Zakat Profesi Penting Bagi Umat Muslim

Editor: Ivan Aditya

ZAKAT Profesi yang juga dikenal zakat penghasilan adalah bagian dari zakat harta (mal) yang wajib dikeluarkan atas harta yang berasal dari pendapatan / penghasilan rutin dari pekerjaan yang tidak melanggar syariah. Nishab zakat penghasilan sebesar 85 gram emas per tahun dengan kadar zakat senilai 2,5%.

Sesuai fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) dijelaskan, penghasilan yang dimaksud ialah setiap pendapatan seperti gaji, honorarium, upah, jasa, dan lain-lainnya yang diperoleh dengan cara halal, baik rutin seperti pejabat negara, pegawai, karyawan, maupun tidak rutin seperti dokter, pengacara, konsultan, dan sejenisnya, serta pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan bebas lainnya.

Sebagiman firman Allah SWT. Dalam Q.S. Adz-Dzariyat ayat 19, artinya : “Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang – orang yang meminta dan orang-orang miskin yang tidak mendapatkan bagian.

Ayat tersebut juga dikuatkan lagi oleh firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 267, yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, infakkanlah (zakat) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik.” (QS. Al-Baqarah: 267)

Zakat profesi memang diwajibkan bagi setiap muslim yang memiliki penghasilan. Dalam hal ini ulama berbeda pendapat, pendapat pertama mengatakan penghasilan/gaji dihitung dari gaji bruto atau kotor langsung dikali 2,5 % selama mencapai nishab (batas minimal). Pendapat kedua mengatakan setelah dikurangi kebutuhan-kebutuhan pokok, sehingga sisanya baru dikali 2,5%. Inipun juga ketika mencapai nishab. Namun guna menjaga kesucian dan kehati-hatian harta kita, maka disarankan menggunakan pendapat pertama. Karena kalau pendapat kedua, sangat kecil peluangnya untuk mencapai nishab, karena habis dan tidak teratur untuk memenuhi jumlah kebutuhan sehari-hari, sehingga kemungkinannya tidak jadi mengeluarkan zakat.

Sementara, haul merupakan lama pengendapan harta yang dihitung selama satu tahun. Namun, ada beberapa ulama yang tidak mensyaratkan haul dalam mengeluarkan zakat profesi, tetapi dikeluarkan langsung setiap bulan setelah mendapat harta karena menqiyaskannya dengan zakat pertanian yang wajib dibayarkan setiap waktu panen.

Dalam praktiknya, zakat penghasilan dapat ditunaikan setiap bulan dengan nilai nishab perbulannya adalah setara dengan nilai seperduabelas dari 85 gram emas (mengikuti harga emas pada hari dimana zakat akan ditunaikan), dengan kadar 2,5%. Jadi apabila penghasilan setiap bulan telah melebihi nilai nishab bulanan, maka wajib dikeluarkan zakatnya sebesar 2,5% dari penghasilannya tersebut

Ada banyak jenis profesi dengan pembayaran rutin maupun tidak, dengan penghasilan sama dan tidak dalam setiap bulannya. Jika penghasilan dalam 1 bulan tidak mencapai nishab, maka hasil pendapatan selama 1 tahun dikumpulkan atau dihitung, kemudian zakat ditunaikan jika penghasilan bersihnya sudah cukup nishab.

Cara menghitung Zakat Penghasilan :
2,5% x Jumlah penghasilan dalam 1 tahun

Contoh : Nishab zakat profesi/penghasilan adalah senilai 85 gram emas. Misal emas saat ini seharga 800.000 /gram, maka 800.000 x 85 = Rp. 68.000.000 tiap tahun. Ini artinya bahwa setiap penghasilan minimal 68 jt tiap tahun, maka wajib pajak. Jadi missal penghasilan / gaji kita dalam 1 tahun minimal 68.000.000 maka wajib pajak penghasilan/profesi sebesar 2,5 % dari 68.000.000.

Suatu contoh gaji kita sebesar 10jt tiap bulan atau 120 jt tiap tahun maka wajib pajak, karena melebihi nishab senilai 85 gram emas. Sehingga zakatnya 2,5 % dikali 120 jt yaitu sebesar 3jt tiap tahun atau 250 rb tiap bulan.

Tulisan ringan ini semoga menambah khazanah kita terkait zakat profesi, dan semoga Allah memudahkan untuk merealisasikan kewajiban zakat ini dengan mengeluarkan harta kita…..amain ya robal ‘alamiin…

Letkol Sus Giyanto
Kasi Koleksi Muspusdirla

BERITA REKOMENDASI