Van Lith dan Pendidikan Transformatif

Editor: Ivan Aditya

JUMAT (23/9), Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) memberikan penghargaan kepada Romo van Lith SJ. Pemberian penghargaan ini merujuk pada jasa Romo van Lith yang mengembangkan praktik pendidikan humanis yang membebaskan.

Romo van Lith SJ atau Romo Franciscus Georgius Josephus van Lith SJ (17 Mei 1863 – 9 Januari 1926) adalah seorang imam misionaris Jesuit di Tanah Jawa. Tahun 1897, Romo van Lith SJ tiba di Muntilan. Mendirikan sekolah guru di Muntilan dan memperjuangkan status pendidikan orang-orang pribumi pada kurun masa pendudukan pemerintah kolonial Belanda.

Pendidikan, menjadi salah satu karya monumentalnya. Mendidik para pemuda pribumi dalam memperjuangkan martabat manusia yang di dalamnya termasuk memperjuangkan kesejajaran antarmanusia serta membebaskan manusia dari segala bentuk penjajahan. Perjuangan ini ditempuh melalui pendekatan kepada tokohtokoh kunci orang Jawa dengan memahami dan mencoba mengembangkan visi inkulturatif dan kontekstual, terutama Budaya Jawa.

Romo van Lith SJ mendidik kader-kader militan dengan harapan agar mereka dapat menyinarkan pengaruh di tempat mereka berkarya. Untuk membentuk kader andal, Romo van Lith SJ telah memilih sarana yang jitu, yaitu dengan mendirikan sekolah guru dan menyelenggarakan pendidikan berkualitas, yaitu HIS, HCS, HIK, NS, Schakel School, dan Ambacht School.

Semua bentuk pendidikan yang diarahkan pada pembentukan agen perubahan sosial tersebut ditempuh melalui pelajaran bahasa asing (Bahasa Belanda), pendidikan kontekstual (pembentukan karakter dan identitas serta situasi budaya setempat). Dan asrama (pembinaan intensif, disiplin) sebagai bagian dari pola pendidikan dan pembinaan berkelanjutan.

Transformasi Budaya

Bagi Romo van Lith SJ, pendidikan merupakan wujud penghayatan iman kristiani dan cita-cita perubahan sosial (bonum commune). Perhatian dan konsistensinya pada jalur pendidikan ini menyasar pembinaan pribadi manusia demi kesejahteraan kelompok atau bersama dan keterlibatan individu. ”Tujuan kita adalah memberi pendidikan yang tinggi kepada pemuda-pemuda Jawa, sehingga mereka mendapatkan kedudukan yang baik di dalam masyarakat (sosial). Kepada mereka, kita memberikan pendidikan kristiani (iman), dan bila nanti mereka tersebar di seluruh Pulau Jawa, kita akan menanti tumbuhnya dan mekarnya benih-benih yang kita harapkan… Orang-orang Jawa di negerinya sendiri hidup tertekan karena orangorang Belanda dan Indo yang berlagak sebagai orang-orang berkuasa dan orang-orang kaya. Sekolah akan membuka jalan untuk membuka tekanan itu,” demikian catatan Romo van Lith SJ.

Berkat didikan inilah di kemudian hari ada banyak guru lulusan Muntilan dikirim ke seluruh penjuru tanah air. Para guru yang digembleng di sekitar Muntilan pada akhirnya menjadi seorang pendidik alias educator yang membentuk pribadi-pribadi manusia Indonesia yang berkarakter dan berintegritas.

Beberapa tokoh hasil didikan Romo van Lith SJ di antaranya Mgr Albertus Soegijapranata SJ (22 November 1896 – 22 Juli 1963), Ignatius Joseph (IJ) Kasimo Hendrowahyono (10 April 1900 – 1 Agustus 1986), dan Drs. Frans Seda (4 Oktober 1926 – 31 Desember 2009). Mgr Albertus Soegijapranata SJ adalah Uskup pribumi pertama di Indonesia. Sebagai seorang nasionalis dan tokoh agama, beliau terkenal dengan semboyannya 100% Katolik, 100% Indonesia. IJ Kasimo menyusun pidato yang menyuarakan hak Bangsa Indonesia untuk memupuk eksistensinya sebagai bangsa yang merdeka dan memiliki hak untuk berusaha ke arah penataan Negara sendiri. Dan Drs Frans Seda menjadi tokoh tiga zaman pada era Orde Baru, Orde Lama maupun Orde Reformasi dengan peran sebagai menteri dan kontributor pengembangan demokrasi.

Penutup

Perjuangan dan semangat Romo van Lith SJ dalam merintis karya pendidikan bagi kaum pribumi tampak dihayati, dimiliki dan dijunjung tinggi para mantan muridnya. Semangat dan nilai luhur ajarannya yang masih didengung-dengungkan antara lain toleransi, disiplin pribadi, kejujuran, kesederhanaan, pengabdian tanpa pamrih, dan nasionalisme. Nilai-nilai ini tidak saja hanya digaungkan namun telah menjadi semangat dasar dari setiap perjuangan para mantan murid atau generasi di negeri ini.

(CB Ismulyadi. Pegiat Kamis Menulis dan Guru Menulis, PNS Kemenag Kota Yogyakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Senin 26 September 2016)

BERITA REKOMENDASI