Sarana Ujian Ketaqwaan Umat Beriman

user
agung 25 April 2020, 16:05 WIB
untitled

Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, M.P,

Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY)

SALAH satu kebahagiaan umat beriman adalah lulus dari ujian yang diberikan Allah Swt. Keberhasilan dalam melalui ujian dan cobaan menjadikan umat memiliki kualitas keimanan dan ketakwaan yang lebih baik. Sejatinya dalam mengarungi kehidupannya, manusia selalu memiliki cobaan dan barakah yang pada hakekatnya hanya memiliki batas tipis.

Segala apa yang dimiliki manusia, baik kesuksesan, harta dan kekayaan serta semua bentuk kesenangan hidupi adalah berkah bagi manusia yang sekaligus bermakna ujian dan cobaan. Demikian pula sebaliknya, bencana, kemiskinan dan kemalangan adalah bentuk lain dari ujian atau cobaan bagi manusia. Keberkahan atau cobaan adalah metode Allah Swt dalam menguji apakah kita termasuk orang yang beriman yang amanah, ataukah orang beriman yang ingkar kepada Allah.

Keberhasilan melalui ujian ini tentunya Allah akan memasukkan umatNya ke dalam golongan orang yang sabar, tawakal dan ikhlas. Salah satu periode ujian tersebut adalah bulan Ramadan. Kita boleh memiliki bahan pangan, tetapi kita tidak boleh memakannya pada waktu-waktu tertentu, agar kita dapat menyelami suasana bathin orangorang yang kekurangan bahan pangan.

Sarana Ujian Ketaqwaan Umat Beriman

Gunawan Budiyanto

Kita memiliki harta melimpah, tetapi kita tidak diperkenankan menggunakannya untuk membelanjakan secara berlebihan, apalagi membeli kemudharatan, di samping juga kita dipaksa untuk sadar bahwa sebagian dari harta yang kita miliki ada terselip hak-hak anak yatim dan kaum fakir. Zakat adalah tatacara Islam dalam membersihkan harta yang kita miliki dari hak-hak orang lain.

Inti Ramadan adalah ujian keimanan dan ketakwaan sebagaimana firman Allah dalam Al-Baqarah 183: “Hai orangorang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa” Ramadan adalah bulan utama di antara bulan lainnya. Rasulullah Saw suatu hari saat bulan Ramadan datang bersabda: “Ramadan telah datang kepada kalian, bulan yang penuh berkah, pada bulan itu Allah Swt memberikan naungan-Nya kepada kalian.

Dia turunkan Rahmat-Nya, Dia hapuskan kesalahan-kesalahan, dan Dia kabulkan doa. Pada bulan itu Allah Swt akan melihat kalian berpacu melakukan kebaikan. Para malaikat berbangga dengan kalian, dan perlihatkanlah kebaikan diri kalian kepada Allah. Sesungguhnya orang yang celaka adalah orang yang pada bulan itu tidak mendapat rahmat Allah Swt”. (HR. Ath-Thabarani)”.

Menjelang Ramadan 1441H, kita sedang berada dalam masa sulit. Pandemi Covid 19 di samping telah memakan korban lebih dari 500 orang, juga telah menginfeksi lebih dari 1.000 orang. Penyebaran penyakit yang disebabkan oleh transmisi virus antarmanusia, akhirnya menimbulkan kecemasan dan kekhawatiran umat Islam.

Penularan penyakit ini hanya dapat dilaksanakan dengan membatasi hubungan antarmanusia, untuk itu manusia harus berhenti beraktivitas sosial. Cara yang paling efektif adalah mematikan sementara seluruh aktivitas manusia di suatu wilayah (lockdown), sehingga seluruh sendi kehidupan dihentikan dan manusia dipaksa untuk tinggal di rumah.

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang dilaksanakan menjadikan sebagian umat kehilangan pekerjaan dan kesulitan mendapatkan bahan pangan, karena seluruh kegiatan sosial, ekonomi dan pendidikan berhenti. Pendek kata, pada tahun ini umat memasuki bulan suci Ramadan 1441H dalam suasana keprihatinan, tetapi kita sebagai umat beriman selalu percaya bahwa Allah tidak akan pernah menguji suatu kaum di luar kemampuan kaum tersebut.

Karena itu, Ramadan kali ini menjadi begitu istimewa, pada saat kita dilarang untuk berkumpul dan berjamaah, kita tetap harus menjalankan semua rangkaian ibadah Ramadan ini dalam lingkup yang lebih kecil (keluarga). Allah tidak akan pernah tidur, Allah pastilah sangat tahu mana umatnya yang pandai bersyukur dan tetap teguh berniat meningkatkan ketakwaan, barangkali ini Ramadan terakhir buat kita, maka persiapkan se-ikhlas mungkin dengan niat beribadah dan selalu mengabdi kepada Allah Swt. Amin Yaa Rabb. (*)-a

Kredit

Bagikan