Yesus Kristus, Perwujudan Kasih Allah

Editor: Ivan Aditya

JUDUL di atas merupakan tema Natal di Keuskupan Agung Semarang tahun 2016 ini. Tema itu menuntut sebuah konsekuensi agar Keuskupan Agung Semarang bersama umatnya mampu mewujudkan peradaban kasih di Indonesia. Sebab Yesus Kristus yang diperingati dan dinantikan kedatangannya adalah perwujudan kasih Allah bagi manusia. Melalui Dialah kasih Allah hadir dalam seorang pribadi, yang mengatakan secara sempurna kasih Allah tersebut. Perwujudan kasih Allah itu diharapkan pertama tama terjadi di dalam keluarga.

Oleh karena itulah keluarga dituntut pertama dan utama menjadi paguyuban kasih. Lantaran kasih orangtua sesungguhnya menggambarkan kasih Tuhan kepada manusia. Sejak dalam kandungan, manusia dikasihi Tuhan. KasihNya tidak pernah luntur sekalipun manusia kadangkala menyakiti Nya. KasihNya tidak ditarik, sekalipun kita tolak. Saat manusia menjauh, justru Dia semakin mengasihi. Betapa bahagianya ketika manusia kembali bersimpuh dan bertobat di hadapanNya.

Paguyuban Kasih

Sikap yang perlu dipupuk di dalam keluarga pada masa Natal ini bahwa sebagai paguyuban kasih harus mengembangkan sikap inklusif, inovatif dan transformatif. Sikap inklusif bisa dimaknai terbuka dan selalu menghormati perbedaan yang artinya memahami bahwa setiap orang berkehendak baik entah bagaimana caranya. Sebuah keyakinan ditumbuhkan bahwa agama menuju kebaikan karena semua agama membimbing orang menuju kepada Allah. Inovatif menunjukkan sikap yang beda terhadap kebanyakan orang yang biasanya mempunyai kriteria keduniawian. Sementara sikap Kristiani bertumpu pada kriteria Ilahi yang berbeda dari kebanyakan orang.

Hal ini meneladan sikap Tuhan sendiri yang menghargai manusia yang bagaimanapun tingkah dan kelakuannya, ada yang baik ada yang jahat, tetapi semua dikasihiNya tanpa membeda-bedakannya. Dan di dalam keluarga selayaknyalah ditumbuhkan sikap transformatif yang mengajak terus kepada pembaharuan hidup ke arah yang baik terutama dalam penghayatan keagamaan. Kesalehan harus diraih selaras dengan persaudaraan. Religious is interreligious, artinya beriman berarti menghargai pula iman orang lain. Sikap keterbukaan harus dikembangkan terhadap sesama yang tidak dalam kaitan darah dan iman, bahkan orang yang tidak dikenal sekalipun. Karena Agama hanyalah bungkus, tetapi iman dan perwujudannya merupakan inti dari ritual keagamaan.

Keluarga adalah basis terkecil dari gereja dan setiap keluarga dipanggil untuk terlibat dalam usaha kesejahteraan dan penghargaan pada martabat pribadi. Hidup sejahtera berarti terpenuhinya kebutuhan dasar. Dan kebutuhan dasar ini meliputi sandang, pangan, papan, kesejahteraan dan pendidikan. Pemenuhan kebutuhan dasar itu penting sebagai perwujudan upaya membebaskan seseorang dari kemiskinan.

Sementara martabat adalah relasi antarmanusia. Martabat menyangkut bagaimana memandang manusia sebagai ciptaan yang secitra dengan Allah. Sementara harapan akan hadirnya Yesus Kristus sebagai perwujudan kasih Allah di dalam keluarga diharapkan menjadi semangat bagi keluarga untuk menjadi keluarga yang beriman. Karena akhir-akhir ini lantaran majunya teknologi dan perkembangan zaman serta tuntutan kehidupan kehidupan, keluarga semakin tercerai berai. Banyak keluarga yang hidupnya cenderung memrioritaskan kebutuhan duniawi . Sementara apapun yang terkait dengan gereja, iman , moral seringkali diabaikan. Mestinya iman haruslah menyadarkan manusia untuk semakin bergerak aktif dalam kehidupan.

Menggerakkan

Seorang Kristiani tidaklah boleh adem ayem, dalam arti pasif dan hanya mementingkan diri sendiri. Iman haruslah menggerakkan untuk melibatkan diri dalam gereja dan gerakan gerakan yang membawa dampak baik bagi kehidupan bersama. Iman tanpa perubahan hidup dan perbuatan adalah mati. Keluarga diharapkan mampu menumbuhkan rasa syukur atas imannya dan kesetiaan menghayati sampai akhir hidup. Sekalipun tidak mudah dan banyak tantangan tetap dihadapi sampai hembusan nafas terakhir. Hal ini sudah diteladankan pengikut Kristus yang yakin akan imannya bahwa Yesus adalah Yang Kudus dari Allah. Keyakinan yang menggerakkan umat Kristiani di masa awal gereja untuk tetap setia bersama Yesus dan bergairah dalam keterlibatan menghadirkan Kerajaan Allah.

Semoga Peristiwa Natal yang dirayakan Umat Kristiani tahun ini semakin meneguhkan iman dan menumbuhkan kesetiaan untuk mengikuti jejak hidup dan karya Yesus yang penuh pengampunan toleransi dan belas kasih.

(Sugeng Wiyono Al. Mantan prodiakon Paroki Pugeran, tinggal di Bangunjiwa. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Sabtu 24 Desember 2016)

BERITA REKOMENDASI