Bunuh Diri: Lelaki Lebih Banyak Daripada Perempuan

user
Ary B Prass 13 Oktober 2021, 12:27 WIB
untitled

Elli Nur Hayati M.PH., Ph.D., Psi

Dekan F. Psikologi UAD

Data WHO (World Health Organization) Asia Pasifik,  ada sekitar 200.000 orang yang secara sengaja mengakhiri hidupnya, sementara secara global setidaknya ada 804.000 orang (WHO, 2016). Artinya, tiap 3 menit, ada 1 orang di dunia ini yang meninggal karena bunuh diri. WHO memperkirakan, akan ada 2,4% dari 100.000 penduduk Indonesia yang mengakhiri hidupnya jika tidak ada penanganan yang serius. Peristiwa pandemi Covid-19 di awal 2020 yang membuat orang harus membatasi diri berinteraksi social dan meningkatnya orang yang kehilangan pekerjaan, diyakini WHO angka bunuh diri akan meningkat.

Secara global, perbandingan kejadin bunuh diri antara perempuan dan lelaki adalah dalam kisaran angka 3:7, kaum lelaki dua kali lipat lebih banyak yang mengakhiri hidupnya disbanding perempuan (Poland, 2016). Data WHO tahun 2014 juga mengestimasi bahwa rasio angka bunuh diri lekaki mencapai 15 orang pada 100.000 penduduk, sementara perempuan di rasio 8 orang pada 100.000 penduduk. Ada apa dengan kaum lelaki?

Bunuh Diri: Lelaki Lebih Banyak Daripada Perempuan

Lelaki dan bunuh diri

Kejadian bunuh diri memang tak dapat dilepaskan dari adanya situasi tekanan seperti stress, putus asa, dan depresi. Secara spikologis, depresi memang situasi mental yang menjadi kunci utama prediktor bagi kejadian bunuh diri. Beberapa penelitian tentang bunuh diri yang dilakukan baik di negara industri maju (Canetto & Sakinofsky, 1998; Swami, Stanistreet & Payne, 2002; Poland, 2016) maupun negara berkembang (Andari, 2017; Astuti 2019; Wahyuni, Zakso & Salim, 2019), mengidentifikasi beberapa faktor risiko bagi kejadian bunuh diri seperti Pendidikan (tingkat Pendidikan rendah lebih berisiko), kondisi social ekonomi (sosek yang rendah lebih berisiko), kondisi kesehatan mental (tidak sehat mental lebih berisiko), serta jenis kelamin (jenis kelamin lelaki lebih berisiko). Untuk ketiga faktor risiko yang disebutkan di awal sangatlah dapat dipahami, karena pendidikan yang tinggi lebih memungkinkan individu untuk lebih memiliki wawasan berpikir yang luas dalam mencari soslusi atas persoalan yang dihadapinya; sosek yang menengah ke atas lebih memungkinakan individu untuk hidup secara lebih layak dan terpenuhi kebutuhan primer dan sekundernya sehingga stress lebih terkendali; sementara kesehatan mental yang baik lebih memungkinkan individu untuk mampu mengelola stress dan tantangan hidup yang dihadapinya sehingga ada optimism dalam hidupnya. Namun, bagaimana menjelaskan mengapa lelaki lebih berisiko mengambil tindakan mengakhiri hidupnya sendiri daripada perempuan?

Kita selama ini memiliki persepsi bahwa lelaki adalah kaum yang rasional dan tangguh, sementara perempuan emosional dan lemah, sehingga ketika mengalami persoalan hidup, kita lebih memiliki prediksi bahwa tindakan bunuh diri akan lebih banyak dilakukan oleh perempuan sebagai cerminan karaktersitik emosional dan lemah. Namun, ternyata kondisi perempuan yang kita persepsikan sebagai emosional itu lebih memungkinkan mereka untuk bebas berekspresi secara emosional ketika menghadapi kesulitan dan tekanan, seperti misalnya menangis atau curhat kepada sahabatnya, saudarinya, atau bahkan berkonsultasi kepada professional seperti Psikolog. Sebaliknya dengan lelaki, keadaan tertekan dan kesulitan tidak memungkinkan mereka berekspresi emosi menagis atau curhat sebagaiamana perempuan. Ada ekspektasi kultural yang telah ditanamkan kepada lelaki dan perempuan sejak perkembangan mereka di usia dini: lelaki pantang menangis dan harus tangguh. Maka ketika memasuki masa remaja hingga akhirnya menjadi individu dewasa, lelaki terus tumbuh dan meyakini bahwa sebagai lelaki mereka pantang untuk bersikap dan bertindak “lemah” seperti perempuan. Ini lah yang disebut sebagai ekspektasi gender, serangkaian karakaterisik sifat, peran dan perilaku yang “dilekatkan” pada jenis kelamin perempuan dan lelaki, di masyarakat.

Gender dan bunuh diri

Konstruksi sosial gender yang kaku terhadap perempuan dan lelaki, tampaknya telah berkontribusi bagi munculnya persoalan kesehatan mental seputar perilaku bunuh diri ini. Karena lelaki “ditabukan” untuk curhat bahkan menangis saat menghadapi problematika hidup, maka lelaki berpotensi untuk “menyangkal” bahwa dirinya mengalami problematika yang mengganggu kesehatan mentalnya dan menghindari perilaku mencari bantuan (help seeking behavior), baik kepada teman ataupun professional. Penelitian tentang perilaku bunuh diri di Switzerland tahun 1990-an menyimpulkan: “perempuan mencari bantuan – lelaki mati”. Hal itu dikaitkan dengan fakta sosial di sana bahwa pada tahun yang sama ditemukan 75% perempuan mencari bantuan ke pusat pencegahan bunuh diri, sementara 75% dari individu yang bunuh diri ketika itu adalah lelaki.

Situasi seperti digambarkan di atas dikenal sebagai toxic masculinity, suatu standar yang ditetepkan seolah lelaki itu tidak boleh memiliki masalah sehingga mereka tidak perlu curhat dan diberi ruang-ruang untuk dibarikan bantuan untuk mengatasi masalahnya. Lelaki harus super duper tangguh! Akibatnya, lelaki cenderung tidak memerlukan bantuan untuk memecahkan masalahnya. Ketika mereka terpuruk karena problematikanya yang tidak terselesaikan, lelaki melakukan coping (mengelola stress) dengan cara yang tidak sehat seperti minum miras, merokok, dan bentuk perilaku kesehatan berisiko lainnya. Secara psikologis, tanda-tanda depresi yang merupakan indikator utama kejadian bunuh diri sudah masuk.

Seandainya lelaki “diberikan” ruang oleh kultur kita untuk curhat dan memperoleh bantuan kesehatan mental, mungkin angka bunuh diri untuk kaum lelaki berkurang. Mari kita buat gerakan mendukung lelaki dalam mencari bantuan untuk mengatasi problematika yang dihadapinya. Mari kita bangun image yang lebih manusiawi, bahwa lelaki, sama halnya dengan perempuan, sangat butuh ruang untuk curhat dan mendapatkan bantuan dalam menyelesaiakn problematika hidupnya. Kesehatan mental adalah hak semua orang, perempuan maupun lelaki. (*)

Credits

Bagikan