Tiga Gejala Depresi yang Perlu Anda Waspadai

user
danar 15 November 2019, 21:50 WIB
untitled

BANYAK orang yang sebenarnya sedang mengalami depresi, tapi tidak menyadarinya. Hal itu mungkin terjadi karena kurangnya pemahaman bahwa gejala depresi tidak hanya sebatas rasa sedih yang mendalam.

Gejala depresi bisa dikenali secara psikologis, fisik, bahkan dalam interaksi sosial. Selain tampak sedih, seseorang yang mengalami depresi dapat mengalami kesulitan tidur, perubahan pola makan, hingga gangguan sosial seperti menarik diri.

Memahami Gejala Depresi dari Berbagai Aspek

Berikut ini adalah gejala depresi ditinjau dari berbagai aspek yang memengaruhi kehidupan seseorang:

Gejala Psikologis

Secara garis besar depresi dapat dikenali melalui perubahan psikologis seseorang. Jika saat ini Anda merasakan hal-hal berikut, bisa jadi Anda sedang mengalami depresi.

Perasaan sedih yang mendalam

Cemas dan khawatir terus-menerus

Kehilangan minat dan motivasi hidup

Menyalahkan diri sendiri atas masalah atau kejadian yang dihadapi

Putus asa, merasa rendah diri, dan pesimis secara berkepanjangan.

Pada tingkatan yang parah, orang dengan depresi memiliki kecenderungan untuk menyakiti diri sendiri, bahkan muncul keinginan untuk bunuh diri.

Gejala Fisik

Penderita depresi juga dapat mengalami perubahan fisik, yang dapat ditandai dengan beberapa gejala berikut.

Adanya perubahan nafsu makan, bisa menurun atau meningkat, sehingga memengaruhi berat badan

Mengalami gangguan tidur, misalnya sulit tidur dan/atau sering terbangun dari tidur

Bergerak dan berbicara lebih lambat daripada biasanya

Merasa sakit, tetapi tidak jelas sakit apa dan di bagian mana

Perubahan siklus menstruasi

Menurunnya gairah seks

Mudah lelah

Sering mengalami masalah pencernaan, seperti sakit maag atau sembelit.

Gejala Sosial

Selain gejala dari aspek psikologis dan fisik di atas, gejala depresi juga dapat dikenali dari interaksi sosial penderitanya. Berikut ciri-ciri gejala depresi dari aspek sosial.

Mengalami kesulitan membina hubungan dengan lingkungan sekitar, baik dalam lingkungan keluarga, teman, maupun rumah tangga

Menyendiri, menghindari kontak sosial dengan orang-orang di sekitar

Mengalami kesulitan menyelesaikan pekerjaan

Mudah marah dan tersinggung

Tidak peduli lagi pada hobi dan minat yang sebelumnya terasa menarik.

Depresi tidak hanya dialami oleh orang dewasa atau lanjut usia (lansia) saja, anak-anak dan remaja pun dapat mengalami depresi. Oleh karena itu, penting juga mewaspadai gejala depresi yang dirasakan oleh anak-anak dan remaja.

Gejala depresi pada anak biasanya dikenali dari sikapnya yang mudah marah, sedih berkepanjangan, tidak mau pergi ke sekolah, serta berat badan di bawah normal. Sedangkan remaja yang mengalami depresi juga biasanya ditandai dengan memiliki emosi yang meluap-luap, kurangnya keinginan berinteraksi bersama keluarga, dan prestasi sekolah yang memburuk.

Cara Menangani Gejala Depresi

Gejala depresi memang tidak selalu sama antara satu orang dengan yang lain, begitu pula dengan penanganannya. Secara umum penanganan depresi bisa dilakukan melalui obat-obatan, psikoterapi, atau kombinasi dari keduanya.

Penanganan dengan obat-obatan sangat baik dalam mengurangi gejala depresi, terutama dari aspek fisik, sedangkan gejala depresi dari aspek psikologis dan sosial dapat ditangani lebih dalam melalui psikoterapi. Berikut ini beberapa jenis terapi yang dapat diberikan melalui psikoterapi:

Terapi kognitif dan perilaku

Terapi kemampuan sosial

Terapi pemecahan masalah (problem solving)

Terapi interpersonal

Terapi psikodinamika.

Jika Anda mengenali gejala depresi pada diri Anda atau seseorang di sekitar Anda, jangan biarkan kondisi ini terjadi berlarut-larut. Coba ceritakan permasalahan ini pada kerabat yang Anda percaya, sebab dukungan dari keluarga dan sahabat memegang peranan penting bagi pemulihan penderita depresi.

Bila perlu kunjungi psikolog atau psikiater untuk mendapatkan penanganan yang aman dan tepat. Psikolog dan psikiater dapat membantu Anda menemukan cara terbaik untuk menghadapi penyebab depresi yang dialami. Tujuannya bukan hanya untuk mengobati depresi, tapi juga untuk memperbaiki kesehatan Anda dalam jangka panjang.(*)

Kredit

Bagikan