Keistimewaan Waktu

user
danar 23 April 2022, 10:50 WIB
untitled

SECARA alamiah, keberadaan manusia tidak akan dapat dipisahkan dari relasi ruang dan waktu. Realitas menunjukkan, dimensi ruang dan waktu itulah yang menjadi penegas keberadaan manusia.

Ruang dan waktu adalah bagian dari lingkungan manusia yang dapat diberi makna. John Cage (Mulyana, 2002) menyatakan, tidak ada sesuatu yang disebut ruang kosong atau waktu kosong. Selalu ada sesuatu yang dapat dilihat, sesuatu untuk didengar, sesuatu yang dapat dirasakan. Menurut ajaran Newton, ruang dan waktu bersifat objektif, mutlak, dan universal. Ruang mempunyai tiga matra, yaitu atas-bawah, depan-belakang, dan kiri-kanan. Pada sisi lain, waktu hanya mempunyai satu matra, yaitu depan-belakang. Konsekuensi dari hal tersebut, di dalam ruang kita dapat pergi ke setiap arah, sedang dalam waktu kita hanya dapat pergi ke depan (Kapahang, 2004).

Secara konseptual Edward T. Hall (Mulyana, 2002) membedakan konsep waktu menjadi dua, yaitu (1) waktu monokronik dan (2) waktu polikronik. Masyarakat yang menganut waktu monokronik, cenderung mempersepsi waktu sebagai sesuatu yang berjalan lurus dari masa silam ke masa depan. Waktu diperlakukan sebagai entitas yang nyata dan bisa dipilah-pilah, dihabiskan, dibuang, dihemat, dan dibagi. Karena itu, masyarakat yang menganut paham monokronik menekankan pentingnya penjadwalan dan kesegeraan waktu.

Masyarakat yang menganut paham polikronik memandang waktu sebagai putaran yang kembali dan kembali lagi. Masyarakat penganut polikronik cenderung mementingkan kegiatan yang terjadi dalam waktu tertentu, daripada waktu itu sendiri.

Sedang masyarakat yang menganut paham monokronik cenderung lebih menghargai waktu, tepat waktu, dan membagi-bagi jadwal waktu secara ketat. Mereka menggunakan satu segmen waktu untuk mencapai suatu tujuan. Sebaliknya, penganut waktu polikronik cenderung lebih santai dan dapat menjadwalkan waktu untuk mencapai beberapa tujuan sekaligus. Budaya polikronik memandang waktu sebagai suatu rentang durasi yang tidak terinterupsi, tanpa perubahan yang penting. Mereka tidak merasa terobsesi oleh jadwal waktu dan tidak memilah-milahnya secara ketat.

Bagaimana Islam memandang waktu? Dalam Islam waktu menjadi bagian penting yang merangkai seluruh aktivitas kehidupan manusia. Bahkan, secara hakiki, keberadaan manusia di dunia pun telah dipastikan batas waktunya. Karena begitu penting waktu, Allah Yang Maha Abadi pun bersumpah atas nama waktu pada beberapa ayat Alquran.

“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang–orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (QS Al-Ashr: 1-3).

Dalam hadist juga ditegaskan “Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalam keduanya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang." (HR. Bukhari, Tirmidzi dan Ibnu Majah). Hasan Al-Bashri pernah mengatakan “wahai manusia, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Setiap kali satu hari hilang, maka akan hilang pula sebagian dirimu”.

Waktu menjadi penanda dan penegas seluruh aktivitas ibadah. Pelaksanaan sholat, puasa, haji, dan zakat sangat tegas dan jelas ditentukan dan diatur rentangan waktu yang menjadi penanda dan pembatas setiap ibadah tersebut. Ketidaktaatan pada penanda dan pembatas waktu, akan berakibat pada ketidakabsahan dan tertolaknya ibadah tersebut.

Ibadah puasa Ramadan, yang sedang kita jalani saat ini, mengajarkan kepada kita betapa penting memanfaatkan dan menepati waktu. Pemanfaatan waktu istimewa saat Ramadan berkaitan dengan hikmah pelipatgandaan pahala dan keberkahan. Ketepatan waktu istimewa saat Ramadan dapat dikaitkan dengan anjuran sesuai sunah Rasul, mengakhirkan makan sahur dan menyegerakan berbuka puasa. Anjuran sunah tersebut akan dapat terlaksana jika kita dapat menjaga dan menepati waktu dengan sebaik-baiknya. (Prof Dr Sumaryanto MKes AIFO, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta)

Kredit

Bagikan