ZONA PARIWISATA BEBAS COVID

ZONA PARIWISATA BEBAS COVID
Tazbir Abdullah
Mantan Kepala Dinas Pariwisata DIY

 

DESTINASI Pariwisata paska Covid-19 dituntut segera menyesuaikan dengan era Normal Baru (New Normal). Covid-19 telah memporak porandakan industri pariwisata diseluruh dunia. Dampak yang paling besar disebabkan pembatasan mobilitas manusia karena ganas nya virus ini.

Perjalanan wisata berhenti. Organisasi pariwisata dunia menyebutnya sebagai krisis yang luar biasa ( extraordinary crisis ). Belum  pernah ada krisis pariwisata seberat ini. Banyak negara berpengalaman  menghadapi krisis yang disebabkan bencana alam, erupsi gunung merapi, gempa, perang ,huru hara bahkan juga virus sebelumnya yang kemudian pariwisatanya dapat kembali normal tanpa perlu kondisi khusus. Baru kali ini ada tuntutan normal baru (newmnormal) dengan standar protokol covid-19.

Normal Baru menuntut perubahan prilaku masyarakat dunia (tentu saja termasuk wisatawan dan masyarakat didestinasi wisata). Perubahan prilaku berkaitan dengan tanggung jawab setiap orang untuk menjaga keselamatan diri nya dan orang lain dari kemungkinan terkena serangan virus yang mematikan ini. Kebersihan diri manusia dan lingkungan di destinasi wisata menjadi kata kunci.

Sesungguhnya bicara tentang kebersihan, pariwisata kita sudah punya rumusan Sapta Pesona (Aman, Tertib, Bersih, Sejuk, Indah, Ramah dan Kenangan) sebagai standar pelayanan di destinasi,namun sayangnya selama ini kita belum dijalankan dengan baik, baru sebatas materi untuk penyuluhan sadar wisata dan tulisan di baliho serta spanduk saja. Oleh karena itu, Normal Baru ini kita harapkan menjadi momentum agar Sapta Pesona dilaksanakan dengan serius, paling tidak tiga unsur penting nya yaitu aman,tertib dan bersih.

Memang harus diakui ,di Indonesia kebersihan masih jadi masalah. Lembaga pemeringkat pariwisata internasional yang mengukur Index Daya Saing Pariwisata Dunia masih mencatat dua kelemahan pariwisata kita dibanding dengan negara lain yaitu kebersihan dan keamanan. Semoga hikmah pandemi ini dapat menggugah kesadaran kita semua untuk memperbaiki kelemahan pariwisata tersebut.

Zona Bebas.

Dilain pihak, meskipun belum diketahui dengan pasti kapan Covid-19 akan berakhir, saat ini negara negara atau destinasi yang mengandalkan pariwisata sebagai lokomotif ekonomi nya, sudah mulai mempersiapkan diri dengan program pemulihan (recovery) pariwisata paska pandemi menuju normal baru.

Pemerintah bersama industri pariwisatanya telah mengalokasikan biaya khusus untuk itu. Salah satu yang digagas adalah adanya zona zona pariwisata yang aman dan bebas dari virus (Covid-19 Free Zone) sebagai tahap awal. Zona zona ini lah yang akan terlebih dahulu dipromosikan untuk menunjukkan bahwa suatu destinasi sudah siap dikunjungi dengan jaminan kesehatan, higinitas dan jaga jarak. Sebagai contoh, baru baru ini Thailand sudah berani menyatakan kesiapannya untuk menerima kembali kunjungan wisatawan jika pandemi telah berakhir, ini dalam rangka merespon hasil survey yang dilakukan di beberapa kota besar di China , dimana 54 persen responden menjawab bahwa jika covid-19 berakhir dalam tahun ini, mereka akan kembali berwisata keluar negeri.

Hal yang sama juga saya peroleh, hasil survey yang saya lakukan dengan  pertanyaan kepada ratusan teman melalui WA,90% memberi jawaban akan  segera berwisata kembali jika kondisi sudah kondusif ditahun 2020 ini, karena sudah sangat bosan dirumah. Bahkan sekitar 10% berencana berwisata keluar negeri. Tak dapat dipungkiri bahwa berwisata sudah menjadi hajat hidup dan hak azazi manusia sebagai makhluk sosial. Persiapan Destinas DIY.

Paralel dengan upaya pencegahan Covid-19, proses pemulihan pariwisata DIY pun hal yang penting kita bicarakan. Secara bertahap perlu dipersiapkan obyek wisata zona bebas covid ( covid free zone ) di masing masing kabupaten/ kota sesuai dengan karakteristik nya,sehingga pada gilirannya nanti seluruh DIY menjadi destinasi yang bersih dari covid-19. Beberapa obyek wisata seperti candi, kraton, museum atau taman bertema (theme park) yang bersifat kawasan  terbatas yang lebih mudah untuk dikontrol, selayaknya menjadi prioritas awal.

Kunci sukses nya ada pada dua hal yaitu, manajemen destinasi yang baik  (tumpuannya pada pemda kabupaten/kota) dan pernyataan serta jaminan  destinasi telah siap dikunjungi kembali karena telah menerapkan standar protokol yang ditentukan (tanggung jawab nya ada pada pemerintah provinsi ) dengan segala konsekuensi nya. Memang untuk mengembalikan kepercayaan (trust) bagi wisatawan (khususnya wisatawan asing), terhadap jaminan keamanan dan keselamatan jiwa wisatawan didestinasi maka pemerintahlah yang dipercaya , dalam hal ini pemerintah provinsi yang lebih kuat legitimasinya seperti yang dilakukan dibanyak negara lain.

Karena itu, sangat diperlukan kolaborasi yang baik antara pemda provinsi dan kabupaten/kota serta instansi pemerintah terkait (dinas kesehatan), industri pariwisata serta masyarakat lokal seperti kelompok Sadar Wisata (dengan pelatihan khusus) untuk mempersiapkan ini semua. Semoga dalam waktu dekat , DIY juga dapat merilis zona wisata bebas covid sebagai proses awal menuju pemulihan pariwisata. (*)

 

BERITA REKOMENDASI