Resolusi Kemalangan di Hari Kemenangan

user
danar 26 April 2022, 07:12 WIB
untitled

UNTUK mengatasi dampak pandemi Covid-19, pemerintah telah menjalankan banyak program, mulai penyaluran bantuan sosial (Bansos), bantuan bagi PKH, Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), pendanaan kepada pemegang Kartu Pra Kerja, subsisdi listrik, hingga insentif usaha. Program-program sosial kemanusiaan di tengah pandemi tersebut sangat disyukuri dan harus diapresiasi.

Namun apakah lantaran program-program tersebut kemiskinan dan nestapa anak yatim-piatu lantas hilang? Tentu tidak dipungkiri kita masih bisa dengan mudah menjumpai masyarakat yang terlihat sangat memprihatinkan hidupnya.

Contoh, beberapa waktu saya menyaksikan ada seorang laki-laki mengayuh sepeda onthel menjelang waktu berbuka puasa. Dia memboncengkan dua keranjang berisi barang-barang rongsokan, seperti botol minuman bekas, kardus, dan lain sebagainya. Sembari menggendong anak balitanya dengan sayut, si bapak ini menghentikan kayuhan sepedanya untuk beristirahat sejenak.

Menurut pengakuannnya, ia melakukan pekerjaan memulungnya dengan selalu membawa anak balitanya karena istrinya sudah tiada sejak usia anaknya empat bulan. Sementara keluarganya ataupun keluarga istrinya sama-sama serba tidak memungkinkan untuk membantunya merawat anaknya karena sama-sama dalam kondisi penuh kesusahan. Ia dengan balitanya tinggal di sebuah kos-kosan yang bertarif Rp 200 ribu/bulan, yang harus dengan sangat susah payah dia membayarnya.

Kondisi bapak dan anaknya ini merepresentasikan kemalangan yang diakibatkan kemiskinan sekaligus status yatim-piatu. Kondisi ini bisa jadi dialami banyak orang, termasuk akibat pandemi. Kondisi memprihatinkan ini barangkali karena tidak terjangkau oleh program pemerintah, atau karena alasan lain, seperti karena faktor kartu tanda penduduk mereka beralamat tidak sebagaimana tempat domisilinya atau karena persoalan pendataan pihak desa yang kurang akurat.

Seandainya paket program bantuan dari pemerintah di atas menyasar bapak dan anak ini beserta mereka yang senasib dengan keduanya, atau mungkin ada uluran tangan dari dermawan yang menjadi tetangganya, mestinya mereka tidak harus tampak semalang itu.

Dalam Islam sesungguhnya terdapat ajaran tentang sistem jaring pengaman sosial melalui kepedulian sosial, yaitu zakat, infaq, dan shadaqah. Ajaran ini bahkan sudah melembaga dalam lembaga amil zakat infaq shadaqah (LAZIS) yang jumlahnya sangat banyak. Pertanyaannya, mengapa kita masih bisa dengan mudah menjumpai kemalangan seperti yang ditunjukkan semisal si bapak dan si anak di atas? Apakah karena minimnya jumlah zakat, infaq, dan shadaqah yang kita keluarkan? Atau apakah karena tata kelola pendistribusian zakat, infaq, dan shadaqah mesti dievaluasi?

Di bulan puasa ini, amalan kebaikan dilipatgandakan pahalanya, termasuk zakat, infaq, dan shadaqah. Oleh karenanya, tidak seharusnya di bulan ini kita menjumpai kemalangan yang dialami oleh saudara kita, baik saudara seiman ataupun sebangsa dan saudara dalam kemanusiaan. Karena bulan ini adalah saat yang didambakan oleh para pengamal filantropi. Terlebih, di hari raya Idul Fitri nanti, hari kemenangan bagi umat Islam setelah sebulan berpuasa. Sudah seharusnya kemenangan nanti juga dirasakan oleh mereka yang menderita kemalangan.

Ibarat muslim bagi muslim lainnya, ibarat manusia dengan manusia lainnya yang tercipta dari asal yang sama dan oleh pencipta yang sama. Ibarat satu tubuh, jika ada bagian dari tubuh yang merasakan kemalangan pasti anggota yang lain akan turut merasakannya. Bila kita dalam kemenangan, mengapa tidak kita menangkan mereka dari kemalangan? Bukankah kemalangan mereka kita rasakan sebagai kemalangan kita pula? Bukankah kemenangan kita terasa sempurna jika tidak ada dari kita yang merasakan kemalangan? Mari kita raih kemenangan bersama-sama dengan memenangkan saudara-saudara kita yang sedang mengalami kemalangan, agar kemenangan kita terasa sempurna. Bukankah begitu?! (KH Ahmad Sugeng Utomo, Pengasuh PP Daarul Ulum Wal Hikam (Ponpes DAWAM) Yogyakarta, Inisiator dan Ketua Dewan Pembina Santriprenuer Indonesia, Wakil Rais Syuriah PCNU Kota Yogyakarta dan A’wan Syuriah PWNU DIY)

Kredit

Bagikan