Tak Sembarangan, Pilot bisa Lakukan 'Return To Base' Jika Mengalami Hal ini

user
tomi 30 Juni 2019, 09:55 WIB
untitled

PESAWAT Tapir Air dengan nomor penerbangan TP 103 tujuan Yogyakarta - Kuala Lumpur mengalami kerusakan mesin. Pilot langsung memutuskan untuk Return To Base (RTB) di Bandara Adisutjipto Yogyakarta, Rabu (26/06/2019) malam.

Saat mendarat pesawat mengalami crash di sektor D-15 dan terhempas sejauh 125 meter. Pesawat membawa 162 penumpang. Terdiri dari delapan crew dan 154 penumpang. Sebanyak 15 penumpang meninggal dunia, 23 luka berat, 31 luka sedang dan 20 luka ringan. Penumpang meninggal dunia langsung ditangani tim DVI Polda DIY. Meski ini hanya mejadi bagian dalam Latihan Penanggulangan Keadaan Darurat (PKD) yang digelar PT Angsaka Pura I (Persero) Bandara Adisutjipto Yogyakarta, namun dalam keadaan darurat, pilot meminta RTB guna mengantisipasi hal tidak dinginkan. Berikut penjelasan singkat mengenai RTB ini.

BACA JUGA :

Tapir Air Terbakar di Bandara Adisutjipto

Seharusnya ke Solo, Cuaca Buruk Lion Air JT 925 Dialihkan ke Surabaya

Dalam dunia penerbangan, dikenal satu istilah yaitu RTB (return to base), di mana suatu pesawat diharuskan untuk kembali ke bandar udara di mana pesawat itu berangkat (setelah mengudara/airborne).  RTB bisa terjadi karena dua faktor, yaitu teknis dan non teknis. Faktor teknis umumnya terjadi karena adanya gangguan pada sistem pesawat seperti mesin, struktur atau mekanisme teknis operasional pesawat yang menyebabkan kemampuan (capability) pesawat dalam melakukan penerbangan berkurang hingga di bawah 50 persen.

Ada beberapa syarat atau prosedur khusus yang harus dipenuhi bagi seorang pilot jika hendak melakukan return to base setelah lepas landas.  Beberapa di antaranya, jarak bandara awal masih dalam radius kurang dari satu jam, cuaca di bandara awal memenuhi syarat untuk pendaratan kembali, berat pesawat sudah memenuhi persyaratan untuk mendarat.  Dan, sudah dilakukan koordinasi yang baik antara pilot dan awak kabin, pilot dan pihak ATC, serta pilot dan pihak perusahaan beserta staf darat di bandara.

Khusus untuk uncontrollable engine fire yang terjadi setelah lepas landas pesawat harus segera mendarat sesegera mungkin di bandara awal. Koordinasi dengan pihak ATC dan pemadam kebakaran di bandara awal harus pula dilakukan. Hal-hal yang menjadi syarat dasar RTB bisa dianulir karena sifat dari uncontrollable engine fire ini sudah masuk kategori yang sangat berbahaya.

Return to base dari sisi  non teknis juga bisa terjadi. Misalnya karena ada penumpang sakit yang membutuhkan penanganan secepat mungkin dan masih dalam radius kurang dari 1 jam dari bandara awal, serta cuaca di bandara awal masih memungkinkan, atau bandara tujuan tutup.

Tak Sembarangan, Pilot bisa Lakukan 'Return To Base' Jika Mengalami Hal ini

Fase Landing Berbahaya

Pesawat terbang adalah moda transportasi yang mengagumkan dibanding mode transportasi darat dan laut. Itu karena sifatnya yang dapat dikatakan melawan hukum alam dengan melawan gaya gravitasi. Karena sifat uniknya ini jugalah maka mode transportasi udara merupakan moda transportasi yang paling berbahaya di antara yang lainnya.

Diantara fase-fase lainnya dalam operasi penerbangan, fase take off dan landing adalah fase paling kritis dan berbahaya dalam operasi penerbangan. Ini diperkuat berdasarkan penelitian Boeing yang dilakukan pada periode 1950-2004 dimana mayoritas kecelakaan terjadi pada tahap take off (sebesar 17 %) dan landing (sebesar 51 %).

Pada kedua tahap itu sangat tergantung pada kesiapan dan kemampuan para pemain utama yaitu pilot dan pengatur lalu lintas udara (Air Traffic Controller/ATC). Berikut ini adalah bahaya-bahaya yang sering terjadi saat take off dan landing. Jauh lebih sering merupakan kombinasi dari beberapa kejadian sekaligus.

Bird Strike

Nampaknya aneh, burung sekecil itu dapat mengakibatkan bahaya bagi pesawat terbang yang berukuran besar. Tapi patut diingat bahwa take off dan landing adalah situasi kritis bahkan bahaya sekecil apapun berakibat fatal.

Sebagai contoh saja tahun 1995, pesawat E-3 Sentry AU Amerika jatuh sesaat setelah take off dari Elmendorf, Anchorage, Alaska. Penyelidikan menunjukan ada ceceran bangkai angsa disekitar landasan tempat kecelakaan. Terbukti bahwa ancaman ini fatal akibatnya dan sanggup menjatuhkan pesawat sebesar sang radar terbang Boeing B707 tersebut.

Engine Failure

Menjadi salah satu point paling penting dalam crew briefing sehingga seluruh awak pesawat selalu waspada dalam menghadapi keadaan terburuk. Jika saat take off terjadi pada kecepatan V1, membatalkan maupun meneruskan take off mempunyai tingkat bahaya yang kurang lebih sama. (*)

Kredit

Bagikan