Hikmah Ramadan: Pintu Surga Telah Terbuka

user
agus 22 Mei 2019, 15:49 WIB
untitled

Ir Gunawan Budiyanto MP

Rektor UMY

MANUSIA adalah so-sok mahluk yang memilikiunsur fisik  dan  non-fisik. Unsur fisik, membagi manusia menjadi beberapa kelas dan golongan yang lebih banyak didasarkan pada penampilan fisik semata. Sedang unsur non fisik merupakan penggerak dari  dalam yang memunculkan sifat dan kualitas manusia. Semasa hidup, unsur fisik berproses keluar tubuh manusia, dan unsur  nonfisik berproses ke dalam tubuh manusia.

Interaksi unsur fisik dannon fisik inilah yang menyebabkan pengetahuan manusia bisa berkembang. Dengan demikian manusia memiliki cipta, karsa dan karya, sedang hewan tidak memilikinya. Karena itu manusia selalu menuntut adanya peningkatan di segala aspek kehidupan karena manusia memiliki kemampuan pikir, sedang hewan hanya memiliki naluri untuk mempertahankan hidup dan berkembang biak.

Nafsu merupakan dorongan untuk melakukan sesuatu. Manusia maupun hewan memiliki nafsu. Perbedaannya, nafsu manusia bisa menjadi tidak terkendali sehingga dapat mencemari harkat kemanusiaannya. Bahkan malaikat pernah mengkhawatirkan  nafsu manusia yang tidak terkendali ini sebagaimana Al-Baqarah 30 : “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada paramalaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di mukabumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) dibumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”

Tuhan berfirman:“Sesungguhnya Aku mengetahui apayang tidak kamu ketahui”. Ayat ini memang mengisyaratkan bahwa manusia  adalah mahluk yang bisa menjadi tidak terkendali, tamak, rakus dan bersifat ingin menguasai. Sifat jelek manusia ini datang dari persepsi dirinya terhadap kebendaan dan materi dunia lainnya. Atas dasar ini manusia sejatinya membutuhkan suatu sarana dan wahana spiritual guna membersihkan dan meningkatkan kualitas harkat kemanusiaannya. Dalam surat Al Qiyamah 36  ditegaskan bahwa “Apakahmanusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung-jawaban)?. Sehingga dengan demikianu ntuk mengurangi beban tanggung-jawab yang harus dipanggulnya, sebelum mengakhiri hayatnya, manusia harus berusaha untuk bertaubat atas segala nafsunya yang selama ini dibiar-kan berproses menguasai dirinya.

Puasa dan takwa memiliki keterkaitan erat sebagaimana firmanNya dalam Al-Baqarah  183:“Haiorang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu ber-puasa sebagaimana diwa-jibkan atas orang-orang se-belum  kamu, agar  kamubertakwa”.

Puasa adalah sat instrumen ketakwaan seseorang. Ramadan tidaklah hanya dipandang secara fisik, yaitu ikut merasakan  lapar dan dahaga secara bersama-sama yang kemudian menjadi ritual sosial belaka, dan akan berlalu tanpa makna yang berlangsung dari tahun ke tahun. Sudah saatnya Ramadan kita kembalikan kepada fungsi yang sebenarnya. Kewajiban berpuasa sebagaimana dalam Al-Baqarah  183, dijelaskan lebihlanjut dalam surat yang sama, ayat 185 :“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang didalamnya diturunkan Alquran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan menjadi pembeda (antara yang benardan yang bathil). Karena itu, barangsia-pa di antara kamu ada di bulan itu, makaberpuasalah”.

Ramadan  tidaklah sebatas menahan nafsu makan minum dan berhubungan  suami-istri, karena hal ini hanyalah sebagian kecil dari maknanya. Makna terbesar Ramadan adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT. Barangkali karena nafsu yang terlalu besar, manusia tidak lagi dapat membedakan mana yang benar dan manayang  bathil. Ramadan adalah bulan penuh berkah yang disediakan  bagi umatNya yang dikehendakiNya. Ramadan merupakan bulan yang disediakan olehNya  bagi umatNya yang bersyukur dan mau memanfaatkan bulan ini sebagai sarana untuk memper-baiki diri, merekonstruksi kembali pola pikir yang lebih mementingkan materi keduniaan, dan yang terpenting agar kualitas harkat kemanusiaan kita menjadi lebih baik.

Ramadan sejatinya terdiri atas sepuluh hari pertama, yang merupakan ujian ketakwaan bagi manusia. Siapa yang lulus, akan memasuki sepuluh hari kedua, yang penuh dengan ampunan, dan yang terakhir adalah sepuluh (Sembilan) hari terakhir, yang penuh dengan aroma kemenangan iman. Pintu surga telah ter-buka lebar. Lantas apalagi yang kitatunggu? Ataukah bulan Ramadan iniakan kita biarkan berlalu tanpa mak-na....? (*)

Kredit

Bagikan