’Work from Home’ vs Kuantitas Sampah

Hijrah Purnama Putra
Penulis adalah Dosen Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan UII

BERBICARA masalah sampah, tidak akan pernah ada habisnya. Sekarang banyak aktivitas terhenti dan tergantikan di lokasi lain. Misal aktivitas di sekolah, kampus, kantor yang harus dilakukan dari rumah, ternyata tidak mengurangi kuantitas sampah yang dihasilkan. Karena sampah melekat dengan aktivitas manusia.

Artinya selama aktivitas tersebut terus dilakukan maka sampah akan terus pula diproduksi. Menarik untuk dikaji adalah apakah kuantitas sampah yang dihasilkan saat Work form Home (WfH) akan berubah dibandingkan kondisi biasanya? Saat ini, Yogyakarta sedang menghadapi masalah serius dalam penanganan sampahnya.

Headline media cetak dalam tahun 2020 saja sudah beberapa kali memuat berita tentang sampah. Terutama terkait penutupan sementara Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) yang berlokasi di Kecamatan Piyungan, Bantul. Penutupan tersebut mengakibatkan sampah yang dihasilkan di wilayah Sleman, Kota Yogyakarta dan Bantul tidak dapat diangkut dan akhirnya menumpuk di berbagai lokasi, bahkan di pusat kota.

Sampah Organik

Saat WfH ternyata aktivitas rumah meningkat lebih produktif dari biasanya. Meja makan selalu terisi sejak dari sarapan, makan siang hingga makan malam. Sebelumnya, sebagian besar aktivitas makan siang dilakukan secara terpisah di lokasi masing-masing, di kantor, kantin sekolah, kampus, warung makan dan lokasi lainnya.

Otomatis dapurpun berproduksi lebih tangguh dari kondisi sebelumnya. Aktivitas ini memicu jumlah sampah organik yang lebih tinggi dari biasanya. Penulis saat WfH mencoba menghitung perubahan yang terjadi terhadap sampah organik, ternyata mengalami kenaikan ±10% dari kondisi biasanya, dari angka 60% menjadi 70%. Begitu pula dengan sampah anorganik, khususnya plastik kemasan dari berbagai produk makanan.

Produk-produk ini menjadi andalan sebagai stok makanan kering/instan di rumah, ternyata berkontribusi negatif terhadap jumlah sampah yang dihasilkan. Secara persentase memang sampah anorganik turun, namun sebenarnya jumlahnya bertambah dari kondisi biasanya. Ditambah jenis sampah residu menjadi lebih tinggi, seperti sampah masker, sarung tangan sekali pakai, tisu, atau produk pembersih lainnya, yang digunakan sebagai tambahan proteksi saat beraktivitas di dalam maupun luar rumah.

Pengomposan

Media sosial seringkali memunculkan gambar-gambar tentang bersihnya udara kota-kota besar akibat dari aktivitas WfH, bagaimana dengan kondisi TPST? Ternyata sangat berbeda drastis. Penambahan kuantitas sampah tersebut akan menambah beban dari TPST Piyungan, yang sebelumnya pun telah penuh masalah.

Bagaimana peran kita? Agar disaat WfH, kita juga memiliki kontribusi positif terhadap kualitas lingkungan. Saatnya mencoba hal yang baru, salah satunya adalah pengomposan skala rumah tangga. Paling tidak, saat kita berhasil mengelola sampah organik, berarti 70% sampah telah berhasil dikurangi untuk diangkut menuju TPST.

Sudah sangat banyak metode pengomposan yang dapat dipelajari, baik dari buku maupun tutorial online lainnya. Alat-alat yang digunakan pun sederhana dan mudah didapat, yang dibutuhkan saat ini adalah kemauan dan kesadaran kita untuk mau mencobanya. Bagaimana dengan sampah anorganik lainnya? Sebisa mungkin untuk dikurangi agar tidak dihasilkan.

Mulailah bijak saat berbelanja dan memilih produk. Bagaimana jika tetap dihasilkan? Perlakukan dengan baik, bersihkan dan simpan. Saat nanti kondisi telah membaik, setorkan kembali ke bank sampah langganan kita. Tinggal sampah residu yang kita setorkan ke truk atau gerobak sampah yang biasa melayani rumah kita.

Langkah sederhana, jika dilakukan bersama dan konsisten maka akan berdampak. WfH mengajarkan kita untuk mengerjakan banyak hal baru, salah satunya adalah bertanggungjawab terhadap sampah yang kita hasilkan.

BERITA REKOMENDASI