Hasil UN dan Mutu Pembelajaran di Sekolah

user
ivan 30 April 2018, 17:50 WIB
untitled

HASIL ujian nasional (UN) tingkat SMA/SMK tahun 2018 Insya Allah akan diumumkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Dinas Pendidikan Provinsi, tanggal 3 Mei 2018. Walaupun hasil UN tidak menentukan kelulusan, tetaplah penting untuk melihat dan memaknai hasil UN yang telah dicapai masing-masing peserta didik. Beda dengan tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah pertama yang hasil UN dipergunakan untuk menentukkan seleksi masuk ke sekolah jenjang berikutnya.

Hasil UN SMA/SMK tidak menentukkan apapun. Namun yang sering disampaikan pemerintah adalah untuk pemetaan kualitas pendidikan. Hanya sayang sekolah - sekolah tidak mengetahui hasil pemetaan tersebut dan juga tidak melakukan evaluasi yang mendalam atas capaian hasil UN. Dalam konteks itulah sekolah - sekolah penting untuk memaknai hasil UN ini. Agar yang telah dilakukan dengan biaya yang tidak sedikit bisa bermakna bagi peningkatan mutu pembelajaran di sekolah.

Memaknai Hasil UN

Lalu bagaimana memaknai hasil UN untuk peningkatan mutu pembelajaran di sekolah? Penulis menilai, minimal ada 3 cara untuk memaknai hasil capaian UN. Pertama sekolah dapat melihat rerata hasil UN yang dicapai sekolah, baik secara keseluruhan maupun masing - masing jurusan program studi. Selanjutnya melihat capaian rangking sekolah pada tingkat kabupaten/kota maupun provinsi. Pencermatan ini penting untuk mengukur sejauhmana posisi sekolah secara keseluruhan diantara sekolah lain. Dengan begitu tahun depan dapat menentukan target harus naik ke peringkat berapa atau target untuk mempertahankan rangking jika sudah dianggap memuaskan.

Kedua melihat hasil UN yang didapat oleh siswa dengan membandingkan input nilai ketika masuk ke SMA, dan output nilai (hasil UN) ketika lulus. Mengapa penting memperhatikan dan membandingkan row input dan row output?

Dalam manajemen pembelajaran, keberhasilan itu jika terjadi perubahan akibat proses pendidikan. Membandingkan input nilai dan output nilai sesungguhnya untuk melihat proses pembelajaran selama ini. Logika sederhananya jika ada barang biasa-biasa saja lalu keluarannya menjadi berkualitas tentu kita bisa menyimpulkan bahwa prosesnya pasti baik. Sebaliknya jika ada barang setelah diproses keluarannya tidak lebih baik tentu kesimpulan kita barang tersebut diproses tidak baik.

Begitu juga dengan proses pendidikan yang terjadi di sekolah bisa kita lihat peningkatannya melalui indikator perbandingan nilai masuk dengan nilai ke luar. Jika berbandingan tersebut naik, itu artinya proses pembelajaran sudah on the track dan perlu dipertahankan bahkan ditingkatkan. Begitu juga jika turun. Dengan tahu perbandingan tersebut maka proses yang selama ini dijalankan akan dapat dievaluasi secara tepat.

Ketiga, melihat hasil UN harus juga dibandingkan hasil dari tahun ke tahun. Hal ini penting untuk melihat adakah peningkatan setiap tahun? Dalam ajaran agama jika hari ini lebih baik dari kemarin itulah orang beruntung. Tetapi jika hari ini sama dengan kemarin itulah orang yang merugi dan jika hari ini lebih buruk dari hari kemarin itulah orang yang celaka. Membandingkan hasil UN dari tahun ke tahun dapat menentukan target pencapaian nilai di tahun yang akan datang, beserta langkah - langkah untuk mencapai target tersebut.

Pemaknaan UN seperti di atas penting untuk dilakukan. Sekali lagi UN saat ini bukanlah penentuan kelulusan, jika tidak dilakukan pemaknaan untuk peningkatan proses pembelajaran tentu UN menjadi kegiatan yang mubazir.

Harapan

Pelaksanaan UN tentu membutuhkan dana besar miliaran rupiah. Begitu juga sekolah mengeluarkan dana yang tidak sedikit dan harapan kita ada dampak bagi proses pembelajaran di sekolah. Selama ini alasan yang selalu dipakai pemerintah untuk tetap melaksanakan UN adalah pemetaan sekolah sebagai landasan untuk menentukan kebijakan dan program.

Hanya sayang pemetaan dan kebijakan berdasarkan hasil UN belum dirasakan sekolah - sekolah. Semoga ke depan dengan model UN sekarang ada terobosan sehingga kebermanfaatannya dirasakan oleh sekolah. Jika tidak mungkin ada baiknya UN dihapuskan saja.

(Arif Jamali Muis. Guru Matematika SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta, dan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Senin 30 Mei 2018)

Kredit

Bagikan