Puasa, Zakat, dan Pembentukan Pribadi yang Bertakwa

user
danar 20 April 2022, 11:15 WIB
untitled

SEMUA ibadah yang disyariatkan kepada manusia pada hakikatnya untuk mengantarkannya menjadi hamba yang semakin bertakwa kepada Allah Swt. Hal ini bisa dilihat dari korelasi hakikat antara disyariatkannya puasa dan zakat.

Puasa pada hakikatnya menahan dan mengendalikan diri dari melanggar larangan Allah secara dhohir maupun batin. Sebagai sebuah bagian dari proses kehidupan dalam rentang satu tahun, puasa seakan difungsikan untuk menahan dan mengendalikan keinginan dan perilaku yang sudah biasa dilakukan manusia selama sebelas bulan sebelumnya. Keinginan dan perilaku manusia jika tidak dikendalikan suatu saat akan melewati batasnya. Ibarat mobil yang terus menerus digas dan tidak pernah disiapkan rem untuk menahan laju kecepatannya, maka mobil tersebut akan hilang kendali dan menabrak apapun di depannya, dan kehancuranlah akibatnya. Puasa dalam hal ini berfungsi sebagai rem yang menahan laju kebiasaan manusia yang telah berlangsung sebelumnya.

Bagaimana tidak, dalam puasa makna menahan diri tidak sekadar menahan untuk tidak melakukan aktivitas fisik semata seperti tidak makan dan minum, tetapi sekaligus menahan diri secara kejiwaan dari sifat-sifat yang merusak hati seperti sombong, hasud, dengki dan sifat-sifat jelek lainnya, sebagaimana telah diingatkan oleh Rasulullah bahwa betapa banyak orang berpuasa yang menahan diri dari makan dan minum tetapi tidak bisa menahan diri untuk tetap mempunyai sifat-sifat buruk di dalam dirinya. Lebih dalam lagi, makna puasa adalah menahan diri dari mencintai dan mengingat selain Allah, sehingga tidak hanya pada aspek fisik dan kejiwaan, namun pengendalian diri puasa juga pada aspek ruhiyah.

Hakikat pengendalian diri yang amat menonjol pada puasa diseimbangkan dengan hakikat kewajiban dan kesediaan untuk berbagi pada sesama dalam ibadah zakat. Zakat, juga sedekah (shodaqoh; secara etimologis bisa bermakna “tindakan kebaikan”) terutama yang diberikan kepada fakir-miskin dan kelompok yang berada dalam kesulitan seperti riqab (golongan yang terbelenggu dan terkungkung oleh “kemiskinan struktural”), gharim (mereka yang terbeban berat hutang), ibn sabil (orang yang telantar dalam perjalanan),amil (pengelola zakat), mu’allaf, fi-sabilillah, dan kepentingan masyarakat umum dalam arti seluas-luasnya.

Jika puasa selama sebulan diibaratkan rem yang mengendalikan laju mobil yang hampir melampaui batas, maka zakat fitrah di akhir Ramadan mempunyai makna untuk kembali melepaskan kendali secara perlahan dengan saling berbagi kepada mereka yang membutuhkan. Kendali dan kekangan tidak boleh dilakukan secara terus menerus sampai melewati batas karena akan berakibat juga pada kerusakan, tetapi sebaliknya harus dikendorkan lagi dengan berbagi kepada sesama. Terdapat kewajiban saling berbagi karena memang Allah menciptakan sebagian hamba membutuhkan sebagian yang lain. Sebagian berkecukupan dan sebagian berkekurangan, dengan berjuta kebutuhan hidup.

Andai semua manusia diciptakan berkecukupan, niscaya sistem kehidupan akan rusak, begitu juga sebaliknya bila semua manusia diciptakan berkekurangan. Allah menciptakan di dalam kekayaan orang berpunya terdapat hak para fakir miskin dan orang yang membutuhkan. Karena itu, jika zakat yang harus dikeluarkan itu milik orang kaya, pasti tidak akan ada ancaman bagi orang yang enggan mengeluarkan zakat. Ini adalah kewajiban orang yang berkecukupan. Hakikat saling berbagi dalam zakat juga berfungsi membersihkan sumbatan dan kotoran yang terdapat pada harta orang kaya yang menjadi hak para fakir miskin.

Hakikat pengendalian diri pada puasa dan kesediaan berbagi pada zakat seyogyanya dijadikan nilai dalam keseimbangan membentuk pribadi yang semakin bertakwa. Semoga akhir Ramadan nanti kita bisa menerapkan nilai dan hakikat tujuan disyariatkannya dua ibadah, puasa dan zakat, supaya menjadi hamba yang semakin bertakwa. Wallahu A’lam Bi al-Shawab. (H Jazilus Sakhok MA PhD. Wakil Katib Syuriyah PWNU DIY dan Wakil Ketua II Badan Amil Zakat Nasional DIY)

Kredit

Bagikan