Yu Djum dan Sepiring Sejarah Gudeg

Editor: Ivan Aditya

SENIN (14/11) sedari siang langit Yogya berkalung mendung. Sore itu rinai hujan tak kuasa jatuh. Dinginnya malam makin menulang tatkala beredar kabar duka di jagat kuliner lokal. Yu Djum, pelaku bisnis kuliner gudeg terkemuka, tutup buku kehidupan. Pemilik nama Djuwariah ini membaktikan hidupnya untuk mengembangkan usaha gudeg menjadi icon kota. Menjajakan sepiring gudeg di bibir jalan dimulai sejak berusia 15 tahun.

Yu Djum laksana pintu gerbang dalam memahami seluk-beluk gudeg dari kacamata sejarah. Makanan lawas ini tercatat dalam mahakarya Serat Centhini (1814-1823). Naskah warisan trah Mataram Islam ini mendokumentasikan gudeg tersebar di wilayah Mataram, Tembayat (Klaten), Majasta (Sukoharjo), dan Wonogiri.

Masyarakat Pedesaan

Juru tulis istana mengisahkan, dalam pertunjukan wayang di Mataram, banyak penjaja makanan mengais rezeki memanfaatkan keramaian tersebut. Makanan yang dijual kala itu beraneka ragam. Ada gudeg kebiri, satai ayam, satai kambing, nasi liwet, gudhang tumpang dan lainnya. Selanjutnya, pengembaraan Cebolang bersama keempat santrinya singgah di rumah Pangeran Tembayat. Mereka di sini menimba kawruh tanpa tepi. Lumrahnya pemilik rumah, para tamu disediakan hidangan dan diajak bersantap. Aneka kuliner disajikan, termasuk gudeg, pindang, dan sambel goreng cuwer.

Kaki terus terayun dan bergerak menyusuri kawasan pedesaan di Jawa sembari mengulik kekayaan pengetahuan lokal. Sesampainya di area Perdikan Majasta, rombongan dijamu Ki Milasa untuk sarapan dengan menu gudeg manggar, kupat, ulam ayam adhem gajik, bubuk kedelai dan telur ayam. Lantas, Cebolang mampir ke rumah Endrasmara di telatah Wonogiri. Keempat istri Endrasmara bernama Indradi, Suresmi, Suwati, dan Lulut diperintahkan menyuguhi tamu yang datang dari jauh. Tak banyak cakap, para perempuan ini berpeluh di pawon demi memanjakan lidah dan perut tetamu dengan beraneka rupa makanan. Di atas meja, tersaji gudeg sambi batos, opor meri brati, gorengan emprit glatik dan lainnya.

Ketiga nama daerah yang saya cukilkan di muka, di masa silam, masuk kawasan kekuasaan Kerajaan Kasunanan dan Mangkunegaran Surakarta. Gambaran historis permulaan abad XIX ini menunjukkan bahwa gudeg tidak hanya ditemukan di belantara Yogya. Serta, makanan yang tersurat dalam serat kuno itu bukan berasal dari kraton atau kelompok elite bangsawan, melainkan milik masyarakat pedesaan.

Waktu terus merayap, gudeg akhirnya lebih dikenal sebagai kuliner khas Yogya daripada wilayah lain, misalnya Solo. Yang belum lekang dalam ingatan, yaitu fenomena Mbok Lindu, penjual gudeg yang berumur hampir seabad. Di setiap sudut kota, mereka berjualan. Segala unsur inilah yang mengokohkan identitas Yogya sebagai ‘kota gudeg’ sepanjang waktu.

Dua Kota

Merujuk pemikiran budayawan Umar Kayam, gudeg di dua kota itu terus ‘bertanding’, memamerkan kekhasan dan mempertahankan cita rasanya. Biar makin percaya, penulis novel Priyayi menuntun kita menata dua piring gudeg Vorstenlanden (daerah kekuasaan kraton). Hasilnya pasti lain. Yang keputih-putihan, santennya agak kental merupakan gudeg gaya Kota Bengawan. Coklat tua kemerahan (kental sekali), medhok, dan rasanya manis, ciri yang menempel pada gudeg Yogya.

Tafsir menggelitik, gudeg ceker Margoyudan yang buka ing wayah lingsir wengi memiliki fungsi secara spiritual. Gudeg disajikan kala pagi untuk kesegaran jasmani, sedangkan yang tengah malam menunjang kesegaran rohani. Begadang sembari makan gudeg ceker mengundang inspirasi. Kian malam, jika yang mendekati pagi makin mengilhami buat wong Solo. Sejumput fakta gudeg Margoyudan menegaskan bahwa Solo ialah ‘kota yang tak pernah tidur’.

Seseorang rela berkunjung di suatu tempat demi berburu dan menikmati kuliner, termasuk pelancong yang datang ke Yogya. Menyantap gudeg bukan sekadar enak dan kenyang, namun juga menghayati kisah sejarah lokal dan memikirkan makna yang tersembunyi di dalamnya. Sugeng tindak, Yu Djum. Di surga yang katanya banyak sajian makanan enak, semoga ada gudeg, dan Yu Djum bisa menjajal rasanya.

(Heri Priyatmoko MA. Dosen Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Jumat 18 November 2016)

BERITA REKOMENDASI