Progo Zebra Cycle Club, Bersepeda Sambil Kampanye Tiblantas

user
tomi 28 Agustus 2020, 14:25 WIB
untitled

TREND gowes yang melanda masyarakat, seiring dengan semakin membaiknya kondisi terkait pandemi Covid-19, memunculkan kebiasaan bersepeda sambil berolahraga. Di sejumlah tempat muncul klub-klub sepeda, yang mempersatukan penggemar olah raga sepeda. Setidaknya, seminggu sekali mereka berkumpul dan gowes bareng mengitari rute dalam kota maupun menuju ke tempat objek wisata tertentu.

Jauh sebelum pandemi Covid-19, jajaran Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda DIY sudah memulai mentradisikan olah raga bersepeda (gowes) dengan tujuan untuk menjaga kesehatan dan kebugaran. Puluhan anggota setiap Jumat pagi dan Selasa pagi mencoba beradu ketahanan mancal sepeda sekaligus mengukur kemampuan nafas. Kegiatan tersebut langsung dikomandani Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda DIY Kombes Pol I Made Agus Prasatya SIK MHum. Sebagai penanda komunitas gowes, mereka sepakat memakai nama Progo Zebra Cycle Club dengan semboyan Gowes Bareng Gayeng Sedaya.

Ketika pemerintah secara resmi mengumumkan perihal pandemi Covid-19, praktis sejumlah kegiatan yang mengumpulkan banyak massa tidak diperbolehkan. Jika ketetapan itu diterabas, risikonya adalah masalah kesehatan masyarakat, bahkan bisa berujung pada kematian karena virus korona. Sejumlah kegiatan olah raga pun harus dihentikan, termasuk gowes yang menjadi trend tersendiri di masyarakat.

Kegiatan rutin dua kali dalam seminggu sempat terhenti sekitar tiga bulan lantaran pandemi Covid-19. Demi menghindari menyebarnya virus korona, anggota Ditlantas Polda DIY harus fokus melakukan pencegahan. Selain upaya pencegahan, setiap hari anggota Ditlantas Polda DIY melakukan aksi sosial dengan memberikan bantuan sembako kepada masyarakat yang terdampak langsung pandemi Covid-19. Tak hanya itu, jajaran Ditlantas Polda DIY juga membagi-bagikan peralatan kesehatan berupa masker, hand sanitezer, dan alat pelindung diri (APD). Secara otomatis dalam kurun waktu sekitar tiga bulan, kegiatan bersepedaria harus terhenti.

Seiring perjalanan waktu, setelah virus korona dirasa sudah mereda kegiatan bersepeda kembali dilakukan. Hal tersebut seiring dengan fenomena masyarakat yang gandrung terhadap gowes. Nyaris setiap pagi, masyarakat berbondong-bondong gowes, baik dilakukan secara perorangan maupun kelompok. Hal tersebut tentu saja mempengaruhi situasi dan suasana arus lalu lintas, baik di dalam kota maupun di wilayah perbatasan."Selain memberi contoh bagaimana seharusnya berolah raga menggunakan sepeda, tentu kami juga memberi contoh perihal tiblantas saat melakukan gowes," ujar I Made Agus Prasatya.

Setelah dua bulan berlangsung, anggota Progo Zebra Cycle Club semakin melebarkan sayap tak hanya sekadar di kota aktivitasnya, Progo Zebra Cycle Club kian melebarkan sayap. Jika pada awalnya rute yang dilalui sekadar di dalam kota, pada perkembangannya melebar hingga ke luar kota. Rute rutin yang biasa dilewati anggota Progo Zebra Cycle Club adalah Mako Ditlantas Polda DIY, Pojok Beteng Kulon, Ring Road Selatan, Bantul, Ring Road Timur, Jombor, Ring Road Barat, Wirobrajan, kembali ke Mako Ditlantas.

Untuk mengukur kemampuan soal kayuh mengayuh sepeda angin ini, anggota Progo Zebra Cycle Club sesekali waktu 'ngegas' sampai ke Kaliurang atau ke sepanjang Selokan Mataram hingga 'Ancol' Ngluwar, Muntilan. Bagi anggota Progo Zebra Cycle Club masalah ketertiban, kepatuhan, dan kesopanan saat bersepeda ke manapun menjadi hal yang tidak bisa ditawar-tawar. Karena itulah, setiap kali melakukan aktivitas bersepeda, seluruh anggota Progo Zebra Cycle Club tidak boleh ugal-ugalan. Untuk menciptakan kondisi seperti itu, Wadir Lantas Polda DIY AKBP Muhammad Iqbal SIK MSi turun langsung mengawasi sekaligus berperan serta dalam setiap acara gowes.

Menurut Muhammad Iqbal, seluruh anggota Progo Zebra Cycle Club harus memberi contoh kepada masyarakat tentang bagaimana melakukan aktivitas gowes yang aman dan nyaman. Jangan sampai para pesepeda mengabaikan aturan lalu lintas, yang nantinya bisa berujung pada terjadinya kecelakaan lalu lintas (laka lantas). Selain itu, setiap pesepeda harus mengukur kemampuan fisik dan tidak boleh memaksakan diri, sehingga nantinya justru mengakibatkan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Selain untuk menjaga kebugaran dan kesehatan, olah raga bersepeda untuk menciptakan kebersamaan (Gowes Bareng Gayeng Sedaya).

Perihal sepeda yang digunakan oleh anggota Progo Zebra Cycle Club, Muhammad Iqbal menyampaikan cukup beragam. Ada yang keluaran baru dan harganya lumayan mahal, tetapi ada juga yang menggunakan sepeda tradisional (Pit Jowo) yang harganya terjangkau. Ditekankan pada anggota Progo Zebra Cycle Club, bersepeda bukan untuk pamer-pameran, melainkan benar-benar untuk oleh raga demi kebugaran dan kesehatan. "Kami ingin menghilangkan kesan bahwa gowes dipergunakan untuk pamer!" tandas Muhammad Iqbal.

Bagi anggota Progo Zebra Cycle Club, gowes juga untuk mendukung kinerja. Anggota Ditlantas Polda DIY dituntut staminanya selalu fit, dengan harapan pada saat menjalankan tugas bisa optimal sesuai harapan masyarakat. Kegiatan olah raga juga dimanfaatkan untuk mengidealkan sosok pelayan dan pengabdi masyarakat, yang lincah dan cekatan. "Jangan sampai polisi lalu lintas kelebihan berat badan, sehingga ketika menjalankan tugas dan kewajibannya kurang cekatan karena 'kabotan awak'," ujar Muhammad Iqbal.

Sampai saat ini, setiap kali melakukan aktivitas gowes seluruh anggota Progo Zebra Cycle Club harus mematuhi protokol kesehatan. Penggunaan masker dan sarung tangan wajib dilakukan, dengan tujuan menghindari persebaran virus korona. Olah raga bersepeda memang bisa meningkatkan imunitas, tetapi masalah 'keganasan' virus korona tetap harus diwaspadai. Saat ini virus korona masih sulit diprediksi kapan akan menghilang.

"Aktif berolahraga perlu untuk menjaga ketahanan tubuh, tetapi harus tetap diwaspadai kemungkinan menyebarnya virus korona," kata Muhammad Iqbal. (Mahar Prastiwi)

Kredit

Bagikan