Ketika Kesabaran Diuji dan Sinergi Komponen Bangsa Dinanti

user
ivan 14 Mei 2020, 12:17 WIB
untitled

MUSLIMIN dan Muslimat yang dirahmati Alloh SWT. Ramadan sering disebut sebagai bulan Sabar. Pada bulan ini ummat muslim dituntut lebih bersabar, tidak hanya sabar menahan makan/minum dan nafsu birahi, tetapi juga harus sabar mengendalikan nafsu syaithoniyyah yang mengajak pada laku mungkar, laku maksiat dan laku lain yang tidak terpuji.

Ramadhan 1441 H kali ini berbeda dengan bulan-bulan Ramadan sebelumnya, di mana ummat Islam di Indonesia khususnya menjalani puasa di tengah krisis multidimensi. Bermula dari dua orang Indonesia yang pertama kali tercatat sebagai penderita covid-19 di awal Maret 2020, masalah kesehatan terus berkembang menjadi krisis dan kedaruratan kesehatan yang penuh misteri. Penderita covid-19 terus bertambah dengan cepat dan dalam sekejap menyebar ke seluruh penjuru tanah air, kota dan desa tidak terkecuali.

Masalah sosial ekonomi mulai terusik ketika kebijakan physical distancing, kerja dari rumah, dll diinisiasi. Ribuan orang mulai dirumahkan dan tidak sedikit yang di-PHK sehingga angka pengangguranpun meningkat dan tak pelak jumlah orang miskin baru menggeliat naik tinggi. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang bertumpu pada pembatasan pergerakan masyarakat secara luas akhirnya diterapkan dengan maksud kedaruratan kesehatan segera teratasi.

Akan tetapi baru berjalan kurang lebih satu bulan, belum efektif menurunkan laju covid-19 di Indonesia mencapai titik rendah yang aman dan terkendali, kebijakan PSBB di Indonesia sudah menghadapi gelombang tuntutan masyarakat untuk direlaksasi (dilonggarkan), karena adanya kedaruratan baru, yaitu kedaruratan sosial ekonomi. Padahal laju covid-19 secara keseluruhan di Indonesia baru melambat, belum mencapai puncaknya, apalagi menurun, dan sangat berpotensi muncul gelombang kedua (second wave) covid-19 jika kebijakan relaksasi PSBB tidak dilakukan secara hati-hati.

Karena itu, saat inilah kesabaran benar-benar sedang diuji dan sinergi dari semua komponen bangsa Indonesia sangat dinanti. Semua dituntut bekerja lebih cerdas, lebih keras, lebih tuntas dan lebih ikhlas lagi. Merujuk pada Kitab Durratun Nasihin tentang Pilar-Pilar kokohnya dunia, saat ini para ulama sangat dinanti nasehat dan bimbingannya, agar ummat tetap sabar dan tabah menghadapi, melakukan upaya yang terbaik dan bertawakkal kepada Yang Maha Suci. Para ilmuwan dituntut untuk berinovasi menemukan piranti dan alternatif solusi yang dapat dipakai untuk mempercepat mengatasi dampak covid-19, krisis multi dimensi.

Para pemimpin dari presiden sampai ketua RT dituntut hadir di tengah-tengah masyarakat, mengembangkan kebijakan, mengatur strategi, mengawal dan memastikan bahwa program penanggulangan covid-19 berjalan lancar, efektif, dan ber-keadilan, tidak menguntungkan satu kelompok dan membiarkan yang lain merugi. Bagi para aghniya (hartawan), masa-masa seperti ini adalah kesempatan emas untuk menginfaq-kan sebagian hartanya berbagi dengan para masyarakat kurang mampu dan miskin baru terdampak covid-19, suatu investasi jangka panjang, modal indah nan berharga untuk kelak menghadap Ilahi.

Peran masyarakat kurang mampu dan masyarakat miskin baru dampak covid-19 tidak kalah penting dalam penanganan krisis multidimensi ini. Tetaplah mematuhi aturan pemerintah yang berlaku, tetap mematuhi protokol kesehatan yang ditetapkan WHO, dan lebih penting lagi tetap berpikir positif, lebih dekat dan terus memohon kepada Alloh Pengatur Alam dan Bumi. Dengan demikian, insya Allah covid-19 dan segala dampak negatifnya yang multidimensi di negeri tercinta ini bisa segera berakhir dengan ridlo Ilahi. Amien YRA. (*)

Prof Dr H Hamam Hadi MS ScD

Rektor Universitas Alma Ata dan Ketua Bidang IPTEK dan Pendidikan Tinggi Korwil ICMI DIY.

Kredit

Bagikan