IARC dan WHO Nyatakan BPA Tak Menyebabkan Kanker

user
Danar W 16 September 2022, 08:50 WIB
untitled

Krjogja.com - JAKARTA - Hingga saat ini, IARC, badan Riset Kanker di bawah WHO tidak mengkategorikan BPA sebagai zat yang menimbulkan kanker (karsinogenik). Karena menurut Otoritas Keamanan Pangan Amerika Serikat (FDA), IARC masih mengkategorikan BPA masuk di grup 3 (tidak termasuk zat karsinogenik), namun acetaldehyde yaitu zat yang digunakan dalam pembuatan plastik PET, justru masuk ke grup 2B (berpotensi karsinogenik).‎

"The United States Food and Drug Administration (FDA) menyatakan upaya produsen bisa dibuat menjadi sangat rendah dan mungkin bisa sampai ke level tidak terdeteksi," kata dosen sekaligus Peneliti Senior dari IPB‎, Dr Nugraha Edi Suyatma dalam keterangan persnya yang diterima KR di Yogyakarta, Kamis (15/9/2022).

Seperti diketahui, IARC mengklasifikasikan karsinogenik ini dalam 4 grup. Kelompok 1, karsinogenik untuk manusia. Kelompok 2A, kemungkinan besar karsinogenik untuk manusia. Kelompok 2B, dicurigai berpotensi karsinogenik untuk manusia. Kelompok 3, tidak termasuk karsinogenik pada manusia. Kelompok 4, kemungkinan besar tidak karsinogenik untuk manusia.

Nugraha menyatakan, otoritas Keamanan Makanan Eropa atau European Food Safety Authority (EFSA) menyatakan hingga saat ini BPA tidak menimbulkan risiko terhadap kesehatan manusia. Karena paparannya selama ini masih sangat rendah atau masih dibawah ambang batas yang dapat ditoleransi tubuh manusia. Oleh karena itu EFSA memperbolehkan plastik polikarbonat untuk digunakan sebagai kemasan makanan minuman.

Peneliti di Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan dan Seafast Center IPB itu mengemukakan, rencana pelabelan BPA akan menimbulkan mispersepsi pada konsumen, seolah kemasan plastik lain di luar polikarbonat terkesan aman. Padahal BPA ada dimana-mana tidak hanya di galon polikarbonat, ada di kemasan kaleng, bahkan di botol bayi, itu juga harus dilabeli semua. Kandungan BPA justru terbanyak ada pada kemasan makanan kaleng, dengan hampir 90 persen bahan enamel pada kaleng merupakan hasil polesan epoksi yang bahan bakunya adalah BPA. Upaya menetapkan aturan label BPA menurutnya seperti membuat persepsi bahwa kemasan dengan label BPA free sudah aman.

"Padahal belum tentu. Karena dari PET juga memiliki risiko dari kandungan yang lain, seperti dari kandungan acetaldehyde lalu etilen glikol, dan dietilen glikol. Acetaldehyde sendiri telah diakui mengandung unsur karsinogenik (pemicu kanker)‎," paparnya.

Karenanya, Nugraha mempertanyakan apakah wacana pelabelan BPA pada kemasan Polikarbonat memang benar-benar memberikan efek yang positif atau justru akan semakin membuat bingung masyarakat. Karena, dia melihat ada pasal-pasal dari revisi peraturan terkait pelabelan BPA ini yang sudah menjadikan wacana tersebut menjadi sangat heboh di masyarakat.

Dr Nugraha juga menyampaikan kekhawatirannya jika rencana pelabelan ini tetap dilanjutkan, akan muncul praduga dari masyarakat bahwa BPOM mendukung salah satu pihak atau salah satu brand. ‎

Sedangkan anggota DPR Komisi IX dari Fraksi PDIP Rachmat Handoyo menyatakan, rencana Badan Pengawas Obat dan Makanan untuk merevisi Peraturan BPOM Nomor 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan, khususnya pelabelan Biosphenol-A (BPA) pada Air Kemasan Galon, tidak ada urgensinya bagi rakyat.

Hal ini juga diperkuat juga oleh dokter spesialis kandungan yang juga Ketua Pokja Infeksi Saluran Reproduksi Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), Dr M Alamsyah Aziz, SpOG (K), MKes KIC, mengatakan, sampai saat ini tidak pernah menemukan adanya gangguan terhadap janin karena ibu mengkonsumsi air mineral kemasan galon. Karenanya, dia meminta para ibu hamil agar tidak khawatir mengkonsumsi air minum dalam kemasan galon guna ulang, karena aman sekali dan tidak berbahaya terhadap ibu maupun janin.

"Sampai saat ini, BPA yang ditemukan di dalam air akibat luruhan dari kemasannya itu sangat rendah sekali. Masih dalam batas ambang aman, baik itu yang sudah dikeluarkan BPOM dan WHO. Data-data yang kita temukan, 1.000 kali lebih aman dibanding batas ambang yang sudah ditentukan. Jadi, jangan khawatir untuk mengonsumsi air dari galon guna ulang,” katanya. (Ria)

Kredit

Bagikan