RRI Yogyakarta, memang berada dalam ragam ketoprak radio tetapi luasan terdampak secara estetika, merambah ragam ketoprak utama, yaitu ketoprak panggung. Satuan estetika ketoprak yang dilahirkan dan dikembangan insan Ketoprak RRI Yogyakarta dari zaman ke zaman (1945-sekarang), membawa perbawa besar dan menjadi salah satu acuan penting kualifikasi penyajian seni pertunjukan ketoprak. Satuan-satuan estetika auditif yang berspektrum luas, daya aruhnya begitu multidimensional terhadap seni pertunjukan ketoprak panggung, bahkan seni pertunjukan dalam format ketoprak televisi (audio-visual). Sebaliknya, harus diakui pula bahwa kebanyakan seniman ketoprak radio sebelumnya dan atau bersamaan dengan itu, memiliki pencapaian estetik dalam ketoprak panggung.

Catatan penting secara kebudayaan di antaranya adalah kemampuan ketoprak sebagai kesenian tradisi kerakyatan memanfaatkan kelebihan-kelebihan media siaran auditif (radio) sebagai pencipta ”drama batin” di benak pendengarnya. Sinergi ketoprak dan media radio siaran telah luluh menyatu hingga melahirkan semacam genre ketoprak tersendiri.

Ketoprak Radio

Bersamaan dengan itu, ”ketoprak radio” tetap menampakkan diri sebagai ”seni siaran” yang tidak pernah meninggalkan satuan estetika ketoprak panggung. Lebih dari itu, hampir semua pencapaian estetika ”ketoprak radio” terus rela diperdialogkan dengan berbagai dimensi kultural, bahkan aplikatif, kepada jenis-jenis seni tradisi lainnya seperti uyon-uyon, jenggleng, dagelan, sandiwara, dan ketoprak rekaman. Sinergitas seni tradisi kerakyatan dan media dalam merawat kebudayaan menjadi catatan penting peran dan fungsi yang dimainkan Ketoprak Radio.

Ketoprak radio, pernah (dan masih?) menjadi ”tontonan telinga” yang digemari, bahkan digandrungi. Sampai-sampai, kata salah satu pelaku Ketoprak Radio sejak tahun 60-an, Widayat (73), dulu siaran ketoprak dari studio RRI Yogyakarta, pernah menyediakan tempat untuk penonton. Penggemar membayar untuk melihat ketoprak ndheprok (pertunjukan ketoprak yang pemainnya hanya duduk dan bicara di depan mikropon). Catatan lain, seni auditif yang disajikan lewat ”seni bunyi dan suara”, ucapan dialog-monolog dan musik-ilustratif, yang terstruktur dalam seni drama ketoprak, terbukti mampu menciptakan ruang panggung di benak pendengarnya. Kelebihan lain, umumnya para seniman ketoprak radio memiliki kemampuan membuktikan diri sebagai aktor di panggung pertunjukan. Enak didengar dan ditonton.

Arti penting keberadaan Ketoprak Radio tidak hanya menyumbang segi-segi teknis-estetis seni ketoprak tetapi juga memperlihatkan arti penting peran media (radio) terhadap kebutuhan eskpresi masyarakat lewat jalan kesenian dan keperluan resepsi publik untuk mendapatkan hiburan dan literasi nilai. Ketoprak Radio, panjang usianya dan semoga tetap sehat adanya. Sekali di udara tetap di udara. Merdeka!

(Purwadmadi. Penulis dan pengamat seni budaya. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Selasa 13 September 2016)

BERITA REKOMENDASI