Bersepeda Cagar Budaya Bentuk Quality Tourism

user
tomi 07 Februari 2021, 14:41 WIB
untitled

YOGYA, KRJOGJA.com - Pemerintah DIY telah menetapkan Pemberlakuan Terbatas Kegiatan Masyarakat (PTKM). Untuk Jawa dan Bali, Pemerintah Pusat menyebut dengan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). PTKM yang berlaku sampai 8 Februari 2021, telah diperpanjang dari 9 Februari 2021 sampai 23 Februari 2021.

Terkait dengan hal tersebut Pengurus Bersepeda Normal Baru Cycling Club (BNB CC) tetap mengajak anggotanya untuk tetap bersepeda dalam kelompok kecil sesuai dengan kedekatan tempat tinggal masing-masing. Bersepeda kelompok kecil tersebut bersepeda yang terdiri dari 2 orang sampai 5 orang. Di tempat tertentu bisa bertemu dengan kelompok kecil lain namun kemudian berpisah untuk melanjutkan bersepeda sesuai dengan rute kelompok kecil masing-masing.

“Dengan bersepeda kelompok kecil tersebut maka penerapan 5 M (Memakai masker, Mencuci tangan, Menjaga jarak, Menjauhi kerumuman, dan Mengurangi mobilitas) dapat diterapkan dengan baik”, jelas Y. Sri Susilo (Koordinator BNB CC) Di sisi lain, berolah raga dengan bersepeda sekaligus berwisata Cagar Budaya dapat dilaksanakan.

Rute yang yang dipilih oleh masing-masing kelompok kecil pada umumnya adalah tempat Cagar Budaya (Heritage) seperti Gedung Bank Indonesia (BI) Heritage, Gedung Kedaulatan Rakyat (KR), Kraton Ngayogyakarta, Pura Pakualaman, Kawasan Cagar Budaya Njeron Beteng (Taman Sari, Pojok Beteng Wetan/Kulon, Langenastran, dan sebagainya), Kawasan Kotagede dan sebagainya. Bersepeda dengan kelompok kecil tersebut kemudian dikenal dengan Bersepeda Cagar Budaya (BCB).

Hari Sabtu (06/02/21) kelompok kecil anggota BCB CC yang dikoordinasi oleh Jimmy Parjiman (Ketua OJK) bersepeda cagar budaya. Rute dari Soto Koya (Langenastran, Njeron Beteng) menuju Pura Pakualaman, Kawasan Tugu, Kantor KR, Gebung BI Heritage, Kraton Ngayogjakarta, dan berakhir di Soto Koya Langenastran.

Selanjutnya hari Minggu (07/02/21), Edy Suandi Hamid (Rektor UWM) dan anggota BNB CC juga bersepeda Cagar Budaya. Mereka dibagi dalam 2 kelompok bersepeda dari Kantor KR kemudian menuju berbagai tempat Cagar Budaya di Kawasan Njeron Beteng dan berakhir di Soto Koya Langenastran.

“Bersepeda Cagar Budaya merupakan salah satu cikal bakal bentuk quality tourism dan layak dikembangkan di DIY”, jelas Jimmy Parjiman. Kemudian Edy Suandi Hamid menegaskan, “Bersepeda Cagar Budaya juga baik ditujukan bagi kaum muda untuk belajar sejarah sekaligus bersepeda wisata”. “Soto Koya dipilih untuk tempat finish dengan pertimbangan rasanya enak, tempat luas dan bersih serta pengunjung tidak terlalu ramai sehingga penerapan prokes 3M dapat diterapkan dengan baik”, tutup Y. Sri Susilo dalam rilisnya kepada media.(*)

Kredit

Bagikan