Mengasah Kepedulian Sosial dan Sistem Kontrol Diri

user
danar 27 April 2020, 10:30 WIB
untitled

PUASA saat ini bersamaan dengan pandemi Covid-19 yang melanda seluruh penghuni planet bumi. Sebagai orang yang beriman, tentu kita harus memandang tragedi ini sebagai sebuah ujian dalam penghambaan diri memenuhi perintah berpuasa dari sang pencipta. Setelah banyak ikhtiar kesehatan kita lakukan, sikap yang perlu dibangun dalam diri kita saat ini adalah ikhlas, sabar, dan tawakal, sehingga hati menjadi bersih dan tenteram, sebuah sikap yang diperlukan sebagai modal untuk memperoleh banyak manfaat dari bulan Ramadan ini.

Telah dikabarkan melalui Alquran surat AlBaqarah ayat 183, bahwa tujuan puasa adalah untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanu wa Ta'ala, sehingga sejak awal kita perlu terus menyadari akan tujuan melaksanakan amal kewajiban ini, agar seluruh rangkaian ibadah di bulan Ramadan dapat diorientasikan ke arah pembentukan pribadi takwa. Siapakah orangorang yang bertakwa itu? Ciri-cirinya dapat ditemui dalam banyak ayat di dalam Alquran, salah satunya terdapat di surat Ali ‘Imran ayat 134 yang menjelaskan orang bertakwa memiliki karakter: (1) suka berinfak di waktu lapang maupun sempit; (2) dapat menahan amarahnya; dan (3) memaafkan kesalahan orang lain. Situasi pandemi virus Corona yang saat ini sedang kita alami tentu memberikan dampak yang sangat besar terhadap seluruh sektor kehidupan manusia dari aspek sosial, politik, budaya, ekonomi sampai dengan aspek-aspek yang bersifat personal, semuanya terpengaruh musibah ini. Dari sektor ekonomi, negara diperkirakan akan mengalami penurunan pertumbuhan dan bahkan sampai bernilai negatif, sektor ketenagakerjaan mengalami masalah besar dengan banyaknya karyawan dunia usaha dan dunia industri yang di-PHK. Demikian pula sektor usaha kecil menengah menjadi stagnan.

Situasi seperti ini tentu menjadikan kita semua merasakan betapa beratnya kehidupan yang harus kita jalani. Namun, sebagai orang yang beriman dan sadar akan tujuan dilaksanakannya puasa, kita perlu mengambil hikmah dengan memanfaatkan momentum bulan Ramadan ini untuk mengasah rasa kepedulian kita terhadap sesama, dengan selalu berinfak untuk kaum du'afa, walaupun keadaan ekonomi sedang sulit. Kita juga telah menerima berita dari Alquran bahwa Allah Swt tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Itu berarti bahwa dalam berinfak, kita sesuaikan dengan kemampuan atau kondisi yang ada, yang penting spirit ‘migunani tumrap liyan’ atau berguna bagi orang lain tetap menjadi semangat yang perlu kita implementasikan di bulan Ramadan ini.

Bulan puasa juga perlu kita manfaatkan sebagai salah satu pusat pelatihan pengendalian diri dari amarah kita. Tidak mudah untuk mengendalikan amarah, apalagi dalam situasi di mana kita memang perlu dan bisa marah. Melalui bulan Ramadan ini kita coba untuk melakukan setting-up jiwa kita agar stimulus-stimulus yang memicu kemarahan kita, dapat dikendalikan sehingga menghasilkan respons jiwa kita yang tenang, jernih dan menyejukkan. Jika hal ini dapat dilakukan di bulan Ramadan, kita berharap Allah nantinya akan menetapkan kita sebagai golongan orang-orang yang bertakwa.

Selanjutnya, Allah Swt di dalam Alquran lebih banyak memerintahkan kepada kita untuk memberikan maaf daripada meminta maaf dari orang lain. Ini menunjukkan bahwa apapun situasinya, kehendak untuk memberikan maaf perlu selalu kita tumbuhkan. Harapan menjadi orang bertakwa dapat kita tempuh melalui pembiasaan diri memberi maaf pada bulan Ramadan sebelum orang lain memintanya. Sehingga dalam urusan maaf memaafkan ini, mestinya jika kita mengirim pesan melalui media sosial dan juga grup-grup messenger, kalimat pertama yang diluncurkan adalah “semua kesalahan anda sudah saya maafkan" baru disusul kata-kata "mohon maaf lahir batin atas kesalahan saya”. Wallahu a’lam. (*)-f

Kredit

Bagikan