Virus Zika Pendidikan

Editor: Ivan Aditya

BARANGKALI Zika merupakan virus yang paling terkenal di dunia untuk sekarang ini. Virus yang konon asalnya dari daerah pedalaman Afrika ini sekarang sedang ìmengobrak-abrikî manusia yang tinggal di negara maju Singapura. Sudah puluhan orang di negara yang memiliki rumah sakit modern seperti Singapore General Hospital, Mount Elizabeth Hospital, National University Hospital, dsb. terserang virus Zika.

Virus Zika yang penyebarannya melalui media nyamuk Aedes Aegypti dapat membuat serangan fatal yaitu membuat cacat bawaan pada anak dan gangguan syaraf pada orang dewasa. Karena begitu berbahayanya serangan Virus Zika maka Indonesia membuat semacam travel warning bagi warga negara yang akan berkunjung ke Singapura.

Bagaimanakah akibatnya kalau Virus Zika tersebut menyerang dunia pendidikan kita? Atau jangan-jangan sudah lama menyerang dunia pendidikan dan menyebabkan cacat bawaan dan/atau gangguan syarat pada masyarakat stake holder pendidikan kita. Ketidakjujuran ibarat Virus Zika bagi dunia pendidikan. Artinya, pembiaran atas berlangsungnya ketidakjujuran dipastikan berakibat fatal bagi masa depan bangsa kita.

Kalau kita mau jujur, pembiaran atas berlangsungnya ketidakjujuran itu sudah lama dalam dunia pendidikan. Pada satuan pendidikan dasar dan menengah dapat kita lihat dalam pelaksanaan Ujian Nasional (UN), pada sisi lain pada satuan pendidikan tinggi dapat kita lihat pada proses penilaian untuk mendapatkan Indeks Prestasi (IP).

Ketika UN dilaksanakan maka ketidak-jujuran terjadi di banyak sekolah; tidak sebatas sekolah umum seperti SMP dan SMA tetapi juga sekolah keagamaan seperti MTs dan MA. Ketidakjujuran tersebut tidak hanya dilakukan oleh siswa yang berkepentingan langsung pada kelulusan, tetapi ironisnya juga dilakukan guru, dan kepala sekolah yang secara tidak langsung berkepentingan terhadap kelulusan siswa. Tentu tidak semua siswa, guru dan kepala sekolah tidak jujur dalam pelaksanaan UN karena yang jujur juga banyak. Dibentuknya Tim Sukses yang berkonotasi negatif di berbagai sekolah bukan menjadi rahasia umum lagi.

Barangkali kita masih ingat pernah dilaksanakannya tes kejujuran yang ‘mengiringi’ UN. Tes kejujuran ini dapat diartikan merupakan pengakuan pemerintah atas terjadinya ketidak-jujuran tersebut.

Pada satuan perguruan tinggi yang mengandalkan IP sebagai alat ukur prestasi lulusan terjadi hal yang senada, meskipun tidak separah dalam pelaksanaan UN. Karena IP merupakan basis prestasi yang dapat dipakai untuk berbagai kepentingan seperti melanjutkan studi dan melamar pekerjaan maka banyak cara ditempuh untuk mencapai IP maksimal. Contohnya banyak mahasiswa melakukan ketidakjujuran dengan mengcopy paste karya orang lain yang dilakukan sebagai karya pribadi demi IP. Tentu tidak semua mahasiswa melakukan ketidakjujuran.

Di tingkat satuan banyak perguruan tinggi mengobral nilai dengan tujuan pencapaian IP mahasiswa yang maksimal. Pengobralan ini dilakukan dengan cara yang tidak jujur seperti meluluskan mahasiswa yang seharusnya tidak lulus. Tentu tidak semua perguruan tinggi mengobral nilai. Ketidakjujuran dalam pendidikan tersebut akibatnya fatal; kebanyakan koruptor justru orang-orang yang berpendidikan, bahkan kebanyakan berpendidikan tinggi. Kalau diperhatikan bupati, gubernur, anggota DPR, pimpinan partai, pengusaha, dsb. yang korupsi kebanyakan justru orang yang berpendidikan.

Pada sisi yang lain meski kebanyakan lulusannya ber-IP komulatif yang tinggi tetapi mutu institusi perguruan tinggi di Indonesia relatif rendah bila dibandingkan dengan perguruan tinggi di manca negara; khususnya perguruan tinggi di negara maju.

Ketidakjujuran dalam pendidikan sama dengan Virus Zika, memberi serangan fatal. Sedikit bedanya, kalau Virus Zika bekerjanya sangat cepat, sedangkan ketidakjujuran bekerjanya pelan tetapi pasti.

Sadar atau tidak, ketidakjujuran dalam pendidikan telah menghancurkan bangsa kita. Secara empiris tidak ada negara maju kalau koruptornya meraja lela menggerogoti uang negara. Di sisi lain tidak ada negara maju kalau perguruan tingginya tidak bermutu.

Sekolah, madrasah dan perguruan tinggi berbasis agama seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), Maarif, Kristen, Katolik, dsb. harus berani memelopori cerdas dan bersih dalam menjalankan proses pembelajaran. Demikian juga sekolah dan perguruan tinggi Tamansiswa yang didirikan oleh Bapak Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara. Siswa dan mahasiswa harus dibiasakan belajar dan bekerja jujur dari awal.

Siapa pun kepala dinasnya, siapa pun menteri pendidikannya, dan siapa pun presidennya, kita harus berani mengenyahkan ketidakjujuran dalam pendidikan sekaligus memberantas Virus Zika Pendidikan.

(Prof Dr Ki Supriyoko. Direktur Pascasarjana Pendidikan UST Yogyakarta dan Wakil Ketua Umum Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Kamis 8 September 2016)

BERITA REKOMENDASI