Keragaman Keberagaman dan Ramadan

user
danar 05 April 2022, 11:15 WIB
untitled

MENARASIKAN keragaman manusia sebagai sesuatu keniscayaan diharapka agar tercipta harmonisasi kehidupan dalam segala aspek keragaman manusia; ras, budaya, bahasa, suku, sampai agama.

Dalam ranah keragaman keberagamaan dalam islam literasinya lebih berderet deret dari mulai tek wahyu sampai logika logika yang rumit. Tidak sedikit narasinya sampai diseret pada penyesatan bahwa semua agama itu sama, sehigga menimbulkan pertanyataan apa relevansi beragama jika semua agama sama? Dampaknya bisa menimbulkan kesimpangsiuran artikulasi islam pada kalangan sebagian umat islam, tentu disini bukan dalam variasi pemahaman tektual dan pengamalan ritual tapi dalam ekpresi prioritas dalam ujud kesatuan ajaran islam.

Di dalam ajaran islam dikenal adaya levelisasi hukum; ada wajib, haram, sunah, makruh, mubah. Kemudian pada setiap level juga ada levelisasi seperti dalam kewajiban ada wajib ain dan ada wajib kifayah, dalam sunnah ada sunnah muakkadah ada ghairu muakkadah begitu juga dalam keharaman ada haram lidzatihi ada haram lighairihi.

Panduan seperti ini sesugguhnya memberi peta jalan kepada umat islam agar proporsional dalam mensikapi keragaman keberagamaan, bahwa sebetulya persamaan umat islam jauh lbih banyak dari pada perbedaan, dan adanya keragaman sesuatu yang sudah berumur lama bersama dengan lahirnya islam, mensikapi yang wajib dan haram semestinya tidak sama dengan mensikapi hal yang sunnah maupun yang makruh.

Pada level hal yang wajib, dalam posisi apapun umat islam punya komitmen yang sama misalnya dalam menjalankan shalat lima waktu, karena tidak ada satupun umat islam yang tidak meyakini bahwa shalat lima waktu itu wajib, begitu juga dengan dilaksanakan dengan berjamaah di masjd karena hukumnya sunnah muakkadah yang hanya sedikit dibawah level wajib.

Pada hal yang sama ketika mensikapi pada hal yang disepakati haram menjadi komitmen bersama untuk meninggalkannya baik yang haram karena bendanya seperti minuman yang memabukkan maupun yang haram karena faktor cara mendapatkannya seperti korupsi, begitu juga hal hal lain seperti kedzaliman.

Jika saja umat islam bisa bersama sama menjalankan hal hal yang wajib dan meninggalkan yang haram tentu dampaknya akan sangat terasa positif dalam kehidupan baik dalam ranah spiriual maupun sosial.Sebaliknya jika mensikapi yang disepakati wajib begitu juga yang disepakati haram tidak sama , semakin sulit dalam mensikapi hal hal dibawah level tersebut.

Dalam suatu lingkungan dimana semua elemen umat islam komitmen dalam menjalankan ajaran agamaya seperti lingkungan pesantren maka kehidupan hormani tercipta dengan sendirinya, karena ada kesatuan antara ucapan dan perbuatan dan saling memberi energi positif.

Ini sulit terjadi di dalam lingkungan yang komitmen ketaatannya beragama rendah betapapun didalamnya banyak kalangan intelektualnya, sinkronitas antara ucapan dan perbuatan menjadi hal yang tidak mudah ditemukan.

Ramadan menumbukan kesadaran kolektif umat islam apapun posisinya, seberapapun tingkat intelektualitasnya dan apapun statusnya untuk bersama menjalankan kewajiban,bukan hanya puasa tapi juga kewajiban kewajiban yang lain khususnya shalat lima waktu, dan semuanya bersimpuh diatas sajadah memenuhi masjid masjid, disamping itu juga muncul kesadaran untuk meniggalkan sesuatu yang memang haram bahkan yang asalnya halalpun karena ada perintah untuk meningggalkan juga ditinggalkannya dalam rentang waktu menjalankan puasa.

Pertanyaannya adalah apakah kesadaran seperti ini juga memunculkan kesadaran kolektif pada ranah yang lebih srategis seperti membangun sistem pendidikan yang berkeadaban, perekonomian yang kuat dan mandiri, perpolitikan yang solid bagi kemaslahatan bangsa dan sistem sosial yang berkeadilan , ataukah masih berkuat pada ritualitas dan kesadaran sporadis. Mari kita mulai dari diri kita ibda bi nafsik. (Dr.Tulus Musthofa,Lc.MA, Ketua MUI DIY Bidang Dakwah dan Dosen UIN Sunan Kalijaga Yoyakarta)

Kredit

Bagikan