Buruh Sebagai Target Utama CSR

user
ivan 30 April 2018, 16:59 WIB
untitled

SEJAK kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Hari Buruh Internasional 1 Mei ditetapkan sebagai hari libur nasional. Selain untuk menghormati peran juga eksistensi buruh. Dan penetapan libur nasional dimaksudkan juga untuk memberikan kesempatan buruh berkumpul dan menyuarakan aspirasinya, tanpa harus mengganggu aktivitas kerja buruh itu sendiri dan masyarakat pada umumnya.

Biasanya, ada dua tuntutan utama yang disampaikan oleh buruh pada saat demonstrasi yang dilakukan setiap tanggal 1 Mei. Pertama, tuntutan untuk meningkatkan tingkat upah minimum. Kedua, tuntutan untuk menghapus sistem outsourcing. Pada saat ini, tuntutan yang disampaikan memiliki potensi untuk berkembang, utamanya karena isu masuknya buruh asing ke Indonesia. Potensi berkembangnya tuntutan buruh ini merupakan reaksi dari berbagai skema yang berdampak pada perpindahan tenaga kerja antarnegara, misalnya adalah skema Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dan skema yang diatur dalam Perpres No 20 tahun 2018 tentang Tenaga Kerja Asing (TKA).

Kekhawatiran Buruh

Perlu kita pahami bersama bahwa demonstrasi buruh yang selalu terjadi, utamanya pada setiap tanggal 1 Mei, kemungkinan besar disebabkan adanya kekhawatiran buruh terhadap nasib dan masa depan mereka. Rendahnya tingkat upah minimum, misalnya, berdampak pada kecemasan buruh terhadap kemampuan mereka untuk membiayai biaya hidup yang semakin tinggi. Sistem outsourcing yang membuat buruh tidak memiliki pekerjaan permanen tentu saja juga menjadikan momok. Tidak memiliki pekerjaan permanen berarti tidak memiliki masa depan dan penghidupan di hari tua yang jelas.

Di mata buruh di Indonesia, potensi masuknya buruh asing menambah kompleksitas masalah yang ada. Buruh Indonesia harus bersaing dengan buruh asing di negaranya sendiri. Akibatnya, buruh yang tidak memiliki kemampuan dan keterampilan yang cukup kemungkinan bisa diberhentikan dari tempat kerjanya.

Data dari Kementerian Tenaga Kerja menunjukkan bahwa jumlah TKA hingga saat ini mencapai 126 ribu. Ironisnya, mayoritas TKA tersebut berasal dari China, bukan dari negara anggota ASEAN. Yang sebetulnya justru memiliki kesepakatan formal untuk meningkatkan perpindahan buruh antar negara dalam rangka meningkatkan perekonomian di wilayah Asia Tenggara.

Peran Perusahaan

Di tengah keruwetan perburuhan di Indonesia, peran perusahaan untuk menyejukkan suasana sangat diperlukan. Peran perusahaan yang bisa dilakukan antara lain adalah menempatkan buruh sebagai target utama aktivitas Corporate Social Responsibility (CSR). Artinya, buruh menjadi prioritas utama penerima kegiatan CSR sebelum kegiatan tersebut diarahkan ke pemangku kepentingan eksternal seperti masyarakat dan konsumen. Aktivitas CSR untuk buruh misalnya dapat dilakukan dengan memberikan sebagian beasiswa yang biasanya diberikan kepada warga sekitar kepada keluarga karyawan. Jaminan kesehatan dan keselamatan kerja bagi karyawan bisa juga ditingkatkan. Buruh diikutsertakan dalam berbagai pelatihan untuk meningkatkan keterampilan.

Bila perusahaan memiliki keterbatasan keuangan, perusahaan bisa juga memberikan fasilitas non keuangan kepada buruh dalam berbagai skema CSR-nya. Misalnya, buruh dilibatkan dalam berbagai tim yang bertugas mengawasi dan memberi masukan terhadap program kesehatan dan keselamatan kerja. Birokrasi untuk berkomunikasi antara karyawan tingkat bawah dan manajemen bisa juga dibuat lebih longgar.

CSR seringkali diartikan sempit, yaitu hanya sebatas terhadap lingkungan atau hanya sekedar memberikan donasi kepada masyarakat sekitar. Padahal, konsep CSR sebenarnya juga mencakup tanggung jawab sosial perusahaan terhadap buruh. Buruh sebagai pemangku kepentingan internal perusahaan yang notabene memerlukan ‘kasih sayang sosial’ malah sering dilupakan perusahaan.

Beberapa pakar CSR di dunia berpendapat bahwa buruh merupakan stakeholder penting yang harus dijamin kehidupan sosialnya terlebih dahulu melalui program CSR sebelum perusahaaan melakukan program CSR terhadap stakeholder eksternal seperti warga masyarakat. Dengan adanya CSR yang baik terhadap buruh, tentu buruh akan lebih loyal dan produktif. Sehingga keharmonisan hubungan antara perusahaan dan buruh bisa tercapai.

(Fitra Roman Cahaya SE MCom PhD CSRS. Dosen Program Studi Akuntansi dan Pascasarjana di Fakultas Ekonomi, Universitas Islam Indonesia. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Senin 30 Mei 2018)

Kredit

Bagikan