Ramadan: Sarana Manajemen Nafsu

SETIAP saat, manusia dihadapkan pada perdebatan antara keinginan yang muncul dari dalam diri dengan akal sebagai hakim yang memutuskan. Keinginan-keingingan ini akrab disebut dengan hawa nafsu yang merupakan sebuah keniscayaan sebagai seorang manusia. Hal ini berarti bahwa manusia tidak dapat menghilangkannya. Bawaan ini hanya dapat ditata sedemikian rupa agar tidak melanggar norma-norma yang berlaku, karena nafsu memiliki ruang lingkup yang tidak terbatas.

Imam Ghozali mengartikan nafsu menjadi dua jenis, yaitu nafsu yang berarti jiwa dan nafsu yang diartikan sebagai potensi dasar yang ada dalam diri manusia. Pengertian nafsu sebagai jiwa memiliki esensi bahwa nafsu merupakan inti dari manusia, karena manusia terdiri dari jiwa dan raga. Sehingga kehadiran nafsu tentu menjadi bagian yang erat dari diri manusia. Sedang pengertian bahwa nafsu adalah potensi dasar yang ada dalam diri manusia menandakan bahwa setiap manusia berpotensi menjadi baik dan tidak menutup kemungkinan juga akan menjadi buruk.

Nafsu menjadi tanda bahwa manusia berbeda dengan malaikat. Malaikat adalah makhluk super patuh yang diciptakan Allah. Ia jelas tidak pernah menolak perintah-Nya, bahkan merasa keberatan pun tidak mungkin. Malaikat dapat dianalogikan seperti robot yang patuh pada perintah manusia. Hal ini disebabkan karena malaikat tidak memiliki keinginan atau nafsu di dalam dirinya.

BERITA REKOMENDASI