Mengenal Daging untuk Kesehatan

user
agus 09 Juli 2022, 19:44 WIB
untitled

DAGING merupakan sumber protein paling digemari oleh sebagian besar masyarakat dunia karena rasanya yang enak. Tetapi perlu diingat terlalu banyak makan daging juga menjadikan tubuh tidak sehat. Ada beberapa jenis daging antara lain daging putih yang bersumber pada daging unggas dan ikan serta daging merah yang bersumber di antaranya pada sapi, kambing, kerbau. Disebut daging merah karena daging sapi, kambing, dan kerbau memiliki pigmen warna merah. Meski daging merah telah terbukti mempunyai tingkat kolesterol serta lemak jenuh yang lebih tinggi dibandingkan daging putih, tapi tidak membuat daging merah kehilangan penggemarnya. Sebab , masalah kesehatan hanya akan terjadi apabila mengkonsumsi daging tersebut secara berlebihan atau tidak diimbangi dengan zat gizi lain yang bersumber dari sayuran dan buah-buahan.

Saat ini, di hari raya Idhul Adha, banyak sekali orang mengkonsumsi daging baik itu daging kambing , maupun daging sapi, untuk itu mari kita kenali apa kandungan dari daging sapi maupun daging kambing.

Di Indonesia, daging sapi biasanya diolah menjadi berbagai sajian makanan seperti rendang, gule, sop buntut, rawon, soto betawi, krengsengan, empal goreng, sate, bakso, dan lain-lain. Tetapi sebagian besar belum mengetahui apa kandungan zat gizi yang terdapat pada daging sapi. Dalam 100 gram daging sapi mengandung energi sebesar 250 kilokalori, lemak 15 gram, lemak jenuh 6 gram, lemak trans 1,1 gram, protein 26 gram, kalsium 18 miligram, Zat besi 2,6 miligram. Vitamin D 7 IU.

Sedangkan daging kambing memiliki beberapa perbedaan yang cukup terlihat, karena tekstur daging kambing lebih kasar, warnanya lebih merah dan baunya lebih apek dibandingkan dengan daging sapi, lebih alot ketika diolah menjadi sebuah masakan sehingga masyarakat cenderung mengolah daging kambing menjadi sajian menu seperti sate, gule, tongseng. Dalam 100 gram daging kambing mengandung energi sebesar 143 kilokalori,protein 16,6 gram, lemak 21 gram, lemak jenuh 9 gram, kalsium 11 miligram, fosfor 124 miligram, zat besi 1 miligram, Vitamin B1 0,09 miligram.

Kalau dilihat kedua daging baik daging sapi maupun daging kambing, memiliki nilai energi yang cukup tinggi yaitu sebesar 250 kilo kalori untuk daging sapi dan 143 kilo kalori untuk daging kambing per 100 gramnya dan nilai energi tersebut lebih tinggi dibandingkan nilai energi dari beras sebesar 129 per 100 gramnya. Apabila konsumsi daging yang berlebihan dan dilakukan secara terus menerus tentunya akan menumpuk energi yang berlebihan pula didalam tubuh dan akan memiliki dampak kelebihan berat badan.

Daging sapi memiliki kandungan protein sebesar 26 gram dan ini lebih tinggi dibandingkan kandungan protein yang terdapat pada daging kambing yaitu sebesar 16,6 gram, sehingga daging sapi lebih baik digunakan sebagai sumber protein hewani dibandingkan daging kambing.Protein memiliki peranan sangat penting untuk memperbaiki dan membangun jaringan, produksi antibodi serta menguatkan sistem imun tubuh manusia sehingga tidak mudah sakit. Protein juga dapat menyusun sekitar 40 persen tubuh kita yang menyebar di bagian otot pada organ, tulang, dan sebagainya.

Dalam 100 gram daging sapi mengandung lemak jenuh sebesar 6 gram (33,33%) dari 15 gram total lemak, sedangkan pada daging kambing mengandung lemak total lebih tinggi dibandingkan dengan daging sapi yaitu sebesar 21 gram dan 9 gram (42,85%) diantaranya adalah jenis lemak jenuh. Menurut Depkes bahwa anjuran dikonsumsi lemak jenuh sebanyak 10% dari kebutuhan kalori tubuh. Contoh misalnya pada orang dewasa kebutuhan energinya sebanyak 2700 kalori maka boleh mengkonsumsi lemak jenuh sebanyak 270 kalori atau 30 gram. Jadi kira-kira batas maksimal konsumsi daging kambing sehari yang diperbolehkan sebanyak 300 gram atau 3 ons dan untuk daging sapi sebanyak 500 gram atau 5 ons.

