Berbeda Tapi Tidak Berpecah Belah

user
danar 11 April 2022, 09:10 WIB
untitled

TAHUN ini, umat Islam di dunia, termasuk Indonesia, mengawali puasa Ramadan dengan hari berbeda. Ini bukan pengalaman baru, bahkan juga pernah beda dalam mengakhiri Ramadan.

Bila kita lacak sejarah, perbedaan dalam memulai puasa pernah terjadi pada periode pasca kenabian. Seperti terekam dalam kisah berikut: Suatu ketika, Ummu al-Fadl binti al-Harits, yang menetap di Kota Madinah, mengutus Kuraib ke Damaskus, Suriah, untuk menyelesaikan suatu masalah kepada Mu’awiyah bin Abu Sufyan, penguasa pertama Dinasti Umayyah. Kuraib tiba di Damaskus malam Jum’at. Karena hilal malam itu telah tampak di kota tersebut, Kuraib juga melihat dengan mata kepala sendiri, maka puasa pertama Ramadan dimulai hari Jumat.

Ketika kembali ke Madinah, Kuraib menemui Abdullah bin Abbas, sahabat Rasulullah Saw yang juga pakar tafsir Alquran. Kepadanya Kuraib menceritakan perjalanannya ke Suriah, termasuk hilal yang dilihatnya di Damaskus.

Abdullah bin Abbas pun bertanya, “kapan engkau melihat hilal?” “Kami melihatnya pada malam Jum’at”, jawab Kuraib. Karena hilal tampak di kota Nabi pada malam Sabtu, Abdullah pun bertanya lagi, “Engkau melihatnya sendiri dengan mata telanjang?”

“Ya. Orang-orang juga melihatnya. Orang-orang pun lantas berpuasa pada keesokan harinya, termasuk Mu’awiyah”, jawab Kuraib. Abdullah bin Abbas ingin memastikan adanya perbedaan awal bulan Ramadan di antara kedua kota tersebut.

“Kuraib, kami di sini memulai awal Ramadan bukan Jumat, melainkan Sabtu. Sebab kami melihatnya pada malam Sabtu. Untuk tahun ini, kita di sini tampaknya akan berpuasa selama tiga puluh hari, kecuali kalau kita melihat hilal,” tegas Abdullah bin Abbas.

“Wahai putra Abbas bin Abdul Mutthalib! Kenapa kita tidak mengikuti ru’yah Mu’awiyah bin Abu Sufyan, sebagai penguasa, dan puasa yang ditetapkan olehnya?” tanya Kuraib.

“Tidak! Demikianlah yang diajarkan Rasulullah Saw kepada kami”, jawab sahabat Rasulullah Saw yang juga saudara sepupu beliau itu (HR. Muslim).

Kisah di atas memperlihatkan kepada kita dan sekaligus memahami mengapa ada praktek ru’yah di Indonesia menjelang Ramadan. Ini sesuai sabda Nabi: “berpuasalah kamu bila telah melihatnya (yakni hilal awal Ramadan), dan berbukalah kamu bila telah melihatnya (yakni hilal awal Syawal). Dan apabila waktu itu langit sedang berawan (sehingga menghalangi kamu dari melihat hilal), maka sempurnakan bulan Sya’ban menjadi tigapuluh hari.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Praktek ru’yah dengan demikian memiliki landasan normatif dan historis yang kuat dalam tradisi Islam, meski sudah dikembangkan sistem hisab. Keduanya memang berbeda, namun tidak perlu dipertentangkan, apalagi membuat umat berpecah belah.

Ibrah dari kisah di atas juga memperlihatkan kepada kita bahwa setiap anak negeri hanya mengikuti hasil ru’yatnya sendiri dan tidak memberlakukannya untuk negeri yang lain. Adanya ru’yah di suatu negeri, tidak wajib diikuti oleh negeri lainnya. Dari sana dapat dipahami, mengapa ada perbedaan dalam memulai dan mengakhiri puasa Ramadan di antara negeri di dunia ini.

Point penting dari uraian di atas bukan semata kita tahu adanya referensi historis dan landasan normatif tentang perbedaan dalam mengawali puasa Ramadan, namun juga diharapkan muncul kesadaran bahwa kita tidak boleh memaksakan hasil ru’yah kita kepada orang atau masyarakat lain yang tidak melihat hilal, apalagi orang atau masyarakat tersebut berbeda negeri.

Ru’yah yang dijadikan pedoman pun bukan bersifat individual, tapi dilakukan secara kolektif, sebagaimana tersirat dalam kisah sebelumnya. Dan itu pula yang tampak dalam praktek ru’yah yang dilakukan oleh Kementerian Agama.

Untuk menjalankan komitmen vertikal dan horizontal secara bersamaan dalam menghadapi perbedaan internal (antarumat Islam), Allah Swt. memberi pedoman dalam QS. al-Hajj [22]: 67 bahwa tiap-tiap umat telah Kami tetapkan cara beribadah yang mereka jalankan. Karena itu, jangan biarkan mereka membawamu pada perselisihan mengenai persoalan ini, tetapi serulah orang-orang kepada Tuhanmu, karena kamu berada di jalan yang lurus.

Ayat ini menggambarkan sikap ideal dalam menyikapi perbedaan. Itulah yang hari ini disebut sikap toleran. Salah satu makna toleran adalah mengenali autentisitas beragam cara beribadah yang berbeda-beda pada berbagai komunitas beragama. Karenanya, mendebat dan memperuncing perbedaan, termasuk dalam perbedaan ru’yah dan hisab, merupakan tindakan tidak tepat dan justru akan melahirkan sikap intoleran. Wallahu’alam bissowab.(Dr Waryono Abdul Ghafur, Wakil Rois Syuriah PWNU DIY serta Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI)

Kredit

Bagikan