Fidyah dan Teknis Pembayarannya

user
danar 08 April 2022, 11:02 WIB
untitled

ALLAH mewajibkan berpuasa pada setiap Muslim yang telah dewasa dan mampu berpuasa. Namun demikian, Allah juga memberi perlakuan khusus berupa keringanan bagi yang tidak mampu berpuasa karena alasan syar’i. Hal ini menunjukkan sikap pemurahnya Allah terhadap hambaNya dan menunjukkan kelenturan hukum Islam dalam kondisi tertentu. Artinya, ajaran Islam tidak memberatkan pemeluknya. Adapun orang-orang yang diperbolehkan tidak berpuasa dan menggantinya dengan membayar fidyah adalah:

Pertama, orang yang tidak kuat berpuasa karena sudah lanjut usia. Hal ini didasarkan pada penafsiran Ibnu Katsir terhadap ayat 184 surat al-Baqarah bahwa orang lanjut usia yang tidak mampu berpuasa kemudian dia lemah, maka Allah memberi kemurahan padanya untuk memberi makan satu orang miskin tiap hari puasa yang ditinggalkannya (Ibnu Katsir, juz 1, hlm. 500).

Kedua, wanita hamil dan menyusui. Hal ini didasarkan pada penjelasan dalam Sunan al-Baihaqi yang menyatakan bahwa orang yang hamil dan orang yang menyusui jika kawatir terhadap (kesehatan) anaknya, maka keduanya diperbolehkan berbuka puasa dan keduanya bersadaqah tiap hari puasa yang ditinggalkan satu mud dari gandum halus lalu keduanya mengqada’ puasanya (Sunan al-Baihaqi al-Kubra, juz 4: 230).

Ketiga, orang yang lalai dalam mengqada’ puasa tahun lalu. Orang yang meninggalkan puasa Ramadan karena uzur syar’i, lalu dia belum mengqada’nya hingga datang bulan Ramadan tahun berikutnya, maka dia wajib mengqada’ puasanya dan membayar fidyah. Hal ini didasarkan pada penjelasan dalam kitab al-Muwatta’ sebagaimana berikut: “Barang siapa yang punya beban qada’ puasa Ramadan akan tetapi dia tidak mengqada’nya sedang dia kuat mengqada’ puasanya hingga datang bulan Ramadan berikutnya, maka dia memberi makan tiap satu hari puasa yang ditinggalkannya satu mud gandum halus dan dia wajib pula mengqada’ puasanya... (Al-Muwata’, juz 1: 308).

Keempat, orang yang lemah fisiknya karena penyakit yang tidak kunjung sembuh dan sangat kecil harapan sembuhnya. Ia diperbolehkan tidak berpuasa Ramadan, namun berkewajiban membayar fidyah. Hal ini didasarkan pada penjelasan pada kitab Safwah al-Tafasir juz 1 halaman 121. “bahwa orang-orang yang mampu berpuasa namun sangat berat karena usianya atau karena lemahnya, maka keduanya wajib membayar fidyah dengan memberi makan orang miskin sejumlah hari yang ditinggalkannya” (Muhammad Ali al-Shabuni, juz 1:121).

Adapun besaran membayar fidyah ada 3 alternatif, yaitu:

Pertama, makanan siap saji yang mengenyangkan satu orang miskin. Hal ini didasarkan pada hadis dalam Sunan al-Dar al-Qutni yang artinya:

“Dari Anas bin Malik: bahwa ketika beliau sudah lanjut usia dan tidak mampu berpuasa selama setahun, maka beliau membuat adonan tepung lalu mengundang tiga puluh orang miskin hingga mereka kenyang.” (Sunan al-Dar al-Qutni, juz 2: 207).

Kedua, memberi 1 mud bahan makanan pokok kepada orang msikin. Hal ini didasarkan pada penjelasan dalam kitab al-Um yang menyatakan bahwa Jika ada orang yang meninggalkan puasa (karena uzur syar’i yang diperbolehkan mengganti dengan membayar fidyah), maka sebagai gantinya satu mud (sekitar 0,6 Kg beras) setiap hari puasa yang ditinggalkannya.... (Al-Um, juz 2, hlm. 186).

Adapun waktu membayar fidyah ada tiga alternatif, yaitu:

Pertama, pada hari saat meninggalkan puasa Ramadan. Waktunya sesudah terbit fajar jika fidyah berwujud bahan makanan pokok, namun jika fidyahnya berupa makanan siap saji dilakukan setelah masuk waktu buka puasa.

Kedua, pada akhir bulan Ramadlan sesudah fajar, sebagaimana yang dilakukan oleh Anas bin Malik. jika fidyah berwujud bahan makanan pokok, namun jika fidyahnya berupa makanan siap saji dilakukan setelah masuk waktu buka puasa.

Ketiga, setelah bulan Ramadan. Bagi orang-orang yang belum mampu membayar fidyah di bulan Ramadan karena suatu hal, Ia berkesempatan membayarnya setelah Ramadan berakhir. Fidyah diberikan kepada satu orang faqir atau miskin atau diberikan sejumlah orang fakir/miskin sesuai jumlah hari puasa yang ditinggalkannya. (Dr H Munjahid M Ag. Pimpinan Baznas DIY dan Dosen IIQ An Nur Yogyakarta)

Kredit

Bagikan