Ikasmalusa Yogyakarta, Tak Sekadar Berkumpul dan Seduluran Sak Lawase

user
tomi 11 September 2020, 16:13 WIB
untitled

IKATAN Alumni SMP Marsudi Luhur I (Ikasmalusa) Yogyakarta 1980 yang berdiri empat tahun lalu, mampu 'nglumpukke balung pisah sekaligus mewujudkan jargon Tetep Seduluran Sak Lawase. Mereka tak sekadar kumpul-kumpul, melainkan berdialog untuk menggagas persoalan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Tak kurang dari 120 lulusan tersebar di sejumlah kota di Indonesia rutin melakukan komunikasi melalui WhatsApp (WA) grup. Selain itu, alumni yang masih berdomisili di wilayah Yogya dan sekitarnya, rutin mengadakan pertemuan mobile. Dengan cara itu, masing-masing alumni bisa bernostalgia sekaligus bertutur mengenai kondisi terkini, baik secara sosial, ekonomi, dan politik.

Sejak dibentuk empat tahun lalu, tepatnya tanggal 15 Oktober 2016 hingga kini Ikasmalusa Yogyakarta 1980 sudah melakukan kegiatan sosial bagi masyarakat. Kegiatan yang disesuaikan dengan kemampuan, Ikasmalusa Yogyakarta 1980 berpartisipasi memberikan bantuan kepada masyarakat yang sedang mengalami musibah, semisal gempa bumi, bencana banjir, hingga yang terdampak pandemi Covid-19. Selain itu, Ikasmalusa juga melakukan kegiatan sosial untuk sesama anggota.

Menurut Ketua Ikamalusa Yogyakarta 1980 Katatmo, komunitas ini pada awalnya sebatas temu kangen dan reuni sesama alumni SMP Marsudi Luhur I Yogyakarta, yang beralamat di Bintaran Kidul Yogyakarta. Anggota yang semula hanya belasan bertambah menjadi puluhan. Saat ini tercatat tidak kurang 100 anggota, dengan komposisi 80 aktif 20 pasif.

"Meski jumlah terbatas, kami juga memberikan bantuan kepada masyarakat yang terdampak Covid-19. Setidak-tidaknya bantuan itu sebagai rasa peduli komunitas kami kepada masyarakat," ujar Katatmo.

Dengan harapan agar komunitas bisa berkembang, disepakati membentuk kepengurusan dengan tujuan agar roda organisasi bisa berjalan baik. Mengenai kepengurusan Ikasmalusa Yogyakarta 1980, Pelindung/Penasihat: Laksamana Muda TNI B Ken Tri Basuki MSI (Han) CHRMP, Ketua: Katatmo, Sekretaris: Drs Mukti Haryadi SPd, Bendahara: Budi Asih, Humas: Ristanti SIP MPar, Dokumentasi: Gandung Sarjiono, dan Publikasi: Bambang Irianto.

Katatmo menyampaikan, pengurus dan anggota Ikasmalusa Yogyakarta 1980 lumayan 'punya nama', semisal Laksamana Muda TNI B Ken Tri Basuki MSi (Han) CHRMP, saat ini menjadi Staf Ahli Bidang Pertahanan Keamanan Dewan Pertahanan Nasional. Nama lain, Ristanti SIP MPar dikenal sebagai aktifis perhotelan, restoran dan pariwisata (saat ini sebagai GM Hotel Grand Orchid Yogyakarta), Cindelaras Yulianto politikus dan pernah menjadi anggota dewan Kota Yogya, diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Setelah tidak lagi jadi anggota dewan, Cindelaras 'banting setir' wiraswasta.

Tak hanya itu, ada nama M Haryadi Hadipranoto yang dikenal sebagai sastrawan (penyair). Nama yang bersangkutan tak hanya dikenal di level daerah, melainkan tercatat dalam khasanah kesusastraan Indonesia. Karya-karyanya tidak hanya menembus peta kesusastraan Indonesia, melainkan juga masuk dalam nominasi berbagai lomba cipta puisi tingkat internasional. "Kami bangga atas prestasi yang dicapai mereka," ujar Katatmo.

Selebihnya nama Yans Geni Haryohadi dikenal sebagai pekerja teater dan seni lukis. Semula, Geni Haryohadi suntuk dengan puisi dan mengidolakan 'Si Burung Merak', Rendra. Tetapi talentanya di teater dan seni lukis menjadikan puisi sebatas sebagai pergulatan batin.

Di bidang olah raga, tercatat nama Sugiarto Suteja dan Toni Santoso berhasil mewakili Indonesia dalam berbagai event internasinal (Asia Tenggara dan Asia). Keduanya, turun di cabang olah raga (cabor) Tenis Meja. Bakat keduanya di tenis meja, pertama kali diasah guru olah raga SMP Marsudi Luhur I Yogyakarta, C Sumartidjo yang kala itu merupakan pengurus PB PTMSI DIY dan wasit tenis meja bertaraf nasional.

Katatmo menuturkan, pengurus Ikasmalusa Yogyakarta 1980 berkeinginan menyelenggarakan reuni akbar, yang akan dilangsungkan di Yogyakarta. Selain mengundang anggota Ikasmalusa Yogyakarta 1980, pihaknya juga akan ngaturi beberapa guru SMP Marsudi Luhur I Yogyakarta, baik yang mengajar dalam kurun waktu 1977-1980 dan guru yang saat ini masih 'berdinas'. "Kami harus menaruh rasa hormat kepada para guru yang telah mendidik dengan penuh kesungguhan." ujar Katatmo. (Haryadi)

Kredit

Bagikan