Asupan lemak jenuh ada korelasinya dengan peningkatan kadar kolesterol LDL di dalam darah. Kolesterol LDL sering disebut kolesterol jahat karena sangat mudah untuk mengendap di dalam pembuluh darah. Hasil penelitian konsumsi lemak terutama lemak jenuh, akan berpengaruh terhadap kadar Low Density Lipoprotein (LDL) yang menyebabkan darah mudah menggumpal, selain itu lemak jenuh dan mampu merusak dinding pembuluh darah arteri sehingga menyebabkan penyempitan pembuluh darah baik pada jantung maupun otak, yang membuat orang mudah lupa dan terkadang kesulitan dalam mengambil tindakan dan keputusan.

Studi epidemiologi, membuktikan bahwa terdapat hubungan positif yang bermakna antara konsumsi lemak jenuh terhadap peningkatan kadar kolesterol . Hasil penelitian lain juga menunjukkan bahwa asupan asam lemak jenuh akan mempengaruhi penurunan kadar kolesterol HDL yang biasanya disebut dengan kolesterol baik karena tidak mudah mengendap didalam pembuluh darah dengan cara mengahambat kerja enzim LCAT dari jaringan sehingga terjadi penurunan pembentukan Apolipoprotein A-1 yang mengakibatkan terhambatnya pembentukan kolesterol HDL.

Nah, bagaimana sebaiknya mengkonsumsi daging merah yang sehat. Pertama konsumsi daging baik sapi maupun kambing dengan memilih daging yang tidak banyak lemak/gajih, karena lemak/gajih merupakan sumber lemak jenuh yang bisa menyebabkan tubuh menjadi tidak sehat, kedua pilih cara masak yang tepat yaitu dengan memasak sampai matang dan tidak banyak menggunakan minyak, artinya bahwa memasak daging sebaiknya tidak di goreng karena kalau digoreng akan menyerap minyak sehingga menambah lemak pada daging tersebut. Ketiga tidak dimasak di atas api/ dibakar, menurut Gang Liu dari Harvard T.H Chan School of Public Health menjelaskan bahwa daging yang dibakar dalam suhu tinggi dapat menyebabkan kanker karena ketika daging dibakar diatas api akan merusak struktur protein dan akan dapat bereaksi dengan membentuk senyawa karsinogenik yang menyebabkan kanker. Mekanisme karsinogen menjadi penyebab kanker dengan cara mengubah asam deoksiribonukleat dalam sel-sel tubuh, sehingga akan mengganggu proses-proses biologis. Senyawa inilah yang dapat merusak komposisi DNA dalam gen, sehingga dapat memicu perkembangan sel kanker. Selain itu proses pembakaran juga akan menyebabkan terbentuknya AGE (advanced glycation end products) yaitu senyawa berbahaya yang terbentuk ketika protein/lemak bergabung dengan gula di aliran darah, AGE bisa berakumulasi di dalam tubuh dan mengganggu fungsi sel-sel normal dan berkontribusi terhadap kekakuan, peradangan, dan stres oksidatif pada pembuluh darah dan miokard (sel-sel otot pada jantung).

Hasil penelitian lain yang dilakukan tim dari American Heart Association dengan melibatkan ribuan pria dan wanita. Mereka diminta untuk mencantumkan kebiasaan mengonsumsi daging merah dan daging putih seperti daging ikan atau daging ayam setiap hari. Hasilnya menunjukkan , partisipan yang mengkonsumsi daging merah dibakar lebih dari 15 kali dalam sebulan 17% mengalami peningkatan tekanan darah . Selain karena proses pengolahan yang tidak tepat, seringkali menambahkan garam atau bumbu-bumbu lainnya ke dalam daging bakar dalam jumlah yang banyak.

Untuk mengurangi pembentukan senyawa tersebut, dapat dilakukan dengan cara merendam daging dalam bumbu tradisional dan alami serta menghindari memasak daging dalam waktu lama pada suhu tinggi. Proses pemasakan disarankan dengan cara direbus supaya daging matang sempurna dan mengurangi proses dibakar karena memasak daging dengan dibakar juga tidak sepenuhnya membuat daging matang dengan sempurna. Hal ini dapat menimbulkan potensi cacing atau larva/telur cacing yang masih hidup di dalam daging tersebut.

Konsumsi serat yang cukup dari sayur dan buah karena serat berperan menangkap gula, kolesterol, dan lemak yang berlebih untuk dapat dikeluarkan bersama dengan zat sisa makanan lainnya sehingga akan mengurangi potensi bahaya konsumsi daging dan tubuh tetap sehat. ***

Mengenal Daging untuk Kesehatan

Oleh : Dr. Sufiati Bintanah SKM MSi

Pusat Studi Gizi dan Pangan Halal Universitas Muhammadiyah Semarang

Kredit

Bagikan