Keluarga dan Pendidikan Karakter Ibadah Ramadan

user
danar 14 April 2022, 09:10 WIB
untitled

KI HADJAR DEWANTARA menyatakan, alam keluarga merupakan salah satu trisentra atau tripusat pendidikan, di samping alam perguruan dan alam pergerakan pemuda. Alam keluarga pusat pendidikan pertama dan terpenting. Karena sejak timbulnya adab kemanusiaan hingga kini, hidup keluarga itu selalu mempengaruhi bertumbuhnya budi pekerti dari tiap-tiap manusia. Ada beberapa hal penting mengenai keluarga, yaitu (a) alam keluarga adalah alam pendidikan permulaan, tempat pertama kali pendidikan dari orangtua sebagai guru; (2) alam keluarga merupakan tempat anak-anak saling mendidik, dan (3) alam keluarga tempat anak-anak berkesempatan mendidik diri sendiri.

Sebagaimana kita alami, puasa beserta ibadah sunnah sebagian besar berlangsung dalam alam keluarga. Karena itu, sangatlah penting menjadikan alam keluarga sebagai pembelajaran pendidikan karakter dalam ibadah puasa hingga sunnah, selain peran utama sebagai bulan pensucian diri. Selain puasa sebagai ibadah wajib, dalam bulan Ramadan banyak ibadah sunnah yang dapat dijadikan pembelajaran pendidikan karakter. Dari berbagai sumber, paling tidak ada sembilan macam ibadah sunnah dalam bulan ramadan, yaitu bersahur, tadarus Alquran, bersedekah, memberi makanan kepada orang yang berbuka puasa, pemperbanyak doa, menyegerakan berbuka puasa, iktikaf, salat tarawih dan salat malam lainnya, serta menjauhi perbuatan yang merusak puasa.

Pandangan Islam terhadap keluarga, keluarga bukan saja hidup berkelompok pada satu atap rumah, namun lebih pada ikatan hubungan darah atau pernikahan, yang terletak pada rasa saling harap (mutual expectation) antara para anggota keluarga.

Keluarga pada tingkatan pertama adalah suami dan istri, kedua, hubungan keluarga ke atas (bapak, nenek, dan seterusnya), ketiga, hubungan ke bawah (anak, cucu, dan seterusnya), keempat, anggota keluarga yang dari sisi samping, seperti keluarga dari keturunan ayah, saudara atau saudara dari lain silsilah. Dalam pendekatan Islam terhadap anak-anak, sesuai perintah Allah SWT, janganlah seorang ibu menderita karena anaknya dan jangan pula seorang ayah menderita karena anaknya (Al-baqarah:233). Ayat tersebut memerintahkan kita untuk berlaku ikhlas melaksanakan pendidikan agama dalam keluarga, sehingga anak dapat menjalankan agama dengan baik dan akan berdampak positif untuk hubungan anak dan orangtua.

Bagaimana merealisasikan keluarga sebagai pusat pendidikan karakter ibadah Ramadan? Pemerintah telah meletakkan fundamen pendidikan yang berasas kearifan lokal, untuk memajukan daya upaya bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan, batin, karakter), pikiran (intelek), dan tubuh, yang kita kenal dengan ranah afektif, kognitif, dan psikhomotor. Pendidikan berpilar kepada cipta, rasa dan karsa dan mengedepankan pendidikan yang menghasilkan manusia berkarakter. Karakter dikembangkan melalui tahap pengetahuan (knowing), merasakan (feeling), pelaksanaan (acting), dan kebiasaan (habit), yang dalam konsep Ki Hajar Dewantara dikenal dengan tri-nga, yaitu ngerti (mengetahui) ngrasa (merasakan), dan nglakoni (melaksanakan). Ini berarti pembelajaran pendidikan karakter ibadah bulan ramadan (ibadah wajib puasa beserta sunnahnya) haruslah diupayakan sampai pada tahapan pendidikan membiasakan (habit), yang oleh Ki Hadjar sampai pada tahap nglakoni (melaksanakan).

Pelaksanaan pendidikan karakter ibadah Ramadan tidak sekadar pemberian ceramah-ceramah atau perintah bagaimana melaksanakan ibadah, tetapi harus diupayakan untuk dibawa ke tahapan nglakoni (melaksanakan) meski dari hal yang sederhana, karena kebiasaan (habit) tidak akan tumbuh tanpa diikuti tindakan. Ki Hadjar Dewantara mengajarkan pembiasaan untuk melakukan berbagai laku dengan cara disengaja dengan tingkatan metodis, (a) syariat: digunakan pada anak-anak sebagai pembiasaan bertingkah laku serta berbuat menurut peraturan atau kebiasaan yang umum. Cara ini dilaksanakan pada anak-anak kecil, (b) hakikat: kenyataan atau kebenaran yang mengandung maksud memberi pengertian agar menjadi insyaf serta sadar tentang segala kebaikan dan kebalikannya. Cara ini digunakan pada periode aqil baligh, yaitu waktu untuk memberi keinsyafan dan kesadaran, (c) tarikat: berarti laku, perbuatan yang disengaja dilakukan dengan maksud melatih diri dalam melaksanakan berbagai kebaikan, dan (d) makrifat: berarti faham benar-benar, mengerti hubungan antara tata tertib lahir dan kedamaian batin.(Prof Dr Sutrisna Wibawa MPd. Kepala Lembaga Pengembangan UST, Dosen Pascasarjana Pendidikan UST dan UNY)

Kredit

Bagikan